oleh

Bagi Para Calon Jamaah Haji, Sudah Tahu Apa Itu Walimatul Safar?

Hajatan sebelum berangkat Haji. Foto (instagram: @sri_wulan_s).

Indotribun.id, Edukasi- Jika kita sering melihat para calon haji menggelar sebuah hajatan seperti doa bersama, itulah yang sering disebut dengan walimatus safar. Hal tersbut, telah menjadi salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia sebelum berangkat haji.

Acara ini biasa dihadiri keluarga, kerabat, sahabat, hingga tetangga untuk mendoakan para calon jamaah haji agar diberikan kelancaran dalam menjalankan ibadah nomor 5 yang ada dalam rukun Islam.

Secara Harfiah, walimatus safar terbentuk dari dua kata. Mengutip dalam buku Ensiklopedia Fikih Haji dan Umrah (Edisi Revisi) yang ditulis oleh Agus Arifin, kata walimah memiliki bentuk jamak walaim yang berasal dari kata awlam yang artinya berpesta, mengadakan kenduri atau jamuan. Adapun, kata safar memiliki arti perjalanan.

Secara istilah, walimatus safar merupakan acara syukuran sekaligus berpamitan untuk berangkat ke Tanah Suci dalam rangka menunaikan ibadah haji. Istilah walimatus safar sendiri tidak ditemukan dan dikenal dalam literatur Islam sebelum akhirnya muncul tahun 1970-1an.

“Istilah walimatus safar, sebelum ini tidak ditemukan dan tidak dikenal dalam literatur Islam, ia muncul pada tahun 1970-an, itu pun dikenal di perkotaan (Jakarta), terkait dengan pelaksanaan selamatan atau syukuran karena akan melaksanakan ibadah haji,” tulis Agus Arifin dalam keterangan bukunya.

Begitupun Ahmad Sarwat dalam bukunya Ensiklopedia Fikih Indonesia: Haji & Umrah menyebutkan, apabila ditelusuri lebih jauh memang ada beberapa adab dan kesunnahan secara khusus bagi orang yang akan melaksanakan safar. Dalam hal ini, safar mencakup seluruh aktivitas bepergian tak hanya sekadar untuk haji.

Hukum Menggelar Walimatus Safar

Walimatus safar juga dikenal dengan ratiban. Dalam hal ini, Prof. Nasaruddin Umar dan Indriya R. Dani dalam buku 100+ Kesalahan dalam Haji & Umrah itu menjelaskan, acara ratiban dilakukan untuk membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, membaca sholawat, dan mendoakan orang yang melaksanakan haji agar diberi keselamatan dan mabrur ibadah hajinya.

Menurutnya, acara semacam ini baik dalam rangka pelaksanaan ibadah haji maupun kegiatan lainnya dan hukumnya sunnah. Sehingga, apabila hal tersebut dikerjakan akan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Umat muslim yang berkumpul di suatu majelis membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an Al-Karim dan mengadakan majelis ilmu, Allah akan menurunkan rahmat kepada mereka.” (HR Muslim).

Lebih lanjut Prof. Umar yang juga merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal ini menjelaskan, ratiban atau walimatus safar yang berkaitan dengan haji ini merupakan suatu bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT dan dinyatakan kepada pihak lain.

“Yang penting, dalam mengadakan walimatus safar, jangan sampai ada niat menjadi riya (ingin mendapat pujian manusia),” jelas Nasaruddin Umar.

(Adm/Dik)

Komentar