oleh

Amandemen UU Kewarnegaraan India Berujung Bentrok Hindu-Muslim

(Photo/Rajesh Kumar Singh)

Parlemen India mengesahkan Amandemen Undang-Undang Kewarganegaraan pada Desember 2019. Amandemen UU tersebut sangat kontroversial. Hal ini terjadi karena pemerintah tidak mencantumkan Islam dalam daftar agama bagi pemeluk baru yang akan masuk ke negeri Bollywood itu.

Amandemen UU tersebut dilakukan untuk mempermudah dan mempercepat imigran beberapa negara seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan menerima kewarganegaraan India. Tetapi, sayangnya, pemerintah bertindak diskriminatif dengan tidak mencantumkan Islam sebagai agama yang harus dianut. Ini dipandang sebagai penggiringan sikap agar para imigran yang datang memeluk agama Hindu.

Banyak kalangan yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut melakukan aksi protes. Selama lebih dari dua bulan kelompok oposisi yang terdiri dari mahasiswa, aktivis pro-demokrasi dan aliansi warga muslim India menggelar aksi turun jalan. Mereka menilai pemerintah sewenang-wenang. Mereka ingin memberangus hak kewarganegaraan kurang lebih 200 juta penduduk Muslim India. Dengan diberangusnya Muslim dari tanah bekas jajahan Inggris itu, India dimungkinkan akan kembali menjadi bangsa Hindu. Kondisi yang pasti diidam-idamkan oleh partai penguasa dan loyalisnya.

Loyalis partai penguasa juga melakukan demo tandingan hingga beberapa kali aksi mereka berakhir ricuh. Puncaknya ketika salah seorang politikus BJP menyampaikan pidato kontroversial, yakni memprovokasi orang-orang Hindu untuk mengusir dan menghabisi warga Muslim yang enggan menaiki perahu yang sama dengan pemerintah. Warga Muslim dituntut menerima UU Kewarganegaraan diskriminatif merek.

Bagi ribuan pendukungnya, pidato tersebut ibarat perkataan paus atau imam yang dihormati, sehingga dengan suka rela dan bangga harus dilakukan. Dalam posisi-posisi tertentu seorang tokoh atau dalam hal ini pejabat perlu memperhatikan kalimat-kalimat yang disampaikannya, kalau tidak ingin mendapati kenyataan seperti yang terjadi di India. Bisa dibayangkan, akibat pidato tersebut ribuan orang Hindu menyerang minoritas Muslim.    

Hari itu tanggal 25 Februari ketika sekelompok pendukung partai penguasa menyerang dan membakar rumah warga Muslim India tidak jauh dari New Delhi. Sekelompok massa anarkis itu melakukan aksi mereka sambil mengumandangkan sebuah slogan rasis: “Hindustan mein rehna hoga Jai Shree Ram Kehna hoga” (Jika kalian ingin tetap tinggal di India, kalian harus menyanyikan ‘Jai Shree Ram’).

Sebanyak 38 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa itu dinilai sebagai kerusuhan paling mematikan yang pernah terjadi di ibu kota India selama sepuluh tahun terakhir. Sebagaimana dilaporkan Vice, setidaknya kurang lebih 200 orang menjadi korban dalam kerusuhan berdarah itu. Selain warga biasa, seorang wartawan lokal juga disasar sebuah peluru yang tidak diketahui pemiliknya.

Vice menggambarkan bagaimana peristiwa kerusuhan itu terjadi. Seorang lelaki berusia 30 tahun bernama Mohammad Ishtihaq Khan—oleh keluarganya akrab disapa Raja—keluar dari rumahnya karena mendengar suara ribut-ribut. Tidak berapa jauh melangkah Raja tewas setelah tubuhnya diterjang timas panas. Begitu pula dengan Akhtar Khan, yang dikeroyok hingga babak belur. Kata akhtar, gerombolan massa itu menarik jenggotnya seolah-olah dirinya binatang. Ia merasa akan menemui ajal seandainya tidak ada polisi yang datang membubarkan massa.

Kerusuhan antar umat beragama yang terjadi di India disebabkan oleh diskriminatifnya penguasa dalam membuat dan menjalankan kebijakan. Tetapi, lebih jauh, yang membuat penyerangan itu terjadi adalah karena adanya provokasi panas dari oknum politikus. Beberapa penguasa, demi kepentingan primordial, menggunakan kendaraan agama untuk menjatuhkan kelompok lain yang tidak seperahu.

Komentar

News Feed