oleh

CEO Zahiraa, Aji Habibi: Setiap Orang Memiliki Kesempatan yang Sama untuk Sukses

-Tokoh-275 views

Awal Januari 2019 saya sengaja meluangkan waktu bertemu Aji Habibi, CEO Zahiraa, seorang enterpreneur muda Malang, yang bisa dibilang sedang menikmati prosesnya membangun bisnis online. Ini bukan pertemuan yang istimewa sebenarnya karena beberapa bulan belakangan kami memang kerap bertemu untuk membahas hal-hal kecil, beberapa kali di warung kopi, dan kadang-kadang di kantornya. Melihat perkembangan usahanya yang semakin pesat, saya merasa memiliki banyak alasan untuk mengobrol dengannya, mengorek-orek rahasia suksesnya membangun bisnis online. Malam itu, sebelum bertemu, saya sengaja menghubunginya untuk berkenan ngobrol-ngobrol sebentar seputar bisnis yang saat ini digelutinya. Sebagai anak muda yang sedang menekuni dunia usaha saya pikir Aji Habibi memiliki pengalaman-pengalaman menarik yang perlu dibagi kepada sesama.

Kami mengobrol santai saja di ruang tamu kantornya sambil menikmati makanan ringan ditemani segelas teh hangat. Rupanya Aji Habibi tahu kalau saya kurang menyukai kopi. Berikut adalah petikan obrolan saya dengan Aji Habibi. Selamat menikmati!

Kenapa seorang Aji Habibi mau menekuni dunia bisnis?

Sejujurnya saya memang memiliki ketertarikan menekuni dunia enterpreneur dan memiliki keinginan besar untuk membuka peluang bagi orang lain. Hal ini tidak akan terjadi kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Apalagi persaingan kerja sangat ketat. Makin tahun makin banyak orang mencari kerja dan itu menambah ketat persaingan. Kompetitornya bukan hanya satu-dua, tapi ribuan. Saya sendiri kuliah di Malang di Universitats Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), sebuah kampus yang kalau dibanding Brawijaya atau Univeritas Negeri Malang, ya kecil. Ribuan mahasiswa lulus setiap tahun. Itu kian menambah sesak kesempatan memperoleh pekerjaan. Saya harus berbeda dengan ribuan orang yang siap jadi pengangguran setiap tahun. Paling tidak, saya harus mampu membantu diri saya sendiri untuk keluar dari keterpurukan finansial. Setiap sesuatu memang harus selesai di diri sendiri dulu, selepas itu baru kita bisa membuka peluang bagi orang lain.

Bagi saya, bisnis adalah pekerjaan yang sangat mulia dibanding bidang-bidang lain. Seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan, apa pun jabatannya, tetap seorang karyawan. Sekecil apa pun pekerjaan yang kita lakukan, kalau usaha itu milik sendiri, kita akan menjadi apa pun yang kita mau di perusahaan kita. Bekerja kepada orang lain berarti mengembangkan usaha orang itu. Oleh sebab itu, tidak ingin terikat oleh sistem orang lain saya membuka usaha sendiri meski kecil. Itu lebih baik daripada bekerja kepada orang lain. Bisnis bukan untuk dipikirkan, karena bisa bikin ruwet. Bisnis itu dipikirkan sambil dikerjakan, dan harus sesuai dengan kemampuannya.

Kenapa memilih bisnis online?

Usaha online ini dibangun mengikuti kemampuan dan kreativitas diri. Sejak masih SMA saya sudah bisa bongkar-pasang komputer dan tidak jarak merusaknya. Saat masuk universitas saya merasa perlu memiliki bidang yang harus ditekuni dan fokuskan. Saya suka sekali, sesuai kemampuan saya, matakuliah kalau tidak keliru penulisan artikel dan website. Aktivitas waktu kuliah lebih banyak membongkar komputer dan membuat design. Saya lulus matakuliah tersebut tanpa harus mengikuti Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester, karena, mungkin, tugas-tugas yang berkaitan dengan matakuliah tersebut bagus sehingga saya pantai diganjar nilai A. Lulus dari Unitri saya mulai memikirkan apa yang harus saya lakukan. Tidak langsung membuka usaha memang, melainkan masih bekerja kepada orang lain. Setiap bulan pindah-pindah kerja karena ingin mengetahui sistem perusahaan-perusahaan itu. Semua sistem kemudian saya simpulkan, saya buat formulasi sistem baru untuk dijalankan di usaha yang saya rintis.

Bagaimana pengalaman bekerja di perusahaan orang lain?

Selepas lulus memang sebaiknya kita jangan langsung pulang ke kampung halaman. Harus bertahan dulu di kota rantau, mencari banyak pengalaman. Punya ide seperti itu saya bertahan di Malang dan melakukan pekerjaan apa pun yang penting halal. Mulai dari menjadi karyawan apotek, marketing TV, sales rokok, karyawan provider seluler tertentu, dan bekerja di suatu perusahaan online produk mainan anak-anak selama kurang lebih satu tahun setengah. Saya di bagian design web dan gambar.

Cerita sebelum mendirikan Zahiraa dan pelajaran apa yang bisa diambil?

Bukan mendirikan tapi mencoba untuk membebaskan diri dari keterikatan pekerjaan di perusahaan orang lain. Mau tidak mau, apa pun risikonya, harus saya terima. Saya mulai berjualan cokelat secara online. Hanya bertahan satu bulan. Cokelat itu saya beli sendiri. Hingga basi cokelat itu tidak ada yang laku dan terpaksa harus dibuang. Tidak menyerah saya tidak berhenti sampai di situ. Bulan berikutnya saya coba menjual makanan khas palembang, dijual jika ada orang yang pesan. Waktu itu saya belum tahu cara berjualan di marketplace online. Jadi saya bikin iklan sendiri di Facebook, Instagram, dan lain-lain. Kalau ada yang pesan saya pergi ke warung yang menjual makanan tersebut. Saya pesan kemudian saya kirim melalui jasa layanan pengiriman barang. Ada sebuah pengalaman yang membuat saya tambah semangat, yaitu orderan kedua ke daerah Aceh. Karena tidak tahu kalau makanan (frozen food) yang dijual online hanya mampu bertahan sampai lima hari, saya tetap melayani orderan itu, yang pengirimannya membutuhkan waktu selama kurang lebih tujuh hari. Makanannya memang sampai ke konsumen, tapi sudah dalam bentuk yang berbeda dan basi. Mau tidak mau saya harus mengembalikan uang pesanan konsumen yang sudah terlanjur saya terima.

Saat itu makanan khas palembang banyak diminati. Hanya saja saat itu saya masih belum banyak memahami penjualan makanan secara online, sehingga yang penting ada pemesan terhadap produk yang saya tawarkan. Saya menggeluti usaha itu selama tiga bulan. Mengingat kejadian itu kembali, kalau dipandang dari kacamata dunia bisnis, secara nominal memang rugi. Namun kalau dilihat dari sisi lain, pengalaman, misalnya, bagi saya tidak rugi. Bagi saya, membangun usaha itu harus siap dua hal. Siap rugi dan siap untung. Terkadang, tidak sedikit orang yang hanya siap untung tapi tidak siap rugi.

Tahun 2016, berhenti menjual makanan khas palembang, saya ketemu dengan teman yang dulu bekerja di satu perusahaan dengan saya. Dia juga berhenti karena ingin membuka usaha. Keterampilannya di dunia (bisnis) online mengalami perkembangan tiga kali lipat dibanding saya. Banyak belajar darinya saya pindah platform merketing penjualan ke Tokopedia. Saat itu Tokopedia memiliki pangsa pasar yang sangat bagus. Menjual apa pun pasti ada yang memesan. Saya memiliki kurang lebih tiga ratus toko di Tokopedia dengan produk berbeda-beda agar memperoleh banyak pesanan.

Tokopedia mulai mengalami penurunan saya mencari celah di marketplace lain, di Shopee, dan bertahan hingga sekarang. Bulan Juli 2017 saya mengontrak rumah di Kota Batu untuk membangun usaha yang lebih besar dan agar bisa bermanfaat buat orang banyak, dengan suatu keyakinan, usaha yang dibangun atas dasar kerjasama tim akan berkembang pesat. Saya mengajak teman-teman sendiri. Mei 2018 kami mempunyai keinginan mendirikan platform yang mana platform tersebut harus bisa membantu pergerakan UMKM yang ada di Malang Raya dan Jawa Timur. Bersama-sama kami mengadakan konsolidasi selama dua bulan untuk mendirikan marketplace yang konsep dan sistemnya hampir sama dengan marketplace-marketplace online lain. Ada 38 nama yang diajukan teman-teman, salah satunya Zahiraa. Nama Zahiraa sendiri kemudian dipilih dan digunakan setelah meminta pendapat guru kami, pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah, Kepanjen, Ach. Dhofir Zuhry.

Siapa yang paling memengaruhi Aji Habibi dalam menjalankan bisnis ini dan bagaimana Zahiraa ke depan?

Saya terinspirasi dari perjalanannya CEO Tokopedia, William Tanuwijaya, yang menurut saya, juga berangkat dari ekonomi yang tidak seberapa. Saya terinspirasi karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sukses.

Karena Zahiraa memang harus besar, maka saya dan teman-teman yang lain harus terus mengembangkan keterampilan dan menguatkan mental. Saat ini Zahiraa masih berjalan normal saja. Dewasa ini sudah banyak bermunculan marketplace-marketplace online dan itu tantangan yang harus dihadapi. Berada di bawah naungan CV AJ Group, Zahiraa yang saat ini sudah memiliki satu cabang di Dau Kabupaten Malang, dalam waktu dekat akan membuka satu cabang lagi di Kabupaten Sumenep.

Penulis: Latif Fianto

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed