oleh

Belajar “Lapar” dari Knut Hamsun

-Senggang-125 views

abc.net.au

Suatu hari Jeffrey Franks, wartawan kolumnis majalah New Yorker datang ke Norwegia. Ia berencana memburu buku-buku dari Knut Hamsun di toko-toko buku kota Oslo. Saat mencoba bertanya pada penjaganya ia selalu menerima jawaban, “Knut Hamsun? Dia adalah seorang Pengkhianat negeri ini.”              

Nama Knut Hamsun, penulis asal Norwegia, tercoreng dan dicap sebagai pengkhianat di negerinya sendiri. Padahal Hamsun merupakan pelopor sastra modern, yang tentu membuat negaranya dikenal banyak orang. Posisinya dalam sastra modern seringkali disejajarkan dengan Nikolai van Gogol dalam sastra Rusia yang mencapai bentuk puncaknya pada karya-karya Fyodor Dostoyevsky, Leo Tolstoy dan sesudahnya.

Tentu bukan tanpa alasan Hamsun dikatakan sebagai pengkhinat. Konstelasi politik Eropa dan Norwegia selama berlangsungnya Perang Dunia II menjadi pemicu julukan tersebut. Ketika negara-negara Skandinavia membentuk front bersama untuk netral dalam pertikaian global antara kelompok AS dan Sekutu, lalu dilanjutkan dengan invasi Hitler ke negeri di bagian utara semenanjung itu, Knut Hamsun menunjukkan simpatinya kepada Jerman.

Tidak tanggung-tanggung, Knut Hamsun bahkan memberikan medali Nobel yang diraihnya pada tahun 1920 kepada Goebbels, menteri kebudayaan Jerman di era Hitler. Bahkan selepas kematian Hitler, dalam salah satu tulisannya, ia mengatakan dunia telah kehilangan salah satu orang terbaik. Seringkali pula Hamsun memuji-muji beragam prestasi Hitler di saat bangsa Eropa mengecamnya sebagai pemimpin tersadis.

Terlepas dari itu semua, Hamsun Muda telah memberikan sumbangsih besar dalam perkembangan kesustraan dunia. Novelnya yang bertajuk “Lapar” menjadikannya sebagai penulis yang banyak digemari dan dijadikan rujukan penulis-penulis masa kini. Sebut saja  Isaac Bashevis Singer, sastrawan Amerika berdarah Yahudi dan peraih hadiah Nobel tahun 1991 mengakui banyak terinspirasi dari novel-novel Hamsun. Begitu pun di Indonesia, Eka Kurniawan adalah pengagum berat penulis yang sempat menjadi tukang pos pamannya tersebut.

 Dalam situasi penuh dengan ketidaktenangan, dan tentu keadaan penuh kelaparan Hamsun menjadikan itu sebuah bentuk tulisan yang ia beri judul “Lapar”. Lika-liku kehidupannya tidak membuatnya menyerah untuk terus menulis dan berkarya.

Perjalanan tokoh ‘aku’ yang adalah seorang penulis muda, demikian menderitanya, nyaris melampaui derita para gelandangan yang sering ditemui di jalan-jalan kota besar. Suasana kejiwaan tentang lapar langsung terasa pada pembukaan bagian pertama paragraf dua, ‘Aku sedang terkapar, terjaga, dalam kamarku di loteng rumah.

Demikian Hamsun Muda menahan lapar berhari-hari hingga tak ada sesuatu pun yang masuk ke perutnya. Tampangnya begitu memprihatinkan, kurus dan menyeramkan, sampai rambut di kepalanya rontok bergumpal-gumpal. Terkadang karena harus menahan lapar, ia memunguti kepingan-kepingan kayu di pinggir jalan untuk digigit, atau batu-batu kecil yang dibersihkan untuk sekadar dihisap, serta mengemis tulang dari tukang daging dengan alasan untuk anjingnya yang kemudian ia makan daging mentah tersebut. Kemudian dimuntahkannya kembali saking mualnya menelan daging mentah.

Sekalipun menderita kelaparan, ia tak mau menjadi gelandangan atau pengemis yang hidup hanya dengan mengandalkan belas kasihan orang lain. Sebab ia menyadari di dalam dirinya ia punya sesuatu yang bisa memberinya lebih daripada sekadar makanan. Ia menulis artikel, atau cerita bersambung untuk dikirm ke majalah-majalah dan koran.

Jika lebih telisik, novel Lapar merupakan sindiran halus kepada generasi muda—penulis yang menganggap bahwa berkarya tidak bisa jika pada kedaan lapar—tidak bahagia, miskin, dan semacamnya. Yang mana hal itu dijadikan alasan-alasan paling manjur.

Mungkin benar, keadaan lapar memang lebih dekat disematkan terhadap orang-orang yang tidak bahagia, penuh kesengsaraan. Kadangkala urusan lapar—tidak ketersediaan makanan, seringkali juga menimbulkan pertikaian. Katakanlah, dalam kerja-kerja organisasi. Atau dalam dunia pekerjaan—tidak adanya perasaan saling mengerti untuk sekadar membeli semacam lauk dan lainnya menjadikan kinerja tidak maksimal—bubar.

Semisal, seorang pengusaha mengeluh lantaran usahanya tak kunjung berkembang. Bahkan karyawannya banyak berhenti. Usut demi usut ternyata disebabkan oleh ketidakterjaminannya kebutuhan hidup, dalam hal ini makanan. Mungkin tidak hanya hal tersebut, tetapi itulah yang tampak kenapa usahanya tidak berjalan.

Jika seorang pekerja seks komersial terpaksa menjual diri karena masalah keuangan, begitu juga para pekerja yang tidak mau bertahan dalam satu managemen sebab kelaparan.

Semestinya kita harus banyak belajar dari novel “Lapar” karya Hamsun. Keterbatasannya soal kebutuhan hidup—lapar, tidak menjadikannya sebagai hambatan untuk tetap menulis. Tak ada alasan yang menganggu dirinya untuk tidak menulis. Bahkan keterpurukannya, hidup luntang-lantung berhasil mengantarkan Hamsun meraih penghargaan nobel sastra.  

Belakangan, banyak terdapat orang-orang tidak bisa berkarya tersebab memiliki keterbatasan tersebut—lapar. Seharusnya keadaan lapar menjadi motivasi besar untuk tetap berkarya. Knut Hamsun kecil mampu bertahan atas penganiayaan sang paman, Hans Olsen, dalam pekerjaan yang tidak mudah selama bertahun-tahun. Tetapi Hamsun mengaku di situlah roh novel Lapar muncul; menempa jiwanya, tahan uji, yang pasti tahan lapar.

 Pada akhirnya dapat diambil kesimpulan mengapa kita harus belajar lapar dariKnut Hamsun. Jelas, semangat hidupnya yang luar biasa, mengantarkan ia meraih puncak kesuksesan dalam dunia sastra. Lapar tidak menjadikan persoalan berlangsung berlarut-larut. Di samping itu ia sangat beruntung, semangat hidup yang dimilikinya mampu bertahan sampai ia benar-benar menemukan apa yang ia cari. Seandainya ia Thomas Chatterton, pemuda Inggris di abad-18, ia akan mati bunuh diri sebab sadar bahwa menulis dan berkarya tidak sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya.

Barangkali benar, menjadi penulis tidak menjamin keberlangsungan hidup. Dan Hamsun berhasil keluar dari kungkungan itu semua. Sebagaimana akhir-akhir ini, banyak di antara kita mengeluh sebab lapar lebih dulu datang menghambat pikiran-pikiran kreatif, dan dijadikan senjata untuk tidak berkarya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed