oleh

Akhir Cerita Dari Almehra

Apabila di dunia ini ada cara untuk menghilangkan sebuah kenangan, maka dengan berat akan aku hilangkan kenangan indah itu. Iya, kenangan bersamanya.

Pagi itu sangat sepi. Orang- orang di rumah keluar entah kemana perginya. Hanya ada burung yang berkecuit, entah tanda lapar atau memang suaranya yang khas. Di ruang tamu, mataku tertuju pada jam yang menempel di dinding. Jarumnya berdetak pelan, persis suara jantung yang berdegup.

Aku masih tenggelam dalam lamunan. Entah, wajah itu selalu datang dalam ingatanku. Sangat aneh, padahal kita sudah tidak ada hubungan lagi. Sikapnya yang sulit aku tebak. Kadang keras kepala, kadang  berubah secara  tiba-tiba.

Aku masih ingat jelas dengan wajahnya. Iya, kumisnya yang tipis, bahkan dagunya yang tidak terlalu hitam jarang-jarang. Ia selalu membuat aku nyaman. Peluknya yang sangat lembut, dan tutur bahasanya ibarat kesiur angin di pagi buta. Mustahil jika aku lupa akan hal itu. Tapi sayang, semua itu tinggal bayangan saja.

Masa itu hilang, dan akulah penyebabnya. Kata temanku kenapa aku tega melukai, menghianati perasaannya. Apa lagi hubungan yang sudah di bangun sudah hampir 3 tahun lewat 2 hari.

“ Maher… katakanlah, apakah aku salah mengambil keputusan ini?” ucapku pelan.

“ Tidak, kamu tidak salah,” ucapnya pelan, dengan mata menatap kedepan.

“Sebab, kata salah itu diperuntukkan bagi seseorang yang tidak bisa menghargai  perasaan orang lain. Bagiku kamu tidak salah. Menerimanya, kamu telah menyelamatkan setangkai rasa yang mungkin, ketika kamu menolaknya akan patah. Bahkan bisa hancur berkeping-keping.”  Ia menoleh kearahku, matanya menatap lekat, bibir khasnya bergetar, seperti berat ia berkata seperti itu kepadaku.

Entah, seketika semraut angin terhembus menyelimut dingin. Kata-kata Maher seperti duri yang menancap pada hati. Keramaian pun dengan perlahan pergi. Bumi seketika meramu sunyi, rasanya tak ada cahaya, bahkan tak ada suara. Maher menoleh kearahku sembari berkata, “Mehra, sebelum aku benar-benar pergi. Bolehkah aku memegang tanganmu, untuk kali ini saja?”  Pinta Maher dengan linangan air mata.

Sembari mengambil tanganku, dengan erat ia menatap lekat kearahku. Kurasakan tangannya yang hangat itu. “Aku tidak mau kamu bersedih lagi. Bahagialah dengan pria pilihan ayahmu. Agar kamu tidak hanya menjadi wanita yang indah  di dunia, tapi di akhirat nanti kamu masih indah, bahkan lebih indah dari yang sekarang.”

“Tidak, a a aku tidak mau kehilangan kamu. Aku sayang sama kamu, Maher. Aku mohon beri aku kesempatan sekali saja. Aku akan bilang sama ayah, agar perjodohan itu digagalkan. Aku mohon,” Pintaku lirih. “ Aku mohon Maher,” ulangku.

Maher hanya tersenyum kecut. “Tidak perlu, wahai Mehra, kekasihku. Sebelum aku berkata seperti ini. Jauh-jauh hari, hati ini sudahku persiapkan untuk merelakan semua tentangmu. Jadi… sekarang, tidak perlu khawatir.” ia melepaskan tanganya dari tanganku. Iya, hati itu sudah benar-benar patah. Hari ini, aku benar-benar mencabik-cabik hati kekasihku di depanku sendiri. Sejahat itukah aku padanya? selemah itukah cintaku padanya?

                                                               ***

Waktu kewaktu berlalu, sedangkan luka masih amat kurasakan perihnya. Pada pagi menjelang siang. Aku dipanggil ayah. Iya, sepertinya ada sesuatu hal yang ingin dibicarakannya. Tidak lain ini adalah tentang aku dan Firman. Seseorang yang di jodohkan denganku. Waktu itu semua keluargaku berkumpul di ruang tamu.

“Apakah kamu masih dengan pria itu Mehra?” Tanya ayah, dengan nada yang datar.

“ Ti ti tidak, ayah. Aku sudah putus dengan Maher, tapi  ayah….”

“Baguslah. Wahai anakku, ayah tidak bermaksud untuk melukai perasaanmu, tapi ayah hanya ingin masa depanmu terjamin nantinya. Tidak apa apa, cepat atau  lambat nanti rasa itu akan hilang sendirinya.”

Ayah menjodohkan aku dengan anak seorang pengusaha. Iya, aku mengakuinya, wajah pria itu rupawan, dan hidup dengannya masalah perekonomian akan terjamin, sebab ayahnya adalah orang yang terkaya di desaku. Namun bukan itu yang sebenarnya aku mau, karena bagiku uang bukan penentu kebahagiaan.

Dalam hati yang paling dalam. Aku ingin hidup dengan Maher, hidup yang sederhana, makanan yang sederhana, dan dari kesederhanaanlah kita akan bahagia nantinya. Perjalananku masih panjang, aku masih ingin mengejar cita-citaku terlebih dahulu.

“Ibu, aku tidak mau tunangan dulu. Aku ingin kuliah. Ibu, aku  ingin seperti teman-teman lainnya yang mengejar cita-citanya untuk lanjut kuliah. Aku tidak siap bertunangan. Usiaku masih terlalu muda.”

“Kamu tidak perlu kuliah, kuliah hanya membuang-buang waktu saja, Mehra. Kamu lihat sendiri, banyak orang kuliah, pada akhirnya kerjaannya sama saja. Kaburnya kuli bangunan, atau sebagai ibu rumah tangga.”

Aku mengerti semua orang tua  pasti  tidak ingin anaknya bernasib yang tidak  baik. Namun terkadang orang tua tidak pernah memikirkan tentang perasaan anaknya. Mereka mengedepankan egonya demi sepeser uang, dan uang. Mereka bahkan lupa akan kisahnya sendiri, kisah yang sempat diceritakan kepadaku. Sebuah hubungan yang tanpa restu dari orang tua, dan sampai berakhir dipelaminan, dan akulah buahnya.

Aku tidak menyangka ditanah bumi pertiwi ini, yang dikatakan merdeka masih ada wanita yang tanpa cita-cita, dan itu adalah aku. Cita-citaku telah berhasil dipatahkan oleh orang tuaku sendiri. Iya, mereka hanya beriming-iming semua ini tentang masa depanku. padahal mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya aku inginkan. 

Malam itu Maher datang menemuiku. Tangannya memegang tanganku, matanya menatap lekat padaku. Ia memeluk dengan lembut, dan bibirnya didekatkan ketelingaku, perlahan. “ Sayang, bolehkah malam ini aku memeluk tubuhmu. Bolehkah malam ini aku kembali dalam dekapan hangatmu?“

Aku tersenyum  kecut, seraya berkata padanya, “Kamu tidak berubah seperti biasanya, kadang aku merasa  kamu pergi meninggalkanku,  dan sekarang kamu berada disini.”

“Siapa yang akan pergi? Aku tidak akan pergi darimu, sampai kapanpun.” Ucapnya dengan kesal.

Tiba-tiba ia pergi, aku sengaja mengucapkannya dengan kasar dan keras. Ternyata laki-laki itu rapuh, ia masih disetubuhi oleh egonya yang berlumut. Seharusnya dalam posisiku yang seperti ini, ia menguatkan aku. Bukan malah datang dan tiba-tiba hilang.

_______

Penulis: Wahyu Samudero, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang.

Komentar

News Feed