oleh

Al-Quran dan Reformasi Kehidupan Manusia

Mochlis Al-Bath

Malam Nuzulul Quran yang bertepatan pada tanggal 17 Ramadan menjadi momen spiritual yang menakjubkan bagi umat Islam di dunia. Pada tanggal 17 Ramadan inilah kalamullah, yaitu Al-Quran diturunkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW di gua Hira’. Visinya jelas dan besar, yaitu sebagai google map bagi keberlangsungan kehidupan manusia dan semesta.

Diturunkannya Al-Quran tentu saja melewati proses demi proses yang cukup berat, sehingga yang menjadi penerima wahyu pun harus termasuk manusia pilihan yang sanggup  melakukan hal-hal berat. Yaitu  proses-proses berat yang bakal dilaluinya sepanjang penyampaian wahyu kepada umat manusia di dunia. Rasulullah SAW adalah penerima wahyu langsung dari Allah melalui malaikat jibril. Tentu saja harus memiliki keberanian, ketangkasan, kesabaran dan pertanggungjawaban yang penuh untuk menyampaikan substansi wahyu yang diterimanya kepada umat manusia.

Rasulullah SAW punya modal besar berupa kesabaran dan keberanian. Tidak butuh waktu lama bagi beliau untuk setahap demi setahap menerima wahyu secara sempurna. Dan yang tidak kalah penting adalah ketika menyampaikannya kepada keluarga, kerabat, tetangga dekat hingga masyarakat. Dalam realitasnya, ada sebagian yang menerima, sebagian meragukan, dan sebagian lagi menolak secara terang-terangan, bahkan menuduh apa yang disampaikan Nabi itu hanyalah syair biasa, yang bahkan dianggap karangan-karangan palsu, dan tuduhan lain yang cukup menantang dan memojokkan.

Di tengah tantangan dan ancaman yang merintangi komitmen dan spirit juang beliau tidak bergeser sedikit pun. Justru karena yang dimandatkan itu kalam ilahi yang bervisi kebutuhan semesta, maka risiko demi risiko yang menghadangnya harus bisa dihadapi dengan ketegasan dan keramahan.

Bagi hamba Allah SWT yang hatinya memperoleh petunjuk langsung membenarkan dan menerima wahyu yang diterima Nabi Muhammad. Kalangan ini meliputi para sahabat Nabi yang empat, seperti Abu Bakar Siddiq, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, dan Ali, termasuk juga istri Rasulullah, Khodijah, Aisyah dan yang lainnya. Akan tetapi, orang-orang seperti Abu Lahab dan Abu Jahal sangat menolak semua itu. Bahkan wahyu yang dibawa Rasulullah SAW dianggap akan merusak tatanan kehidupan masyarakat yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang mereka.

Kalau kita membaca sejarah di era kehidupan Rasulullah SAW, memang Abu Jahal dan Abu Lahablah, beserta komplotannya, yang paling getol menjadi biang penghambat gerak transformasi dakwah Rasulullah SAW. Berbagai manuver dilakukan. Baik yang sistematis maupun yang sporadis guna menggagalkan akan sampainya ajaran Al-Quran kepada masyarakat. Tetapi, tak satu pun dari usaha tersebut yang menuai hasil. Justru wahyu Allah SWT mulai bergerak mencair dan makin banyak yang menerima.

Dalam kurun waktu yang tidak begitu lama Rasulullah SAW berhasil mereformasi sistem kehidupan penduduk Mekah secara aqidah. Selama bertahun-tahun penduduk Mekah hanya menjadi masyarakat pemuja berhala, matahari, api, patung dan sebagainya. Lambat-laun mereka sadar bahwa bentuk persembahan yang dijalankan itu hanyalah ritual mitos yang tiada guna. Akhirnya mereka kembali menemukan jalan aqidah yang sesungguhnya, yaitu kembali kepada persembahan yang sesungguhnya, yakni sang pencipta alam semesta dan isinya, Allah SWT.

Meski Rasulullah SAW seorang ummi, namun beliau hebat menyampaikan wahyu Allah SWT kepada umat manusia. Dengan metodologi dakwah yang tepat dan semangat humanitas yang tinggi beliau sangat berhasil, sehingga transformasi dakwah yang beliau lakukan dalam menyampaikan kalamullah kepada umat manusia dengan waktu yang relatif singkat menuai pengikut yang cukup banyak.

Inilah bukti bahwa Rasulullah SAW adalah sang penyampai ajaran Al-Quran yang sangat ramah. Kalau tidak dengan keramahan mustahil nilai-nilai kalamullah yang agung dapat tersampaikan dengan baik dan massif di tengah kalang kabutnya sistem kehidupan masyarakat Mekah yang jahiliyah di masa itu. Saat itu, basis paradigma pikir penduduk Mekah kolot, konservatif, dan memiliki pergaulan yang fanatik. Namun itu semua bisa dilewati dengan baik.

Berikutnya, tentu dengan wahyu yang diterima, Rasulullah SAW berhasil mereformasi sistem kehidupan sosio-kultural penduduk mekah. Diketahui kalau sistem hidup dan kehidupan penduduk Mekah tidak menjunjung tinggi prinsip humanisasi dan keadilan. Bahkan secara tatanan hukum tak ubahnya hukum rimba. Yang kuat perkasa, sedang yang lemah tertindas dan tersiksa secara tidak manusiawi. Keadaan serba riskan, krisis moral berkepanjangan, dan tiadanya spirit kesadaran kemanusiaan.

Problem demikian menjadi atensi utama dari visi kalamullah yang  Rasulullah SAW terima. Al-Quran hadir menjadi suluh reformasi bagi para penganutnya.

Al-Quran menawarkan resep tegas bagaimana membangun bentuk kehidupan yang benar, kemudian merombak pola pikir kehidupan masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat ilmiah dengan ciri utama menjunjung tinggi semangat kemanusiaan, keadilan, persaudaraan, persamaan hak antara kaum laki-laki dan permpuan, dan menjunjung tinggi moralitas dalam berkehidupan. Ending dari dakwah Rasulullah sampai pada titik sentralnya, yaitu, bahwa manusia yang paling mulia di hadapan Allah SWT adalah karena ketakwaannya.

Garis ketakwaan kemudian merontokkan kultur diskriminatif dan sekat-sekat kemanusiaan, seperti pengelompokan berdasarkan kekayaan, keturunan, ras, agama, budaya, jenis kelamin, akses dan kesempatan, sebagaimana yang terjadi pada sepanjang sejarah kehidupan jahiliyah.

Al-Quran adalah sumber hukum tertinggi dan petunjuk bagi manusia sepanjang kehidupan. Penegas antara perkara yang baik dan yang batil telah merombak tatanan kehidupan masyarakat menjadi lebih revolutif mentalnya, dan bijak bestari akhlaknya.

Oleh sebab itu, karena bulan Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-Quran, maka tentu kita kembali kepada Al-Quran untuk menata kembali kehidupan kita lebih baik.

Kembali kepada Al-Quran, tentu saja kita lebih memaknainya lagi, menghayati lagi isi kandungan Al-Quran, dari ayat demi ayat hingga surat demi surat. Tidak ada kata terlambat dan kata sudah terlalu tua untuk belajar Al-Quran. Minimal kita belajar membacanya secara fasih.

Ramadan kali ini adalah kesempatan besar bagi kita untuk menumbangkan perasaan gengsi untuk belajar membaca dan menghayati pesan-pesan universal Al-Quran secara terus-menerus. Baik secara individu maupun bersama di lingkungan keluarga.

Terpaan pandemi Covid-19 saat ini, satu sisi sebagai ujian besar, karena kita harus menaati anjuran protokol kesehatan dan peraturan pemerintah untuk stay di rumah, sehingga biasanya kita menunaikan segala aktivitas ibadah Ramadan, seperti tadarus dan tarawih, secara berjamaah baik di mushalla maupun di masjid. Kini wajib dikerjakan di rumah. Di sisi lain ternyata kalau kita hayati, pandemi ini menghadirkan hikmah untuk kita semua, yaitu bisa menguji kesabaran kita selama bertahan di rumah sebagai tindakan preventif dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Kesabaran kita berada di rumah bukti bahwa kita sebagai pahlawan keselamatan bagi orang lain apalagi bisa dibuat kesempatan belajar Al-Quran bersama keluarga.

Selain itu bisa menjadi sarana kita untuk  menjalin keakraban dengan keluarga sehingga terjalin harmunisasi, karena keluarga, sebagai entitas masyarakat kecil, kualitasnya sangat menentukan kualitas kehidupan masyarakat secara makro. Kita yakin bahwa aktivitas ibadah yang dilakukan kita di musim pandemi ini hanya bergeser lokasinya saja, namun secara substansi tidak akan berkurang sedikit pun, baik pahala maupun keutamaannya. Dengan kembali kepada Al-Quran cita-cita besar kita baik sebagai personal maupun cita-cita bersama untuk lebih baik akan menjadi nyata, karena kita sudah kembali kepada sumber utama setelah Sunnah Rasulullah SAW.

Momen Nuzulul Qur’an hanya akan menjadi momentum seremonial ketika kita tidak mengajak diri dan keluarga termasuk masyatakat untuk membaca dan menggali makna Al-Quran dan mengamalkannya ke dalam praktik kehidupan nyata. Menggali nilai-nilai Al-Quran di bulan Ramadan diharapkan memberi inspirasi dan semangat transformasi terhadap perbaikan pikiran, perilaku, dan perbuatan kita, yaitu membangun istiqomah secara ibadah dan selalu menunjukkan perilaku terpuji kepada orang lain sesuai tuntunan Al-Quran. Selain itu hendaknya mendorong diri menjadi generasi qurani di zaman kekinian yang edan ini.

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya pada orang lain” (H.R. Bukhari). Oleh karenanya, mari kita menjadi generasi qurani yang nyata, yaitu cakap membaca Al-Quran dan komitmen mengamalkan nilai-nilai yang dikandungnya dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap generasi punya masa, dan setiap masa punya generasi. Semoga setiap generasi pemilik masa mereka adalah generasi qurani yang cakap.

Penulis adalah orang yang sedang belajar dan mengamalkan tata cara membaca Al-Quran yang baik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed