oleh

Cacat Moral Seorang Pemimpin yang Perlu Menjadi Pelajaran Berharga

Ilutrasi: Muka Dua Seorang Pemimpin (Ist.)

Indotribun.id, Pendidikan- Terlepas dari adanya perbedaan pendapat tentang perlu tidaknya kata-kata ‘cacat moral’ diluapkan secara eksplisit sebagai kultur bahwa sebagai pemimpin dalam sektor apapun (Komunitas, Lembaga, Organisasi, Partai, Pemerintahan, dll.) seperti gubernur, bupati atau wali kota (Baca; Pemerintah), atau organisasi kepemudaan dan mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Non Governmental Organization (NGO), Organisasi Ekstra (Ormek) Kampus dan semacamya.

Sesungguhnya kita semua pasti sepakat dalam hal substantif ini. Yaitu Pimpinan tertinggi harus bersih dari labeling cacat moral, baik dalam segi ucapan maupun perbuatan. Selain memang pemimpin tersebut sedari awal telah memiliki track record perilaku yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan, serta tidak melakukan hal-hal tercela, baik dalam pandangan lingkungan sekitar (masyarakat) maupun pandangan ajaran agama.

Misalkan saja, pemimpin yang dikenal sebelumnya sebagai penyanyi, atau penari erotis yang terbiasa memamerkan aurat tubuhnya, pernah diketahui orang terdekat dan lingkungannya melakukan tindakan asusila (perzinahan, perselingkuhan, dll) atau pernah melakukan pembunuhan, ataupun tindakan kriminalitas lainnya, apalagi berkata kotor pada yang dibawah atau yang diatasnya. Rasanya sulit untuk dijadikan figur utama dalam kepemimpinan yang sedang ia geluti.

Kondisi semacam ini juga berlaku di Amerika Serikat dan Eropa yang sebagian besar masyarakatnya memiliki pandangan hidup yang sekuler. Di negara-negara tersebut banyak pemimpin yang mengundurkan diri, atau sebagai calon, ia tidak terpilih karena alasan yang vital itu; cacat moral. Bahkan, banyak juga yang jatuh kekuasaannya karena hal perilaku yang buruk.

Masalah moral adalah persoalan universal yang berlaku bagi siapa saja, kapan dan di manapun. Artinya, setiap hati nurani orang, pasti ingin mendapatkan pemimpin yang baik moralnya. Sebab, fitrah manusia ingin mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Kebaikan adalah sesuatu yang menyebabkan ketenangan. Sedangkan dosa atau keburukan adalah sesuatu yang meragukan dalam hati dan akan terasa malu jika diketahui orang lain.

Apalagi eranya sudah seperti saat ini, meski kita berada pada suatu atap dalam sebuah lingkungan, kita seakan telah dihegemoni dengan barang genggaman yang kita miliki. komunikasi yang tidak lagi secara langsung verbatim, saat ini kita dihubungkan dengan suatu sistem yang mengharuskan kita berkomunikasi dengan barang pintar yang sering kita sebut telepon genggam.

Dalam bermedia sosial atau pada saat berkomunikasi dengan lawan bicara kita, hanya ada dua hal yang perlu diperhatikan, pertama apakah ia paham apa yang sedang dibacarakan baik secara spikologis, maupun komunikatif. kedua, jangan-jangan lawan bicara kita memiliki arti lain dari apa yang sedang dibicarakan. inilah yang seharusnya diperhatikan dengan jelas.

Pemimpin dalam sebuah organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan memiliki peran utama untuk menggerakkan bawahan melakukan kegiatan yang bermanfaat dalam segala aspek, sosial, agenda kerja, dan kehidupan. Mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, budaya, dan juga akhlak serta moralnya.

Pemimpin yang dipercaya oleh kalangannya karena ia layak dijadikan panutan dan teladan, akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Karena itu, keteladanan menjadi faktor utama dalam memimpin. Sebab, memimpin itu bukan hanya dengan kata-kata dan instruksi, tetapi juga dengan cinta, kasih sayang, musyawarah, dan contoh yang baik. Jika pemimpin itu kata orang jawa Sak Karepe Dhewe, maka tunggulah kehampaannya.

Sejarah telah membuktikan bahwa pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu menjadikan dirinya sebagai suri teladan bagi yang dipimpinnya. Itu pula yang terjadi pada masyarakat Muslim di abad-abad pertama, seperti Umar bin Abdul Aziz dan Umar bin Khathab Al-Faruq maupun sahabat dan tabiin lainnya.

Dan itu pula yang ditonjolkan oleh kepemimpinan Rasulullah SAW. ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21). Wa Allahu a’lam.

Pada masa yunani kuno pun juga patut dijadikan contoh, agar seorang pemimpin terhindar dari namanya cacat moral. Seperti contoh Alexander The Great (356 SM – 323 SM) yang masyhur pada masa yunani kuno, dikarenakan kewibawaannya, ia berhasil membawa kerajaan yang dipimpinnya semakin besar dan berjaya. Hal itu didasari tidak ada celah sedikitpun darinya dalam memimpin kerajaannya.

Tidak hanya Alexander, di era Yunani Kuno, banyak pemimpin yang perlu dijadikan teladan, misalnya Pericles (494 SM – 429 SM), Raja Sparta, Leonidas (540 SM – 480 SM).

(Indotribun/Faruq)

Komentar

News Feed