oleh

Berkenalan dengan Buku

Mengenang kembali ke masa kanak-kanak, saya merasa tidak memiliki pengalaman-pengalaman luar biasa dalam berkenalan dengan buku. Masa kanak-kanak saya habiskan membantu Ibu mengarit rumput atau ikut Bapak membajak ladang. Di masa itu saya pergi ke sekolah dan ke musala, tapi selain pelajaran yang diberikan guru, sepanjang yang saya ingat, saya tidak pernah berkenalan dengan buku-buku.

Bertahun-tahun kemudian, ketika masuk di perguruan tinggi, saya juga belum begitu tertarik mengenali buku-buku, bahkan mengenali diri saya sendiri saya belum mampu. Saya belum mampu menjadi seperti apa yang dikatakan Boss dan Binswanger, bagaimana manusia meng”ada” dalam dunia sesuai dengan identitas dirinya.

Buku pertama yang saya beli di awal-awal menjadi mahasiswa adalah Dialektika Marxis: Sejarah dan Kesadaran Kelas, karya Georg Lukacs. Tapi sayang, buku itu tidak saya baca hingga selesai. Bahkan kalau mau jujur, hanya beberapa lembar, setelah itu saya tinggalkan. Membaca buku itu saya seperti memasuki hutan bahasa dan sulit mencari jalan pemahaman. Seperti memasuki hutan alis seorang perempuan, saya tersesat di dalamnya, lalu tidak mampu mencari jalan pulang menjadi diri saya yang sebelumnya.

Keinginan membaca buku tentang Marx sebenarnya muncul dari pengalaman saya mengikuti sebuah pelatihan. Seorang pemateri menyampaikan, dengan cara berorasi yang melepuh, tentang kesadaran kelas. Dikatakan, kesadaran kelas menjadi sebuah keniscayaan di saat itu, yang tidak bisa dilepaskan dari materialisme historis, yang menjadi alat dan metode kelas proletariat memperjuangkan kelasnya di hadapan kelas borjuis. Topeng-topeng masyarakat kapitalis ditelanjangi.

Sebagai seseorang yang awam akan bacaan, saya begitu tertarik mendengarkan. Sebenarnya bukan sepenuhnya tertarik pada isi yang ada, melainkan pada bagaimana pemateri itu menyampaikan semua gagasan-gagasan tentang Marxisme dengan penekanan-penekatan tertentu sehingga ucapannya terkesan meyakinkan—sekaligus memesona. Setidaknya, bagi saya yang masih polos akan pengetahuan. Pengalaman-pengalaman seperti itu tidak saya dapatkan di tahun-tahun kemudian, karena—saya menduga—mulai mengeringnya SDM-SDM yang mampu menguasai teknik penyampaian materi pelatihan seperti itu, sekaligus isi materinya. Maklum, waktu itu saya adalah salah satu bagian terkecil dari sebuah pergerakan mahasiswa, yang entah kenapa, maunya sering mengkritik dosen-dosen yang menyampaikan materi kuliah dengan cara melempem seperti kerupuk terlalu lama bergadang.

Maaf, saya harus menyinggung ini. Saya punya pengalaman mengerikan dengan beberapa dosen. Beberapa kali saya bertanya di dalam kelas, tapi malah dianggap ingin menguji pengetahuan dosen itu. Beberapa kali juga saya mencoba mengkritisi materi yang disampaikan, dosen tersebut marah. Menyuruh saya keluar ruangan dan tidak memperbolehkan saya masuk kelas di kuliah berikutnya. Sejak saat itu sebuah pandangan baru lahir di kepala saya: guru atau dosen bukan satu-satunya sumber informasi, dan mereka bukan dewa yang lepas dari segala salah.

Pandangan itu mengantarkan saya untuk berkenalan dengan buku yang lain, Sejarah Sosial Media: Dari Gutenberg Sampai Internet, karya Asa Briggs dan Peter Burke. Sama seperti buku sebelumnya, saya juga tidak khatam membaca buku ini. Tapi dua tahun kemudian, ketika saya menulis skripsi tentang Digital Media, buku ini banyak membantu. Kira-kira tahun 1450 mesin cetak ditemukan di Eropa oleh Johann Gutenberg. Tapi sebelumnya, mulai abad ke 8, Cina dan Jepang sudah melakukan teknik percetakan.

Ada kenangan cukup manis waktu pertama kali saya ingin memperoleh buku itu. Teman-teman kelas tak ada yang mau memilikinya. Mungkin terlalu tebal, meski tidak setebal buku Kumpulan Sajak Sitor Sitomurang 1948-2008. Saya menawarkan diri untuk memiliki buku itu, dan dosen saya dengan senang hati membelikannya. Ah, saat itu, sebelum saya mengenal keindahan kasih sayang seorang gadis, itu kenangan paling manis.

Tapi buku-buku datang bukan hanya dibiarkan menghuni rak tanpa memperoleh sentuhan intim dari pemiliknya. Buku berikutnya yang saya baca nyaris khatam adalah Dunia yang Dilipat, karya Yasraf Amir Piliang. Ketidakmampuan mengkhatamkan buku itu bukan terletak pada keterbatasan memahami isinya seperti yang terjadi pada buku Dialektika Marxisme, melainkan ketidaksanggupan diri menahan godaaan buku lain, baik buku yang dicetak oleh penerbit dan dipasarkan di berbagai toko maupun buku ciptaan Tuhan yang tidak bosan dibaca dan dipahami, tidak hanya melalui pandangan melainkan juga rabaan dan sentuhan.

Di masa SMA, sebetulnya saya sudah membaca kitab-kitab seperti Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali, Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Ta’lim al-Muta’allim karya Burhanuddin az-Zarnuji, dan berbagai macam kitab lain. Tapi karena cara membacanya yang sulit, karena lebih dulu harus belajar ilmu alat (Nahwu, Saraf, dan bahasa Arab) agar bisa membaca huruf-huruf yang tidak memiliki harakat—kitab gundul, kitab-kitab itu dibaca hanya ketika di dalam kelas. Di luar itu, saya lebih suka membaca novel-novel karya Habiburrahman El-Shirazy, dan beberapa novel lain dari penulis berbeda. Saya sudah lupa judul-judul dan para penulisnya.

Jika ada hal yang harus diingat dari masa lalu, ingatlah, sebab itu tidak akan membuat dirimu sedih berlarat-larat. Pertemuan saya dengan seorang teman, kira-kira tahun 2016, membuat saya mengerti makna eksistensi diri dalam pandangan psikologi eksistensial yang diujarkan Boss dan Binswanger, keberadaan manusia berkaitan dengan bagaimana cara manusia itu mengada. Tidak ada kata terlambat. Petualangan bersama buku-buku pun dimulai. Novel-novel sastra mulai menghuni rak buku. Buku-buku filsafat, sosial dan kebudayaan datang susul-menyusul.

Tapi seperti keputusan mengutarakan rasa cinta kepada seorang gadis, yang setelah itu harus disertai dengan tindakan-tindakan melindungi, menyayangi, dan melakukan hal-hal yang membuat gadis itu bahagia, membawa pulang buku dari toko juga demikian. Dibaca dan dipahami, meski untuk membaca kita tidak perlu terjebak pada pemikiran apakah setelah itu kita akan memahami dan terus mengingat isinya. Seperti memori ponsel atau hardisk laptop, otak sudah didesain oleh Tuhan untuk merekam dan menyimpan segala hal yang ditangkap oleh panca indera. Kalau pun lupa beberapa hal, itu hanya bagian kecil dari kesalahan teknis mengoperasikan memori.

Ada kalimat menarik yang sayang untuk diabaikan. Temukan satu buku yang membuatmu bisa mencintai membaca! Banyak orang bilang, membaca novel adalah gerbang memulai aktivitas membaca. Apakah benar? Barangkali belum ada angka-angka yang dapat membuktikan perkataan itu, tapi kalian bisa membuktikannya.

Dewasa ini buku-buku terus diproduksi. Frekuensi kecepatan produksi buku sendiri tidak diikuti oleh frekuensi seringnya membaca buku—minat membaca. Belum tentu dalam setahun kita bisa mengkhatamkan lebih dari 5 buku dengan asumsi apabila dalam seminggu kita hanya membaca 3-4 kali dengan durasi waktu sekali baca setengah hingga satu jam. Tapi apa pun itu, harapan tetap ada. Mengingat dewasa ini akses untuk mendapatkan buku sangat mudah. Jalan-jalan ke taman di hari Minggu, misalnya, selalu ada sekelompok anak-anak muda yang menyediakan lapak membaca buku.

Lalu, kurang apa lagi? Mari…

Latif Fianto, menulis fiksi dan nonfiksi. Novel pertamanya, Batas Sepasang Kekasih (Basabasi, 2018).

Komentar

News Feed