oleh

Bagaimana Manusia Belajar?

-Kolom-371 views

Pixabay

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling unik. Manusia memiliki cara kreatif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia mampu mengembangkan diri dari berbagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi dari tiap-tiap zaman. Manusia mampu belajar untuk memperbaiki diri sendiri dan kaumnya dari masa ke masa. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain.

Sejak dulu manusia berevolusi dalam menumbuhkembangkan dirinya. Namun, bagaimana manusia belajar? Apakah manusia selalu belajar dari pendidikan guru? Atau bahkan manusia berkembang dengan dirinya sendiri? Pertanyaan yang sering muncul ketika mencoba memahami manusia dan cara belajarnya dari dulu hingga sekarang.

Sejak lahir manusia sudah belajar. Merasakan sentuhan udara dengan kulitnya, meraskan pahit manisnya air susu ibu dengan lidahnya dan tanggap terhadap suara dengan pendengarannya. Perkembangannya ditandai dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

Proses belajar tempo dulu dan sekarang memiliki perbedaan yang signifikan. Pada zaman batu manusia belajar dari alam. Misal, di ranah pertanian. Untuk memenuhi kebutuhan hidupannya, manusia belajar bertani dengan cara mencari tanah yang gembut dan subur agar tanaman bisa tumbuh sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumsi beberapa tahun kedepan. Setelah itu, apabila sudah tidak lagi ada kehidupan di lahan pertanian manusia berpindah tempat/meramu untuk mencari kehidupan yang baru dan lebih menjanjikan. Hal tersebut terus mengalami perubahan hingga sekarang bahwa tanah dapat diolah dengan baik untuk mendapatkan hasil panen yang bagus.

Pada proses evolusi, manusia selalu belajar dari tidak tahu menjadi tahu. Untuk mengabadikan pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia menulis di daun lontar atau batu, lalu disimpan di sebuah tempat yang aman. Gua, misalnya. Proses evolusi pengetahuan manusia dari zaman ke zaman memiliki cara yang berbeda. Buah karyanya terus disempurnakan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya.

Sebuah contoh. Komputer pertama kali diciptakan oleh Charles Babbage. Pada tahun 1822, pakar matematik itu berhasil menemukan sebuah mesin hitung yang disebut komputer. Salah satu komputer pertama di dunia adalah ENIAC (Electronic Numerial Integrator and Computer). Komputer ENIAC memiliki bobot sekitar 30 ton, 19.000 tabung hampa udara, 1.500 relay dan ratusan ribu resistor, indikator dan kapasitor yang digunakan. Coba bayangkan dengan berat 30 ton seberapa besar komputer yang pertama kali pernah dibuat itu. Dari penemuan ke penemuan komputer terus dikembangkan dan disempurnakan, sehingga pada akhirnya tercipta sebuah komputer yang memiliki slim body, dapat kita nikmati sekarang dan mudah dibawa kemana-mana.

Proses belajar manusia dari waktu ke waktu memiliki sistem dan konsep yang berbeda. Proses belajar secara otodidak berubah menjadi metode pembelajaran kelas. Kelas merupakan sistem pendidikan belajar mengajar, menuntut adanya interaksi langsung antara murid dan guru. Di sini yang dipertaruhakan adalah kualitas keduanya. Kecerdasan personal sama-sama dibangun untuk mendapatkan output yang baik.

Namun, pada dasarnya setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah. Manusia telah membawa kecerdasan, bakat, kondisi yang unik, khusus, istimewa bahkan misterius. Mengenali bahwa kecerdasan adalah bagian dari kejeniusan, di samping rasa ingin tahu yang besar juga tingginya kreativitas dan imajinasi. Haword Gardner (1982) membahasakan, “Kecerdasan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam masyarakat.” Tujuan dari belajar tak lain adalah menyampaikan apa yang diketahui kepada orang lain guna orang lain tahu apa yang dimaksud.

Belajar dari Kesalahan

Kesalahan sering kali menjadi momok paling menakutkan yang dapat melemahkan mental manusia pada umumnya. Namun, disadari atau tidak, setiap kesalahan melahirkan pengetahuan baru bahwa setiap kesalahan tidak harus diulang kembali dengan cara yang sama. Di situ manusia perlu belajar mengkaji lagi dirinya. Sekarang, katakanlah, menggoreng telur. Meskipun itu tergolong kecil dan sederhana, namun tidak setiap hal langsung menjadi sempurna. Bisa saja telur tersebut gosong atau sangat asin. Namun, ketika hal tersebut diperbaiki dan terus diperbaiki, maka menggoreng telur yang pada awalnya gosong dan berasa asin kemudian menjadi gurih dan nikmat.

Banyak alasan mengapa manusia harus belajar dari kesalahan. Manusia memang tidak dapat menghindari kesalahan dan tidak ada manusia yang tidak memiliki kesalahan. Sedangkan kesalahan sendiri merupakan guru terbaik sebagai proses terbentuknya manusia yang kuat, sabar dan rendah hati.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Manusia Belajar

Sebuah pengalaman hidup jauh lebih bernilai nasihat daripada berjuta nasihat bernilai kehidupan. Dipahami bersama bahwa belajar merupakan aktivitas jiwa dan raga berupa pengalaman seseorang dalam melakukan interaksi yang bersifat kognitif, aktif dan psikomotorik dengan lingkungan untuk memperoleh perubahan tingkah laku. Dengan demikian, aktivitas belajar berhubungan dengan banyak faktor.

Belajar bukan merupakan suatu aktivitas yang berdiri sendiri, melainkan ada unsur-unsur yang ikut terlibat di dalamnya, yaitu masukan mentah yang merupakan bahan pengalaman belajar tertentu dalam proses belajar dan mengajar (learning teaching process) dengan harapan dapat berubah menjadi output pengeluaran dengan kualifikasi tertentu.

Faktor yang mempengaruhi manusia belajar sedikitnya terdapat 3. Pertama, faktor sosial dan kultur. Faktor ini terdapat pada jenis perilaku seseorang dalam belajar. Sebagai contoh, di suatu lingkungan sosial yang sangat menggemar musik, maka hampir pasti anak yang terlahir dari lingkungan tersebut akan menyukai musik. Kedua, faktor internal yaitu potensi diri. Ketiga, faktor psikologis. Meliputi tingkat kualitas kesehatan, fisik, jasmani, kecerdasan, kemampuan, minat, kecenderungan sikap dan motivasi.

Potensi Manusia

Manusia, dalam hal apa pun, memiliki potensi yang luar biasa, tanpa terkecuali. Apakah ia lahir dalam keadaan normal atau berkebutuhan khusus. Allah menegaskan dalam Al-Quran: dan sungguh benar-benar kami ciptakan dengan sebaik-baik bentuk. (QS. At-Tin: 4). Potensi merupakan bekal yang dapat digunakan oleh manusia untuk menghadapi dan mengatasi setiap persoalan hidup. Dan tidak seorang pun dari manusia tidak memiliki potensi yang memadai.

Prof. Dr. Ahmad Mustafa Al-maraghi dalam tafsirnya menyampaikan ada 5 potensi yang ada dalam diri manusia. Petama, potensi insting. Insting memberikan respon otomatis pada diri manusi. Kedua, potensi indera. Bukan panca indera yang selama dikenal, melainkan meliputi indera keseimbangan dan kinestik yang mampu membuat manusia berdiri. Ketiga, potensi akal. Manusia dapat mengetahui mana yang baik dan buruk. Keempat, potensi hati. Hati menjadikan manusia dapat merasa dan berempati. Kelima, potensi agama, yakni memberikan batas yang boleh dan dilarang, sekaligus membantu manusia bangun dari keterpurukan dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada.

Lima potensi tersebut memiliki pengaruh yang besar terhadap diri manusia. Manusia dapat menjadikan dirinya lebih kuat dengan cara mempelajari kelebihan dan kekurangan pada dirinya. Sebab, keterbatasan bukan suatu halangan untuk terus menumbuhkembangkan diri menjadi manusia seutuhnya.

Komentar

News Feed