oleh

5 Anjuran di Tahun 2019

-Nasional-266 views

Rupanya sudah tahun 2019. Padahal tahun kemarin masih 2018. Bayangkan, tahun depan sudah tahun 2020. Betapa begitu cepat waktu berlalu. Mungkin ada yang kaget kok tiba-tiba kedua kakinya sudah menginjak halaman 2019, sementara pikirannya masih terperangkap di tahun lalu. Bahkan mungkin masih bersemayam dalam kenangan yang tak habis-habis. Begini ini kalau selalu hidup dalam kenangan.

Sudahlah guys… Kenangan itu seperti surat cinta yang harus disimpan di dalam kotak kecil untuk sesekali dilihat. Paling tidak sebagai cermin, bahwa kita pernah punya cinta di masa lalu. Hihi…

Lagi pula, gagal di masa lalu bukan berarti sedang memasuki kesuraman masa kini, apalagi kegelapan masa depan. Tenanglah… Hidup jangan dibuat berat. Apalagi kalau sengaja memikul besi, baja, batu. Jangan. Apa-apa yang belum tercapai di tahun 2018 jangan membuat diri jadi merasa hina-dina, lalu berpikir untuk terjun ke dalam genangan air sehabis turun hujan. Memang tidak akan mati jika genangannya hanya setinggi mata kaki. Tapi itu akan membuat diri teridentifikasi sebagai manusia rapuh di mata masa depan. Meski masa depan tetap menerima manusia dari berbagai jenis, golongan dan latar belakang, tapi ia juga tidak sembarang menganugerahi manusia-manusia itu dengan kecerahan. Seperti ikut seleksi sepakbola, yang memiliki track record jelas, mentereng, konsisten dan berdarah-darah, akan sangat mungkin masuk tim utama.

Jadi, apa pun yang sudah terjadi di tahun sebelumnya, kalian harus tetap melangkah ke depan. Sebab melangkah ke belakang namanya mundur. Sedang mundur satu langkah saja adalah sebentuk pengkhianatan kejam pada diri. Kepada diri sendiri saja khianat apalagi kepada orang lain. Bahaya. Orang yang berpotensi besar mengkhianati kita bukanlah orang lain, tapi diri kita sendiri. Sebab, kitalah yang paling tahu diri kita yang sebenarnya.

Tapi, sudahlah! Mari rayakan datangnya tahun 2019 dengan suka cita,dengan sebotol bir di tangan kanan dan es nutrisasi susu di tangan kiri, sembari membaca daftar beberapa hal di bawah ini yang sangat mungkin untuk dilakukan.

1. Lulus

Lulus kuliah penting lho. Siapa bilang sertifikat kelulusan hanya bukti bahwa kita pernah kuliah. Tidak. Itu sangat penting. Terutama kalau kau termasuk orang yang ingin meraih masa depan yang gemilang. Emang masa depan gemilang dapat diraih hanya dengan selembar sertifikat, apalagi kalau sertifikatnya dicetak pada kertas A4 70 gram—ada yang lebih tipis dari itu nggak? Ya nggak bakalan lah broh, kecuali kau kuliah di universitas mentereng lalu menghadapi masa depan dengan hanya bermodal nama besar kampus.Seperti mau masuk kuliah bermodal nama artis terkenal yang disandangnya, sedang SMA saja tidak lulus.Bertindak oportunis begitu sah-sah saja, toh lembaga pendidikan juga kerap melakukan hal yang lebih kejam kok.

Karenanya, bagi yang saat ini sedang berjuang dengan tugas akhir dan tidak mendapat ACC dari dosen pembimbing meski sudah bolak-balik masuk ke ruangannya, bersabar dan terus berjuang. Jangan lupa berdoa dan membawakan dosen pembimbingnya roti kesukaan, karena kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Pastikan kalian bukan air susu yang dibalas air tuba.

2. Menikah

Menikah memang tidak harus menunggu lulus kuliah. Banyak kok yang pergi ke pelaminan tanpa harus lebih dulu mengenakan toga saat wisuda. Apa sih pentingnya toga kalau cinta sudah bisa memberikan segalanya, bayi mungil, misalnya, yang bisa setiap saat kau timang, ajak bicara dan bercanda. Itu lebih menggemaskan dari sekadar menerima ijazah di atas podium. Bahkan tidak sedikit yang tinggal menyelesaikan tugas akhir memilih untuk menikah. Kebelet kali ya. Tapi tidak apa-apa. Itu pilihan. Menikah adalah upaya menyempurnakan iman—kalau bukan usaha memperoleh sertifikat halal untuk mengeksplorasi seksualitas. Jadi, bagi kalian yang sudah mapan atau merasa mapan, segeralah menikah. Menikah sekali untuk dibawa sampai mati.

3. Punya Pacar

Ini hanya berlaku bagi yang masih jomblo, atau single bagi yang idealis. Single atau jomblo, apa pun itu, kalau kau tidak ingin kelihatan kesepian dan karena itu diejek terus-menerus oleh kawan-kawanmu yang sudah menikah karena menghabiskan tahun baru sendiri, ke mana-mana tidak ada yang dibonceng, ngopinya hanya dengan cowok-cowok, main ke tetangga ketika lebaran hanya membawa tubuh sendiri, segera punya pacar. Habis itu, pamerkan di berbagai sudut media sosial biar kau tidak kelihatan jomblo lagi. Biar semua dunia tahu, kau juga layak mencintai dan dicintai. Tak perlu malu untuk memberitahu dunia siapa pacar kalian, karena sebentar lagi, barangkali, pemerintah akan menyediakan sebuah festival bergengsi sejagad raya: festival pamer pacar.

Yang demikian hanya berlaku bagi para jomblo yang mengikuti madzhab boleh berpacaran. Kalau kau bagian dari kelompok yang meyakini bahwa pacaran haram bagi manusia siang, kalau kebetulan sudah kebelet ingin ada yang mendampingi ketika pergi ke mana-mana, segera lakukan taaruf, karena, katanya, bumi sudah semakin keropos.Setelah itu, silakan berlomba di media sosial.

Kalau sudah taaruf, taarufnya pun jangan lama-lama. Paling tidak, tiga bulan setelah taaruf kau sudah harus mendirikan tenda pernikahan. Ngapain juga taaruf kalau menikahnya masih dua tahun lagi. Lagi pula, taaruf bukan berarti halal merangkul dan mencium pasangan. Haha. Tapi tidak apa-apa. Itu juga termasuk pilihan masing-masing orang. Mau punya pacar, tunangan atau istri tidak berpengaruh kok kepada mimin. Hidup harus terus berlanjut guys…

4. Mengejar Matahari

Matahari pagi sangat bermanfaat bagi tubuh. Selain memproduksi vitamin D, terpaan sinar matahari pagi juga dapat memperbaiki mood. Mengejar matahari pagi lalu membiarkan tubuh menerima sinarnya dapat memperbaiki suasana hati menjadi bahagia dan tenang, apalagi jika malamnya kalian sempat bertengkar dengan pasangan sampai-sampai pasangan kalian minta turun di jalan. Sempatkan diri untuk bangun pagi, berjemur di bawah matahari paling tidak lima sampai lima belas menit. Kalian bisa melakukannya sambil melihat orang-orang yang sedang pergi ke pasar, atau kalau sekalian mau bernilai ibadah, lakukanlah sambil membantu tukang becak mengayuh becaknya, atau membantu orang tua menyapu halaman, hitung-hitung ada tetangga lewat sehingga kalian dipandang mampu menjadi menantu yang baik. Manjur nggak?

5. Membaca

Jika tubuh butuh makanan untuk tetap bisa berdiri tegak di atas bumi, maka otak juga butuh gizi untuk tetap sehat dan waras. Sekelam apa pun tahun-tahun yang dilalui, membaca tetap menjadi aktivitas yang sangat penting dilakukan, agar kepala tidak sekecil sedotan es teh.

Membaca bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang ingin menjadi dosen, guru, atau tenaga pengajar lainnya. Toh mereka yang berkutat dengan lembaga pendidikan belum tentusering-sering membaca, apalagi menjadikan membaca sebagai aktivitas wajib. Pantas kalau masuk ke kelas murid atau mahasiswa kerap merasa bosan karena fasilitatornya tidak membawa hal-hal baru—beruntung sekali kalau tidak membawa masalah rumah tangga.

Apa pun profesi yang digeluti, membaca adalah makanan bergizi otak. Kalau tidak diberi makanan bergizi ya otak akan sakit: mudah mengkafir-kafirkan orang, menuduh ini dan itu, menolak pandangan orang lain, tidak terbuka terhadap perbedaan dan bahkan menganggapnya sebagai ajang pertarungan, atau memandang sepihak bahwa peristiwa tsunami, gunung meletus dan gempa bumi sebagai akibat pemberian dukungan kepada Jokowi menjelang Pilpres 2019 dan narasi-narasi serupa lainnya.

Tahun 2018 sudah berlalu, dan melewati tahun 2019 dengan membaca adalah keputusan yang mengagumkan. Semakin banyak membaca otak kita akan semakin sehat dan waras.

Urutan lima anjuran di atas tidak menunjukkan aktivitas mana yang lebih penting dari aktivitas yang lain. Tak ada senior-junior. Tak ada pimpinan dan anggota. Tidak ada penting dan lebih penting. Kalian boleh acak. Bebas. Sebebas kalian mau punya anak duluan baru menikah atau menikah dulu baru nanti memikirkan untuk punya anak. Tapi jika boleh Kolare sarankan, jangan sekali-kali kalian berpikir untuk punya anak duluan sebelum menikah, karena negeri ini tidak berada di tengah-tengah Eropa. Kecuali jika kalian punya rencana bahwa sudah saatnya negeri ini menganut budaya bebas mereka.

Itu saja yang mimin Kolare bisa bagi dengan pembaca yang budiman. Jika lima anjuran di atas kurang, kalian boleh menambahkannya dengan anjuran lain. Tapi, jangan tambahkan anjuran minum racun tikus atau menusukkan pisau dapur ke ulu hati sendiri. Itu bukan anjuran yang baik untuk mengisi tahun 2019. Oke tayo?

Komentar

News Feed