oleh

Aku, Masa Lalu, dan Masa Kini

Jangan hidup dalam kenangan. Masa lalu biarkanlah berlalu. Kalimat itu kerap saya dengar terutama ketika seseorang hendak menguatkan sahabatnya yang lagi hidup dalam kenangan. Ah… ini terlalu tempe. Tapi mau diotak-atik bagaimana pun, itulah yang terjadi.

Masa lalu tak patut dibenci. Tanpa masa lalu, takkan ada masa kini. Kenangan adalah fakta-fakta sejarah yang telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk ruh kita yang kini. Setiap orang yang datang dan pergi di dalam hidup kita menjadikan kita berubah dari waktu ke waktu. Jadi, apa salahnya merawat fakta-fakta sejarah? Hehe…

Kalau ada pilihan, tentu ada yang mau memilih ingin hidup seperti Adam dan Hawa. Menjalin kisah tanpa bayang-bayang masa lalu. Memiliki anak dan cucu tanpa diam-diam melihat dunia luar melalui jendela, sambil merenungkan seseorang yang sempat jadi raja dan ratu di dalam hati, dan menyesali hal-hal yang membuat hubungannya retak, hancur, hingga naik ke pelaminan—sebagai janji emosional masa pacaran—hanya tinggal angan dan kenangan.

Tapi kita tidak tahu, dan saya yakin, pasti dalam relung hatinya yang paling dalam, Adam dan Hawa ingin kembali ke masa lalu. Hidup di surga. Tapi Tuhan sudah memutuskan menempatkan mereka di tempat baru. Bumi. Tuhan mengajarkan, darah yang muncrat dari tubuh tak mungkin bisa ditarik ulang. Begitu pula yang terjadi pada setiap fragmen kehidupan.

Karena fakta sejarah tidak bisa dirubah—sejarah ditulis oleh pemenang—maka hal yang bisa dilakukan oleh manusia adalah terus melanjutkan hidup. Belajar dari masa lalu, seseorang bisa menentukan langkah-langkahnya di masa depan. Saya tidak sedang ingin mengajari kalian bagaimana menghadapi masa depan agar tidak terjebak dalam kesuraman hidup. Saya hanya ingin menuangkan apa yang saya alami mengenai masa lalu dan entah dosa apa yang dibuat masa kini hingga masa lalu seolah berhak menghukum masa kini.

Ini terjadi ketika saya berkenalan dengan mata kuliah Psikologi Komunikasi di Universitas Dr. Soetomo. Saya mencintai diskusi sebesar saya mencintai calon kekasih saya. Karakter ini saya kira melekat pada jiwa-jiwa mahasiswa yang mencintai organisasi pergerakan. Tetapi saya tahu, tidak hanya mahasiswa pergerakan yang mencintai diskusi. Di luar mereka, mahasiswa yang bergelut dalam dunia sastra, bahkan lebih kuat budaya diskusi, baca, dan menulisnya. Mahasiswa pergerakan juga berdiskusi, tapi sangat sedikit yang kuat dalam membaca.

Di tengah proses perkuliahan, dan ini terjadi hingga kuliah-kuliah berikutnya, dosen pengampu lebih sering menceritakan kisah-kisah di masa Orde Baru, sepak terjang dan keunggulan-keunggulan yang dicapainya. Yang lebih parah, apa yang sudah dilakukan pemerintahan Jokowi dibanding-bandingkan dengan apa yang sudah dilakukan dan dicapai oleh pelaku sejarah di masa Orde Baru. Catat baik-baik, ini bukan karena saya mendukung Jokowi di Pilpres 2019. Hehe…

Dikatakan bahwa sistem komunikasi kebinet kerja di masa Jokowi jauh dari baik. Sistem komunikasinya tidak satu gerbang. Semua orang yang berada di kementerian seolah memiliki hak yang sama untuk mengomentari hal-hal yang bukan bagiannya. Itu dipandang sebagai sistem yang tidak lebih baik daripada apa yang sudah dilakukan oleh Orde Baru. Beberapa mahasiswa turut mengamini pandangan ini. Ada yang turut berkomentar dan selebihnya diam. Saya tidak tahu apakah diam adalah sebentuk pemberontakan, sikap setuju, atau tidak tahu harus berkomentar bagaimana.

Jelas saya menolak pandangan itu. Tapi saya masih diam. Pada kesempatan lain, dosen pengampu mengomentari pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintahan Jokowi, seperti pembangunan jalan tol dan beberapa pembangunan jalan lain di beberapa daerah jauh, seperti di Kalimantan dan Papua. Pembangunan jalan tol, kata dosen pengampu, tidak akan menyelesaikan masasalah kesenjangan kemiskinan dan kesejahteraan yang dialami masyarakat. Semestinya, pemerintah membangun dan memperbaiki jalan Pantura yang rusak, dan bukan malah membangun jalan tol, sebab itu pun tidak akan membuat masyarakat mengalami kondisi yang jauh lebih baik. Salah seorang mahasiswa, yang sepertinya kerap menggunakan jasa jalan tol, memberikan komentar—nada-nadanya mentaukidi penyataan dosen pengampu, bahwa pembangunan jalan tol tetap membuat kendaraan macet.

Saya berusaha memberikan komentar di tengah proses perkuliahan. Jokowi, mau tidak mau, adalah produk dari masa Orde Baru, meski ia, barangkali, tidak termasuk dalam bagian penting kekuatan orde itu. Boleh jadi, pembangunan yang dilakukan pemerintahan Jokowi hanya menguntungkan kelompok-kelompok tertentu saja. Pembangunan jalan tol, misalnya, hanya menguntungkan kaum borjuis, meski kaum proletar juga menggunakannya sesekali. Ini sama dengan yang terjadi di masa lalu. Sistem pemerintahan represif yang diterapkan Orde Baru juga menguntungkan berapa pihak dan merugikan beberapa kelompok lain.

Hal-hal yang bisa digambarkan dengan jelas adalah ketika mahasiswa (kaum muda) mengalami intimidasi dari orang-orang Orde Baru. Mahasiswa tidak bisa mengadakan diskusi-diskusi di ruang-ruang terbuka, karena orang-orang Orde Baru akan menciduk dan mengintrogasinya. Setiap kelompok diskusi selalu dicurigai sebagai konsolidasi politik yang akan menumbangkan kerajaan yang sedang berkuasa.

Di sisi ini, tentu sistem komunikasi politik-represif satu gerbang sangat menguntungkan Orde Baru untuk melanggengkan kekuasannya. 32 tahun bukan waktu yang sebentar. Dan selama itu pula gerakan-gerakan pemuda dicurigai sebagai upaya pemberontakan. Memang terjadi beberapa kali pemberontakan yang dilakukan kaum muda, tapi itu tidak cukup berhasil hingga terjadinya gerakan 98—di awal gerakan 98 ada sejumlah mahasiswa yang diculik dan dihilangkan karena melakukan pemberontakan.

Dosen pengampu—kemudian saya tahu ternyata ia merupakan salah satu orang penting dalam pemerintahan Orde Baru, lalu banting setir menjadi dosen—tidak terima atas perlakukan reformasi, yang atas sebuah kesalahan, langsung merombak semua sistem yang diterapkan di masa lalu. Dikatakan, ada kebaikan-kebaikan dari Orde Baru yang seharusnya masih bisa diterapkan, tetapi karena tingginya kebencian pada Orde Baru, maka semua sistem yang diagung-agungkan di masa lalu tak terpakai lagi di masa kini.

Saya menangkap, dari sekian perkuliahan yang saya ikuti, ada upaya untuk meluruskan kekeliruan—kalau tidak mau disebut sebagai dosa—yang pernah dilakukan masa lalu. Tapi apa pun itu, setiap hal yang dilakukan Orde Baru, termasuk kebejatannya, sudah mengkristal dalam pikiran. Waktu selalu memberikan ruang bagi kebenaran untuk membuktikan keberadaannya. Bagaimana pun seseorang berupaya meluruskan kekeliruan yang pernah terjadi di masa lalu, selama itu kekeliruan, ya tetap akan menjadi kekeliruan. Kecuali kekeliruan yang pada dasarnya adalah kebenaran.

Memang sangat manusiawi mencari pembenaran atas kekeliruan yang pernah dilakukan. Tapi begitulah manusia. Di luar sebuah hubungan yang retak, seseorang selalu cenderung membangun pembenaran atas dirinya sendiri dengan membangun persepsi negatif tentang orang lain.

 

Latif Fianto, penulis yang bercita-cita nikah muda tapi tidak tercapai. Menulis fiksi dan nonfiksi. Novel pertamanya, Batas Sepasang Kekasih (Basabasi, 2018).

Komentar

News Feed