oleh

Bicara Cinta Bicara Perasaan

Kepada

berkediplah padaku sekali saja # biar aku kenang sepanjang usia

(Sofyan RH. Zaid, Pagar Kenabian)

Bicara soal cinta, berarti bicara tentang perasaan. Cinta, pada hakikatnya, bukan bahasa lisan, melainkan bahasa sebongkah daging bernama hati. Itulah kenapa cinta bukan hanya soal kata-kata, tetapi juga pembuktian. Artinya, cinta tidak hanya diucapkan dalam lisan, tetapi harus mengakar dalam hati, dan dibuktikan dengan perbuatan.

Tetapi dewasa ini cinta sudah bagai kapas yang banyak bertaburan dan kita bisa menemukannya di mana-mana. Kata-kata sejenis itu sudah bertebaran di jalan-jalan, bahkan hingga banyak yang terbuang percuma ke tempat sampah. Saya merasa kasihan pada kata-kata, yang tanpa melakukan kesalahan apa pun, dibuang begitu saja, seolah tanpa makna, seolah tanpa kesakralan. Mungkin—karena berbagai alasan—orang-orang sudah tidak percaya pada kekuatan kata “cinta”.

Kian waktu, kata sejenis “sayang”, “cinta”, dan sejenisnya mulai kehilangan makna terdalamnya. Kata-kata sejenis ini, dalam beberapa kasus, diutarakan bukan untuk merawat kasih sayang, tetapi sekadar untuk menjadikan sebuah hubungan tak putus. Kata “cinta” dan “sayang” diutarakan hanya untuk mendinginkan suasana, meredam amarah orang yang dicinta. Apakah perlu? Tentu perlu. Tapi, mungkinkah kita terus-menerus menjadi orang munafik—bagi Mochtar Lubis orang Indonesia itu hipokrit alias munafik—dengan terus berkata “cinta” dan “sayang” sementara hati sudah merasa tak nyaman?

Saya tidak sedang menyarankan Anda untuk segera berpisah dengan pasangan Anda apabila ternyata dalam menjalani hubungan sudah terdapat tanda-tanda mencurigakan. Misal, pasangan Anda mulai acuh, tak membalas chat, susah sekali ditemui, menyembunyikan ponsel, dan lain-lain. Kalaupun saya menyuruh demikian, tentu Anda akan membantah begini: saya sudah terlanjur sayang dan cinta. Saya tidak bisa hidup tanpanya. Beberapa kali saya mendapati kawan-kawan, terutama perempuan, yang tetap memilih bertahan dalam sebuah hubungan padahal sudah berkali-kali disakiti oleh pasangannya. Saya tidak menyalahkan mereka, karena hati, sekali memilih, tidak akan mudah berpindah ke lain bilik. Apalagi perempuan. Sekali mencintai laki-laki, ia akan mencintainya lebih daripada cinta kepada dirinya sendiri.

Kalau Anda pecinta sinetron, film atau novel, mungkin Anda sudah banyak bertemu dengan kisah cinta-kisah cinta yang begitu kuat. Kisah cinta Zainudin dan Hayati dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck hasil produksi Soraya Intercine Films yang diadopsi dari novel dengan judul yang sama karya Buya Hamka termasuk kisah cinta yang kuat meski pada akhirnya mereka tidak bersatu. Anda mungkin akan berkata, cinta yang kuat harus berakhir di pelaminan. Kalau tidak demikian, pastilah itu cinta yang rapuh, yang patah sebelum berkembang, yang runtuh sebelum berdiri. Pikiran semacam itu sah-sah saja.

Film India berjudul Jab Tak Hai Jaan barangkali akan menjadi referensi yang bagus dalam menjelaskan bagaimana cinta yang kuat tidak akan mudah runtuh. Mayor Samar Anand, yang merasa dikecewakan oleh kekasihnya, Meera, yang sebenarnya sudah dijodohkan dengan laki-laki lain oleh ayahnya, memilih menghabiskan sisa hidupnya menjadi pasukan atau tentara penjinak bom. Meera percaya, jika Samar Anand tidak dengannya—hubungan mereka berakhir—Samar Anand akan hidup. Tapi sejak itu Samar Anand berjanji akan menerima kematian setiap hari. Ia ingin membuktikan sampai berapa lama ia tetap hidup tanpa Meera. Anda tahu apa kata Samar Anand ketika ditanya seorang wartawan perempuan kenapa ia tidak mengunakan pelindung bom saat melakukan tugasnya? Pelindung bom hanya digunakan untuk berlindung dari bahaya, luka atau sedang terluka. Tapi lebih dari sekadar bom, hidup lebih menyakitimu. Di setiap sudut ada pengkhianatan, rasa sakit. Setiap hari hidup membunuh kita sedikit demi sedikit. Tapi bom akan membunuh kita hanya sekali.

Pada akhirnya, benar bila orang-orang bilang, “cinta” dan “sayang” bukan sekadar kata-kata tanpa makna. Keduanya bukan layang-layang melayang di udara tanpa benang. Memang banyak pasangan yang bersatu dikarenakan dua kata itu. Tetapi apabila dua kata itu diucapkan dengan tergesa-gesa, tidak sedikit juga biduk rumah tangga yang pada akhirnya terhempas sebelum mencapai bibir dermaga.

Menurut laporan Dirjen Peradilan Agama Mahkamah Agung, yang dilansir dari Republika.co.id, tren angka perceraian di Indonesia terus meningkat dengan rata-rata 3 persen dari tahun ke tahun. Terdapat 344.237 kasus percaraian pada 2014, menjadi 365.633 pada tahun 2016. Menurut Psikolog Ajeng Raviando, dalam sebuah forum perbincangan di Jakarta, tren perceraian di tahun 2018 meningkat hingga 15-20 persen. Ini hanya angka. Anda tidak perlu takut untuk menikah.

Dari sekian banyak kasus, faktor utama pemicu perceraian adalah ketidakharmonisan. Terlepas dari faktor-faktor yang dapat menyebabkan retaknya keharmonisan dalam sebuah hubungan—saya kira Anda lebih banyak tahu daripada saya, hehe—saya melihat ada kemungkinan bahwa sebuah hubungan sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda hilangnya kesakralan. Di Barat, orang-orang sudah biasa menikah setelah mereka punya anak. Di beberapa belahan dunia—mungkin tidak di Indonesia. Mungkin—ada banyak orang yang memiliki anak tapi tidak punya pasangan. Seolah itu tidak lebih buruk dari orang yang terikat dalam suatu hubungan tapi mencintai orang lain. Maka, akan sampai pada suatu titik di mana pernikahan bukan lagi ritual yang penuh nilai-nilai spiritualitas, melainkan hanya ritual untuk melegitimasi seksualitas. Bagi beberapa orang yang sudah sering menikah, mengucapkan ijab kabul di depan penghulu bukan sesuatu yang istimewa. Pernikahan yang berulang-ulang atau pernikahan yang mengalami reproduksi, pada akhirnya akan menyebabkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mengalami distorsi. Kok bisa?

Pada pesan yang disampaikan berulang-ulang, di samping pesan itu mengandung redundansi, ia sekaligus miskin informasi. Kata Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Dunia yang Dilipat, sebuah pesan mengandung sedikit informasi, bila terdapat sedikit kebaruan, ketidakterdugaan dan ketidakpastian. Seorang laki-laki yang baru pertama kali hendak menyatakan perasaannya pada perempuan akan mengalami titik kecemasan dan ketidakpastian. Sepasang kekasih yang sedang menghadapi detik-detik prosesi ijab kabul, akan berada di titik itu juga. Ketika orang tua atau kawan terdekatnya bertanya kenapa ia kelihatan cemas, ia akan menjawab, ah, tidak apa-apa. Padahal semua persiapan sudah selesai. Ia hanya tinggal mengucapkan ijab kabul. Ketidakpastian yang ia hadapi dalam hubungan yang akan dijalani itulah yang membuat sebuah hubungan menjadi sesuatu yang penting, istimewa, sakral, dan penuh dengan informasi dan makna baru.

Anda pasti bosan selalu mendengar seorang perempuan di dalam minimarket di tepi jalan raya bilang “Selamat pagi dan selamat berbelanja.” Kata-kata itu diucapkan setiap calon pembeli datang. Akhirnya kata-kata itu terdengar membosankan dan dianggap sebagai basa-basi yang tak memiliki arti. Petugas itu pasti mengucapkannya dengan sunggingan senyum manis. Apakah Anda GR melihat perempuan itu tersenyum pada Anda? Jangan dulu. Senyum itu hanya topeng dan tipu muslihat agar Anda kembali lagi ke minimarket itu. Jika Anda melihat senyum perempuan itu sebagai tanda cinta dan sayang, berarti Anda sudah tertipu. Jangan semudah itu untuk tertipu. Jika pun harus tertipu, tertipulah yang berkualitas.

Namun jangan khawatir! Merasa GR menandakan Anda masih memiliki perasaan. Perasaan yang masih hidup adalah modal utama untuk jatuh cinta. Jangan takut untuk memulai dan menjalani sebuah hubungan. Memang banyak hubungan yang berakhir di tengah jalan. Tetapi juga banyak hubungan yang bertahan hingga kematian, tergantung apakah Anda tetap ingin merawat bahasa-bahasa cinta yang dapat menguatkan hubungan itu atau tidak.

Setiap orang memiliki bahasa cinta yang berbeda-beda, dan kita harus mengerti bahasa itu agar hubungan langgeng-sentosa. Dalam menjalani sebuah hubungan, ada orang-orang tertentu yang mementingkan afirmasi (perilaku positif), ada yang mementingkan kebersamaan (waktu berkualitas), sebagian lain lebih menyukai hadiah, sebagian yang lain lebih senang bila pasangannya meladeni dan membantu, dan beberapa yang lain menyukai sentuhan serta belaian. Bahasa-bahasa cinta itu adalah lima bahasa cinta yang diuraikan Gary Chapman dalam bukunya The 5 Love Languages. Apabila bahasa-bahasa cinta itu mampu dirawat dan dijaga kemurniannya, bukan tidak mungkin sebuah hubungan akan langgeng dan “selamanya.”

Sebagai generasi muda yang masih berdarah-darah mengejar orang yang kita cinta, kita tidak perlu pesimis akan terjebak pada hubungan yang penuh kepalsuan, ilusi, penampakan ketimbang makna-makna. Senyampang kita mampu merawat cinta dan bahasa di dalamnya, sebuah pohon bernama cinta akan tetap tumbuh rindang di atas tanah.

Komentar

News Feed