oleh

Buruh dalam Cengkeraman Ganda

Vunela

Bagi saya, label “pahlawan tanpa tanda jasa” tak hanya dialamatkan pada guru semata, melainkan juga pantas disandang para buruh. Dalam lintasan bangunan ekonomi, suatu negara termasuk Indonesia, telah menempatkan buruh sebagai pilar penyangga peradaban ekonomi. Kebutuhan sandang, pangan dan papan yang kini menjadi santapan primer manusia,  berasal dari hasil keringat buruh. Meskipun demikian, pemodal dan pemangku kebijakan acap kali kurang mengapresiasi jasa buruh yang memukau itu.

Momentum 1 Mei 2020 (May day) merupakan hari istimewa bagi buruh di berbagai belahan dunia. Dari tahun ke tahun perayaan may day penuh dengan berbagai macam atraksi seremonial berupa demonstrasi, pawai, dan lain sebagainya. Tradisi ini dihiasi tuntutan-tuntutan atas hak-hak dasar buruh yang kerap diabaikan oleh pemangku kepentingan.

Jika menakar problem buruh yang menggelinding ke permukaan, ibarat fenomena gunung es, persoalan buruh terlihat hanya di permukaan saja, namun faktanya akar masalahnya kompleks dan sangat rumit. Tetapi yang pasti, inti permasaalahan yang menenggelamkan buruh pada samudera kehancuran bersumber dari perahu kebijakan pemodal dan pemangku kepentingan yang berat sebelah.

Perjuangan kelas “buruh”

Saya mungkin tidak sepemahaman bahkan berseberangan dengan kalangan akademisi terutama mahasiswa yang menganggap “perjuangan kelas ala Karl Marx” tidak relevan dengan situasi ekonomi bangsa saat ini. Sedikit menelanjangi postur pemikiran Marx yang melucuti perjuangan kelas atau biasa disebut konflik kelas adalah ketegangan yang terjadi dalam masyarakat kapitalis, karena persaingan kepentingan sosial-ekonomi dan keinginan yang berbeda antara satu kelas dengan kelas lainnya. Dalam kacamata Marx konflik kelas itu terjadi antara Proletariat (buruh) dan borjuis (pemodal) bertengkar secara diametral. Proletariat menginginkan upah dan hak dasar lainnya terpenuhi, sementara borjuis menginginkan upah yang ala kadarnya dengan tuntutan produktivitas pendapatan perusahan kian tinggi.

Bagi saya, momentum May day telah mengantarkan para buruh ke alam pikiran Marx tentang perjuangan kelas. Pasalnya, dalam aksi-aksi solidaritas yang menggema saat hari buruh internasional berlangsung, para buruh selalu mengumandangkan beberapa tuntutan yang seragam berupa kenaikan upah, tunjangan kesejahteraan, jaminan sosial, kesetaraan gender dan lain sebagainya. Tampak jelas, hal demikian seirama dengan buah pikiran Marx. Yang jelas, manakala kebijakan para pemodal dan pemangku kepentingan selalu mengenyampingkan hak dasar buruh, maka gaungan perjuangan kelas selalu meletup kepermukaan.

Di tengah jeratan ketidakberdayaan buruh akibat kebijakan perusahan dan struktur kekuasaan yang mencekiknya, kini giliran pandemi Covid-19 yang memperparah nasib buruh. Barangkali Secara perlahan para buruh mulai menyerah dalam kesengsaraan.

Buruh pada masa Pageblug Virus Corona

Organisasi Buruh Internasional alias ILO menegaskan bahwa separuh dari seluruh pekerja di dunia yang berjumlah 1,5 miliar terancam bahaya kehilangan mata pencaharian mereka akibat pandemi virus corona. Indonesia sebagai negara berkembang dengan tingkat populasi penduduk terbanyak ke empat dunia dan memiliki tenaga kerja yang melimpah ruah, kini mulai terjerat kesengsaraan akibat kubangan Covid-19.

Menyimak perjalanan hidup seorang buruh pabrik di Sidoarjo saat pandemi Covid-19 berlangsung, telah menepaki mata hati dan pikiran saya. Singkat cerita, ia kehilangan pekerjaannya, ter-PHK oleh pabrik tempat ia bekerja. Hal itu dipicu karena pandemi Covid-19 yang kian mengganas, mencungkil kerongkongan hidupnya. Sementara tuntutan dan beban hidup di Sidoarjo terbilang tinggi. Ia harus menanggung biaya kredit di bank, biaya kontrakan, menafkahi sanak saudara dan biaya tak terduga lainnya. Pabrik tersebut merupakan ladang penyangga hidupnya, tak ada pekerjaan lain. Akhirnya, setelah ter-PHK, ia bingung tak tau harus bagaimana menanggulangi beban hidup yang dipikulnya.

Kasus buruh di atas merupakan persoalan mendasar dari setumpuk kasus buruh lainnya di tengah pandemi covid-19. Hal itu tidak bisa diuraikan satu persatu secara menyeluruh. Yang jelas wajah buruh pada masa pageblug virus corona, menandakan sisi buram. Mulai dari buruh ter-PHK, pekerja di rumahkan, gaji dipangkas, pekerjaan alternatif tersumbat dan lain sebagainya.

Bertolak dari hal di atas, telah mengantarkan saya pada titik gelap, bahwa momentum may day menyelimuti buruh dalam kubangan awan gelap. Di samping buruh mendapatkan perlakuan kebijakan setengah hati oleh pemodal dan pemangku kepentingan, buruh  juga dijamu pandemi Covid-19 yang bisa-bisa meregang nyawa. Akhirnya disparitas sosial buruh tak terelakkan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed