oleh

Belajar Berdamai dengan Perbedaan; Membaca Stebby Julionatan, Jangan-Jangan, Tuhan Sendirilah Kebencian Itu

Malam Rabu kemarin beberapa pemuda yang tergabung dalam Komunitas Malam Reboan kembali asyik membincang literasi. Komunitas yang terbentuk beberapa tahun lalu ini sempat jeda sehabis ditinggal pulang kampung sebagian besar penggiatnya. Usaha menghidupkan kembali komunitas yang sempat mati suri merupakan pekerjaan yang tak mudah. Apalagi di lingkungan yang tak biasa dengan dunia baca-tulis. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya mengajak orang-orang untuk mencintai membaca—syukur-syukur menulis—daripada sekadar berjibaku dengan urusan perut-fashion.

Pada pertemuan yang kesekian itu, para pemuda itu memilih membincangkan puisi karya Stebby Julionatan yang terangkum dalam antologi puisi Di Kota Tuhan: Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah. Memang tak semua karya di dalam buku tersebut diperbincangkan. Hanya beberapa judul saja. Di antaranya, “Jangan-jangan, Tuhan sendirilah kebencian itu”, “Di Sumber Hidup, Biru Melihat Tuhannya Bercabang”, dan “Anak (Terkadang) adalah Korban (cinta) Orang tua”. Tiga judul puisi itu diperbincangkan oleh para pemuda dari berbagai jurusan yang tak satu pun memiliki latar belakang jurusan sastra.

Dari ketiga puisi tersebut saya tertarik untuk sedikit mengulas salah satu puisi Stebby yang berjudul ‘’Jangan-jangan, Tuhan sendirilah kebencian itu’’. Membaca puisi ini kita diajak oleh Stebby untuk membaca kondisi Indonesia saat ini. Kita sudah mafhum akan fenomena-fenomena pertikaian, minimal perdebatan yang berangkat dari perbedaan gagasan antar kelompok. Padahal perbedaan adalah sebuah rahmat dan anugerah dari Tuhan yang tak perlu diperselisihkan dan harus diterima sebagai kebhinnekaan dalam hidup.

Perbedaan suku, etnis, juga jenis kelamin adalah sesuatu yang tak dapat ditolak. Hal ini pemberian Tuhan yang mutlak. Stebby menuliskan hal ini dalam puisinya /1apakah aku bisa memilih 2untuk dilahirkan oleh orang tua yang tak bermasalah?/ Dari sini kita diajak oleh Stebby untuk sadar bahwa kita (manusia) tidak mempunyai daya dan kekuatan untuk memilih, juga menolak untuk dilahirkan dari siapa, bersuku apa dan lahir di daerah mana. Ini merupakan hak prerogatif Tuhan sebagai pencipta, sedang manusia sebagai hamba hanya bisa menerima.

Pada kalimat selanjutnya Stebby menggambarkan bahwa perbedaan tak harus melulu diperdebatkan. Ia menggambarkannya lewat kota kelahirannya Probolinggo: /3Rabu, kutanya padamu /4apa itu cinta? /5jika ia sama, mungkin itu alasan tuhan untuk tertawa dari sorga sana. /6seperti kota kami, Probolinggo. /7pandalungan bukanlah Madura, namun tak lantas menjadi Jawa. /8Pernahkah ia memicu sengketa? Menurut Stebby, di beberapa daerah serta beberapa situasi, ketika perbedaan ras, suku dan asal daerah menimbulkan kericuhan dan kekacauan, itu tidak berlaku di kota kelahirannya. Probolinggo tetap diam serta aman. /9Ia diam ketika konflik 1998 mencabik-cabik kota-kota tetangga/ 10Ia geming saat kerusuhan ambon atau sampit mengimpor pemuda-pemuda yang bisa mengangkat senjata demi Tuhan atau keadilan /11 Ia pun hening saja, saat OPM*) atau seroja dilancarkan berpuluh-puluh tahun yang lalu oleh Soeharto dan Orba. Dari sini Stebby ingin mengajak masyarakat untuk saling mencintai dan menghargai perbedaan, menjunjung toleransi dan hidup rukun dalam keberagaman.

Kericuhan yang terus berlanjut di beberapa daerah dan tempat karena perbedaan semakin membuat Stebby gelisah, makin membuatnya tidak terima dan kecewa pada kenyataan. Dengan jelas ia gambarkan pada kalimat, /16Rabu, aku lahir dari perbedaan, dari ayah jawa dan ibu ambon. 17Tak hanya itu, Apa yang mereka sembah pun (awalnya) berbeda. 18Papa membungkuk ke arah terbenamnya matahari. 19Sedang mama melipat tangan setelah mendengar genta didentangkan. Hingga segalanya seperti bahtera yang harus ditanggalkan kala menyusuri daratan/. Saya membacanya sebagai sebuah pil pahit kekecewaan tatkala perbedaan itu harus diseragamkan dengan dalih cinta dan rumah tangga. Dalam hal ini seolah perbedaan dan keberagaman makin tak dihargai.

Kegelisahan dan kekecewaan itu semakin memuncak ketika keluarga dan masyarakat sekitarnya juga mempertanyakan pilihan jalan hidupnya yang berbeda dengan orangtuanya. /21lantas para penghuni dermaga bertanya padaku,’’mengapa tak kau kayuh biduk yang sama dengan mereka-orangtuamu?’’ /22Rabu, mungkin kita bisa menyusu; kita terbiasa menyusu tapi tak untuk selamanya. 23akan datang waktu dimana kita disapih, dijauhkan dari puting kenang sejarah ibu/. Baris-baris ini mengandung pemberontakan batin yang luar biasa. Seorang anak sudah seharusnya mengikuti jejak langkah orang tua terlebih ibunya. Namun semua itu bukanlah sesuatu yang paten. Akan ada suatu masa di mana seorang anak akan dipisahkan atau memisahkan diri dari seorang ibu—hidup mandiri dan memilih masa depannya sendiri. Menentukan sendiri jalan hidupnya tanpa terikat dengan sejarah dan segala masa lalu ibu dan keluarganya.

Pada bait selanjutnya Stebby ingin menegaskan sikap dan pilihan hidupnya yang berbeda dengan orang tuanya: /24Sepeda yang kukayuh meninggalkan buritan semakin jauh. 25Menyongsong sendiri matahari yang kuciptakan dengan membelah jariku menjadi lima bagian. 26Sayangnya, sepertinya tepat sekali, Jari ketiga untuk persatuan Indonesia. Di bagian ini Stebby menunjukkan bahwa ia memilih jalan hidupnya sendiri yang dia gambarkan dengan bersepeda ke arah yang berbeda. Mengejar mimpi dan keyakinannya sendiri. Penggunaan kata sepeda di sini seolah ingin menunjukkan bahwa itu adalah pilihan yang berat. Pilihan yang membutuhkan usaha terus menerus sebagaimana kita bersepeda, harus terus dikayuh bedalnya agar tetap melaju dan tidak jatuh. Ia harus berusaha dengan keras agar sampai pada puncak cita yang ia gambarkan dengan matahari, memberikan penerangan dan kebaikan kepada semua mahluk tanpa memandang perbedaan apa pun.

Metafora-metafora yang dipakai stebby sangat halus namun juga tajam menghunjam tepat pada jantung permasalahan kita yaitu kurangnya rasa persatuan. Menurutnya persatuan Indonesia digambarkan dengan mengacungkan jari ketiga (jari tegah) yang sebagian orang dimaknai sebagai isyarat umpatan dan makian. Sebab persatuan itu belum tercipta karena belum bisa menghargai perbedaan dan keberagaman.

Semakin jauh perbedaan itu semakin tidak dihargai. Semakin banyak hal-hal sepele yang tak seharusnya dipertentangkan dan dipermasalahkan. /27Dari gelap, Kusimak, Orang-orang mulai ribut. 28Mempertentangkan huruf pada baju seseorang penyanyi wanita. 29Mengekalkan tanda-tanda mana yang harusnya ia kenakan. Dari kejauhan dan dari arah yang tak banyak orang sorot dan perhatikan Stebby melihat semakin banyak orang dan masyarakat yang suka mengurusi urusan orang lain sampai pada urusan pribadi yang sebenarnya menjadi hak primordial setiap orang.

Di akhir puisinya, Stebby menunjukkan kegelisahannya dan mempertanyakan lagi: jangan-jangan semua ini memang skenario Tuhan. /30Rabu, jangan-jangan Tuhan sendirilah kebencian itu. Di sorga, ia lepas tertawa, melihat umatnya yang lelas, lagi gemas/. Saya melihat dalam puisi ini sebenarnya Stebby ingin mengajak kita untuk semakin sadar dan menghargai perbedaan, yang diturunkan Tuhan sebagai rahmat dan anugerah. Dengan adanya perbedaan seharusnya kita bisa tertawa lepas, bukannya lekas marah dan saling menghujat.

Komentar

News Feed