oleh

Catatan: Pengalaman Memang Guru yang Baik

Bisnismoo

Saya termasuk orang yang malas berhenti saat melakukan perjalanan. Berhenti yang dimaksud adalah berhenti-berhenti, entah untuk minum kopi, meluruskan punggung, menikmati pemandangan, atau mengurangi kadar lelah. Tetapi, satu waktu saya memang harus berhenti untuk mendirikan shalat dan membeli sesuatu sebagai penyejuk dada keluarga.

Yang saya tuju terminal Besuki, karena setelah beberapa kali lewat dan berhenti, saya melihat banyak pedagang buah di sana. Saya beli beberapa macam buah tanpa saya tawar. Sesampainya di rumah istri nanya berapa harganya. Dengan polos saya jawab sesuai fakta. Istri geram-geram manja karena saya membayar untuk semua belanjaan itu tanpa perlu menawarnya. Apalagi setelah tahu ada beberapa buah sudah tak layak dimakan.

Sebagaimana orang-orang yang selalu punya pikiran positif terhadap orang lain—mungkin dari saking polos dan bodohnya—saya nyaris tak pernah menawar setiap sesuatu yang saya beli. Lagi pula, saya juga tidak berpikir sebagian buah yang saya beli waktu itu sudah busuk. Dari tampilannya, buah-buah itu pasti sudah yang terbaik. Kalau busuk mana mungkin dijual. Selalu itu yang terbesit dalam kepala.

Mengetahui ternyata realitas lebih kompleks dan penuh tipu daya, sebuah pertanyaan muncul dalam kepala: Kok bisa ada orang seperti itu di dunia ini?

Abah, orang tua Istri saya, bilang kalau beberapa pedagang memang kerap berbuat yang tidak seharusnya. Saat kita membeli buah, satu kilo, misalnya, pedagang buah biasanya menimbang. Kalau lebih, si pedagang akan mengambil buah dari timbangan kemudian menukarnya dengan buah lain yang diangap lebih kecil. Biasanya, buah terakhir yang diambil adalah buah yang memiliki tanda-tanda tidak baik, busuk, rusak dan tidak selayaknya.  

Saya baru tahu rahasia hutan belantara ini. Sumpah! Meski kedengarannya tidak semengerikan sahabat yang menikung sahabatnya sendiri, tapi saya cukup khawatir mengetahui realitas sekejam itu.

Ibarat kata, beberapa di antara kita sudah sangat hati-hati saat berkendara. Tetapi akhirnya tersungkur juga ke dalam jurang karena orang lain ugal-ugalan mengendarai motornya. Termasuk dalam beberapa kesempatan orang-orang sudah berpikir positif tentang orang lain, tetapi orang lain tidak. Bahkan sengaja, dengan kata-kata yang penuh lipstik dan madu, memperdaya kita. Apa karena kita kurang cukup kompeten membaca tanda tipu muslihat mereka?

Saya masih merasa canggung melihat kenyataan dengan kaca mata laser: jauh, tajam, kritis, dan apalagi curiga. Saya merasa tidak punya bakat mencurigai seseorang. Sebenarnya mungkin bukan curiga, tapi berusaha menjaga jarak. Dalam keberjarakan itu biasanya akan muncul pembacaan atas realitas dari berbagai sudut. Realitas tidak tunggal. Ia majemuk dan kompleks. Melihatnya dari satu sisi akan memunculkan kecurigaan dan tuduhan tak berdasar. Beruntung kalau tidak sampai pada usaha membangun pandangan negatif tentang orang itu.

Pengalaman menggelitik ini tidak berhenti sampai di situ. Di waktu lain, saya perlu beli pulsa. Di sekeliling rumah tak banyak orang menjualnya, karena mayoritas petani dan tak punya basic berdagang alat-alat elektronik, ponsel dan pulsa. Di samping rumah ada sebuah toko, agak besar, mungkin satu-satunya, yang menjual pulsa. Ada yang memberi saran agar tidak membeli pulsa di sana. Yang jual Cina, katanya. Kalau beli pulsa seratus ribu, nanti bayarnya seratus lima ribu. Agak mahal juga sih, tapi saya tidak terlalu terkejut. Biasa saja. Saya sudah sering menghadapi hal-hal di luar ekspektasi.

Kenapa bisa begitu—kok bisa sampai seratus lima ribu? Saya mendengar selentingan begini: Biasa, orang Cina kan emang kayak gitu. Mau ambil untung banyak. Saya juga sudah biasa mendengar kalimat yang kurang lebih seperti itu.

Saya tidak memusingkan hargnya. Jadi, saya coba pergi ke toko itu dan ternyata harga pulsa seratus ribu tidak sampai seratus lima ribu. Belajar dari kejadian itu saya merasa bahwa di kehidupan ini terkadang orang-orang mengembangkan asumsi tak berdasar. Kita hanya melihat, berasumsi sendiri, lalu menyebarkannya seakan menjadi pandangan umum.

Yang lebih mengerikan adalah stereotip orang Cina. Satu dekade pascareformasi ternyata sensivitas pada orang-orang Cina masih mengakar. Bahwa mereka ini dan itu—biasanya yang buruk-buruk—masih cukup melekat di benak pribumi. Bahwa mereka adalah pedagang atau pengusaha yang suskses di Indonesia adalah fakta yang tak bisa ditampik. Dan keberhasilan itu saya kira, salah satunya, tidak mungkin disebabkan oleh keinginan untuk selalu mencari untung sampai-sampai melebih-lebihkan harga barang dan jasa dari yang seharusnya.

Orang-orang Cina memang sangat ketat dan disiplin dalam membangun dan mengembangkan bisnis. Hubungan persaudaraan tak pernah dikait-hubungkan dengan persoalan jual-beli. Dalam kamus mereka, tak pernah ada kata diskon untuk saudara sendiri. Dunia bisnis dan rantai darah keluarga dua hal yang berbeda. Dibangun dinding yang cukup jelas antara uang keluarga dan uang bisnis.

Mungkin ada banyak dari kita yang berpikir keberhasilan orang-orang Cina membangun usaha dan bisnis salah satunya didasari oleh sikap pelit dan harga barang yang melangit. Memang tidak ada pedagang atau pengusaha yang ingin rugi apalagi bangkrut. Sebagian besar dari kita pasti ingin untung. Tetapi, ingin cepat kaya dengan cara menaikkan harga barang dan jasa yang dijualnya adalah pemerkosaan.  

Stereotipe tentang orang Cina masih cukup kuat di lingkungan masyarakat. Saya agak sedikit terganggu apabila mendengar, misalnya, saya nanya ancer-ancer sebuah rumah, lalu dijawabnya begini: di sampingnya toko Cina, itu lho toko Cina, dan seterusnya dan seterusnya. Kenapa harus disebutkan Cina-nya?

Bagi saya itu semacam usaha mengidentifikasi dan membagi-bagi masyarakat ke dalam berbagai kelompok, suku, dan identitas. Boleh jadi orang yang mengatakannya tidak sadar dan tak bermaksud mengelompokkan masyarakat ke dalam kotak identitas tertentu. Tetapi dengan selalu menyebut negara atau suku, kita telah berusaha membangun tembok tebal antara orang-orang yang “asli” berdarah nusantara dengan orang-orang yang datang dari luar, meski sudah tinggal bertahun-tahun, bercocok tanam, minum dan makan hasil bumi Indonesia.

Tapi tunggu dulu! Apa saya, ya, yang terlalu sensitif saat mendengar “Cina” disebut?

Hal terakhir dalam catatan ini, juga berkaitan dengan pengalaman tak enak, adalah soal dominasi laki-laki pada perempuan, terutama di Madura, di kampung halaman saya sendiri.

Kejadian ini sudah lama saya dapati dan baru tertarik menceritakannya sekarang. Suatu waktu saudara-saudara saya sedang berunding dan berdiskusi soal rencana pergi ke luar kota untuk acara besar dan sangat penting. Diskusi panjang dan alot terjadi. Kakak perempuan saya menyampaikan pendapat atas usaha-usaha yang dilakukannya dalam mengajak atau mengundang beberapa saudara—di luar saudara inti—untuk ikut serta.

Tetapi karena beberapa hal usaha itu tidak cukup berhasil. Salah satu faktor dari banyak faktor lainnya adalah karena yang mengundang perempuan—sebab ayah saya sudah lama meninggal, sementara itu Ibu sudah tidak cukup kuat selalu bepergian dengan jalan kaki. Di antara pembicaraan itu saya mendengar ucapan yang kurang lebih begini: laki-laki tidak cukup menghargai undangan atau kalau yang mengundang perempuan.

Ada banyak pembicaraan lain yang saya tangkap cukup menyudutkan kakak perempuan saya. Pada wilayah itu saya memahami laki-laki sok punya kuasa pada perempuan hingga usaha perempuan, sekecil apa pun, kurang memiliki harga di mata laki-laki.

Ini murni, menurut saya, laki-laki terlalu merasa tinggi, merasa memiliki dominasi yang kuat atas perempuan. Persoalan ini bukan hal baru. Masyarakat Indonesia belum bisa sedikit saja mengurangi apalagi menyingkir budaya patriarki. Laki-laki selalu merasa mampu mengkampanyekan kepentingannya dan menggiring opini perempuan. Di titik ini, hampir setiap laki-laki membangun suatu hubungan bukan atas dasar cinta dan kasih sayang,melainkan atas dasar kekuasaan dan ketakutan.

Sebenarnya, hal-hal bersifat kasuistik seperti ini tidak bisa ditarik menjadi kesimpulan general. Tetapi, apa yang saya lihat di daerah tertentu kemungkinan besar juga terjadi di daerah lain. Terlebih kalau mau diakui, budaya patriarki sangat merata di bumi Indonesia.

Anda boleh tidak setuju dengan pandangan ini, dan tidak perlu emosi. Kalau Anda kebetulan sedang di warung kopi, sila nikmati pandangan ini seraya seruput kopinya.

Komentar

News Feed