oleh

BNPT Pegang Data Mahasiswa dan Dosen yang Terlibat Terorisme

Foto: Kepala BNPT, Boy Rafli Amar (Instagram: @boyrafliamar).

Indotribun.id, Jakarta- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bicara soal kelompok radikal diduga terkait jaringan terorisme dengan latar belakang kalangan kampus. Pihaknya mengaku telah memegang data Dosen dan Mahasiswa yang terlibat ideologi radikal.

“Jadi mereka yang pernah teridentifikasi sebagai pihak yang terlibat itu beragam latar belakang. Termasuk dari kalangan kampus juga ada. Kita punya data itu,” ungkap Boy Rafli saat berkunjung ke Universitas Bung Karno, Jakarta, Selasa (24/5/2022).

“Identifikasi beberapa, yang berlatar belakang tenaga didik bahkan ada, berlatar belakang mereka pernah menjadi mahasiswa juga ada,” imbuhnya.

Dalam hal ini, Boy tak menjelaskan secara detail jumlah dan nama kampus yang disebutnya terdapat kelompok radikal itu. Namun dirinya menyampaikan pihaknya melalui kerjasama dengan berbagai kampus dapat memegang data tersebut.

“Biasanya kampus yang teridentifikasi kita, ini atas dasar kerja sama kita dengan kalangan civitas akademika, termasuk rektor. Tapi yang jelas itu hasil komunikasi konstruktif kami dengan beberapa kampus,” ujarnya.

Tak hanya itu, dirinya menyampaikan kalangan Dosen dan Mahasiswa termasuk golongan yang paling rentan dirasuki dan menyebarkan paham-paham terorisme. Namun, pihaknya akan terus melakukan pencegahan masukan ideologi radikal tersebut.

“Kami melihat kalangan kampus yang didominasi mahasiswa merupakan kelompok rentan yang perlu kita ingatkan. Tugas kami BNPT mengingatkan semua pihak, membangun kesepahaman, kebersamaan, melawan ideologi terorisme,” kata dia.

Boy berharap kerja sama dengan pihak kampus akan membuat ketahanan masyarakat atas paham radikal terorisme semakin baik.

“Kita inginkan adanya ketahanan masyarakat kampus dari pengaruh paham radikal terorisme yang berbasis kekerasan. Kita tidak ingin anak bangsa kita dimanfaatkan oleh pihak tertentu sebagai bagian perjuangan mereka yang ternyata karakternya menghalalkan segala cara, berbaris kekerasan, intoleran, menumbuhkan kebencian pada negara, anti-nasionalisme,” ujarnya.

(Dik/Hrs)

Komentar