oleh

Aku Pamit Mbalik Yoe Rek! Assalamu’alaikum

Romdlon Muchammad

Jum’at Berkah! Keberkahan yang dihaturkan Allah SWT untuk hamba-hambaNya. Hidup dan mati adalah episode pasti, yang penuh arti untuk tiap manusia. Mengingatkan bahwa kuasa yang kita miliki, tidak lebih besar dibandingkan debu yang masuk ke mata lalu membuat merah bola mata.

Kabar meninggalnya Tuan Guru Romdlon Muchammad pada Jum’at (9/10/2020), menjadi kabar gembira yang membuat gelinangan air mata tak henti jatuh menetes ke bumi. Bukan penyesalan yang muncul! Namun pergantian tampuk tanggung jawab atas perihal kemanusiaan yang Beliau lakukan, dengan cara-cara sederhana bahkan tak menggema. Yang menjadi teramat penting untuk diyakini sebagai sebuah jalan lain atas perjuangan kebermanfaatan dan keberkahan hidup.

Di masa mudanya bahkan ia tembus ke Afghanistan lewat cara yang tak diperhitungkan pada waktu itu, dimana sebelumnya mengelilingi ASEAN dengan bersepeda. Sebagaimana ia tetap menjadi pribadi yang tetap santun dan sederhana, ia adalah Legend bagi saya dan segolongan lainnya atas suatu pilihan yang bernama kesederhanaan.

Seperti saat Jum’at pada belasan tahun lalu ketika saya dan beberapa sahabat tertidur pulas hingga tengah hari di Mbhetek 164, Kota Malang. Datanglah Mas Romdlon Muchammad dengan wajah sumingrah, lalu membangunkan kami semua untuk segera mandi dan melaksanakan Sholat Jum’at di Masjid.

Wangi minyak melati jadi penanda bahwa kami-kami adalah umat Nabi Muhammad SAW, dimana sebentar lagi kerajaan dunia akan ditundukkan atas syafaat yang Beliau janjikan pada umatnya. Bergegas setelah rapi jali, kaki-kaki muda itu melangkah cepat menuju Masjid. Tak disangka tak dinyana langkah-langkah kaki yang jumlahnya ratusan menyeruak berhadap-hadapan melawan arah kepada langkah kaki kami. Sholat Jum’at telah usai dan langkah kaki sekelompok muda itu menjadi lunglai, lalu berbalik arah mengikuti langkah ratusan kaki yang menuju arah pulang kembali pada aktifitas duniawi.

Tersenyum geli Mas Romdlon Muchammad melihat wajah-wajah yang tertunduk malu, lantas ia pamit pulang kepada kami semua. “Aku pamit mbalik yoe rek, Assalamualaikum”, ucapnya sambil menyalakan sepeda motor dengan lembutnya. Sesederhana itulah ia memberikan wejangan tanpa menimbulkan keramaian, bahkan membekas dalam hingga saat ini.

Kembali dengan sederhana ke haribaaan Ilahi, dilakukan almarhum pada Jum’at ini. Wafatnya yang disebabkan oleh Covid-19, membuat pemakaman beliau berlangsung dengan cara yang begitu sederhana tanpa keramaian yang harusnya amat-amat sangat layak disajikan sebagai pengiring terakhir dari semua ajaran dan kebaikan yang ditampilkannya untuk kami-kami yang lebih muda. Bahkan dari pihak keluarga yang diwakili putra beliau meminta dengan kerendahan hati, agar setiap sahabat-sahabat berkenan berdoa dan tahlil dari rumah masing masing. Tanpa perlu hadir ke rumah duka saat ini.

Berkah Jum’at disebutkan, Al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad yang meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah sebuah hadits: “Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari pada hari raya kurban dan hari raya fitri. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat.

Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali shilaturrahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada Malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat”.

Njenengan Orang Baik. Maturnuwun Mas Romdlon Muchammad! Gusti Allah Sing Mbales

Komentar

News Feed