oleh

CERITA SUMBER MARON

Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku berani menjamin, hanya segelintir orang yang berani menolak ajakan dari perempuan secantik dia. Sekejap, tangannya menggenggam tanganku erat.

Oleh: Wahyudi |

Mahasiswa Asal MAdura. Menulis semacamnya. Saat ini sedang menempuh Pendidikan S1 di Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang.

Indotribun.id- Siang masih menggantung di langit. Daun-daun melambai ditiup angin, disertai air sungai yang gemercik megalir tenang, sangat tenang. Iya, wisata sumber maron. Wisata  yang  sempat kau ceritakan sebulan yang lalu. Yang kau sajikan dengan seulas kata-kata kusam  ala pasaran.

Kau sulam dengan lembut sehingga menjadi seulas bahasa yang memukau. Alifia , kau selalu membuat aku kagum, dari matamu, hindungmu, apalagi dengan bibirmu yang senja. Aku benar-benar melihat keindahan itu darimu.

Waktu itu, kau bilang kepadaku tentang pesona air murni dari Sumber maron yang alirannya tidak pernah surut memercik di bebatuan hitam, lekat. Kau pun pernah bilang kepdaku tentang keseruan river tubing dengan ban karetmengikuti arus air. Disetiap gelombangnya saling bererat-tangan.

Aku duduk, duduk terdiam, tenggelam kedalam laut cerita indahmu. Sejak itu aku membuat kisah panorama desa yang indah sedunia, hanya kita berdua disana. Kau seolah sibuk bermain air dengan tawa yang renyah. Sedangkan aku terdiam melukis senja di bibirmu, serta gemerlap cahaya rembulan dimatamu. Itulah hobiku ketika bersamamu.

“Disini bagus buat tempat foto-foto,” 

Kau seolah memperlihatkan pemandangan batu hitam besar yang diselimuti air mengalir jernih. Aku melihat banyak orang-orang yang sibuk mengambil foto, pose kiri, pose kanan berpasang-pasangan.

“Seru juga, ya!”

“Ini masih belum seberapa yang kau lihat.”

Sesekali aku tersenyum. Melihat orang-orang yang cekikikan dibawah jembatan itu. “Disini selalu banyak pengunjungnya setiap hari?”

“Seperti yang kamu lihat, apalagi kalau hari-hari lubur.”  Kau terdiam sejenak, “kau lihatlah.”

Telunjukmu mengarah ke sebelah utara. Tidak, aku tidak tahu betul dimana sebelah utara, dimana selatan. Tapi yang pasti dari atas jembatan nampak aliran air Sumber Maron yang sangat panjang. Di paling ujung terlihat sebuah bambu melintang sangat panjang. iya, mungkin untuk pembatas renang.

Di samping kanan sungai juga berjejeran warung-warung kecil. Warung-warung itu nampak persis tingginya satu sama lain. Tak jauh beda dengan rumah panggung. Tapi, tidak begitu sempurna. Bedannya warung-warung itu dipenuhi tumpukan ban karet didepannya.

Wahai Alifia kekasihku, sungguh baru kali ini aku melihat air mengalir sejernih ini. Apalagi di sampingnya selain berdiri warung-warung kecil, ada juga pohon-pohon yang tumbuh menghijau, menakjubkan. Aku masih berdiri kaku memandangi pemandangan alam  yang indah itu. Mataku masih terpikat pada air yang entah dimana asal sumber itu keluar.

Wahai Alifia, dari atas jembatan ini pula aku ingin sekali turun menyentuh air yang jernih itu. Lantas menyilaminya dengan gairah, bersamamu, hanya dengan bersamamu.

“Mau coba renang nggak?”

Sepertiya kau mengerti dengan apa yang aku inginkan, “boleh juga.”

“Tapi, Cuma kamu sendiri, aku,” terdiam.

“Kau kenapa?”

“Aku tidak ikut, dingin soalnya.”

“Apa..? kamu tidak mau renang dengan aku..? Kamu tidak mau berpelukan denganku ketika jatuh? Dan Kamu tidak mau menolongku ketika aku tenggelam?”

Seketika kau tersenyum. Lalu tanganmu memegang erat tanganku, seraya berbisik “Aku bilang sama ayah, kalau berani macam-macam!”

Astaga Alifia,  sejak kau melemparkan kata-kata itu kepadaku. Jujur saja hatiku meronta bahagia. Antara dengan sifat manjamu, dan raut wajahmu yang merah merona.

Alifia, kekasihku, perempuanku yang kucintai. Aku tak mungkin macam-macam padamu. Aku ingin menjadi lelaki yang baik. Mencium keningmu ketika aku sudah mendapatkan restu dari ayahmu. Itu perinsipku mencintaimu. Aku ingin menjadi lelaki yang baik, menyayangi anak-anakya kelak ketika sudah menjadi seorang ayah, seperti ayahmu, suami ibumu. Itu janjiku padamu.

Hari yang sangat mengesankan, bukan? Kau tahu, ditempat ini bagiku bukan sekedar berlibur, bukan sekedar mendengarkan cerita alam dan bunga-bunga yang saling peluk dengan mata airnya. Tapi, tentang aku yang mulai tenggelam pada malam yang purnama.

Hari kedua aku seorang diri disini. Tanpamu. Kali ini aku sengaja pergi sendirian. Aku berniat menyusuri sungai Sumber Maron ini. Aku betul-betul sangat bergairah. Aku ingin benar-benar menyatu dengan alammu yang gemercik itu. Aku ingi menghitung bulir-bulir air yang terhampas, bersama namamu, Alifia.

Hari yang cerah itu. Hawa panas, dan dingin peluk saling rebut-merebut. Di atas jembatan itu. Iya, jembatan yang sebelumnya tempatku berdiri kaku memandangmu. Wahai Alifia, kini tak sengaja aku bertemu dengan seorang perempuan yang berkerudung ungu.

Ia menatapku lama. Hidungnya mancung, matanya macam purnama. Entahlah, aku menyukainya atau tidak. Tapi, yang pasti ia membuat detak jantug dan mataku kikuk. Ia masih menatapku dengan lembut. Semakin dekat. Semakin mendekat.

“Kau serig ketempat ini?” Tanyanya kepadaku, halus. Aku diam memperhatikan.

“kau tahu, bahwa sungai Sumber Maron disini ada dua penjuru?”

“Tidak! aku tidak tahu,” terdiam.

Yang aku tahu di sini hanya ada sumber air yang murni, itu pun aku tidak tahu dimana letak sumber air itu. Tidak hanya itu, kali ini aku baru tahu bahwa ada sesosok perempuan yang seperti dirimu. Perempuan yang menurutku sangat tidak asing.

“Mari, ikut aku!” katanya sambil menarik tanganku. Telapak tangannya lembut dan halus.

“Air yang mengalir dari sana itu, adalah aliran air dari Sumber Maron di belakang atas sana.  Sedangkan di atas yang baru saja kamu lewati, adalah yang kedua, dan di sana lebih jernih.”

Lalu, dengan pelan kami menapaki tangga menurun menuju bibir-bibir sungai. Suara aliran air membentur di bebatuan. Sungguh, aku benar-benar jatuh hati pada wisatamu. Di tengah-tengah sungai, aku memandangi pohon yang tumbuh rimbun. Mataku berdecak pukau melihatnya, ditambah pandangan mata purnama perempuan itu.

“Mau tidak, merendamkan diri pada air yang jernih ini denganku?”

Mula-mula aku kaget. Aku tidak percaya dengan apa yang ia lontarkan kepadaku.

“Apa?… Kamu mengajakku berendam?” tanyaku seolah tidak percaya.

“Mau tidak?”

Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku berani menjamin, hanya segelintir orang yang berani menolak ajakan dari perempuan secantik dia. Sekejap, tangannya menggenggam tanganku erat. Aku ditariknya ketengah sungai. Aku bingung sambil mengusap-mengusap mataku berulang kali. Benar, ini bukan mimpi, ini memang yata. Dan nyatanya aku tidak bisa menolaknya.

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Pada saat itu pikiranku, mataku, seperti terkunci, tidak ingin lepas darinya. Apa lagi seketika ia mulai melepaskan sebagian pakaiannya yang menggantung di tubuhnya. Dari rambutnya yang hitam, wajahnya yang cantik.

Apalagi dengan lekuk tubuhnya. Astaga, seketika ia menyirami air ke tubuhku, dengan tawa yang renyah. lalu dengan pelan semakin mendekat, aku memperhatikan bibir stroberi itu.

“Aku menyukaimu.” Suaranya pelan, sangat pelan.

Ia berbisik di telingaku.

Anehnya, seketika itu aku tidak bisa ingat apa-apa. Aku tidak bisa melihat apapun, yang aku ingat hanya ada sesosok perempuan yang menceritakan wisata Sumber Maron, dan itu adalah kamu, Alifia. (*)


Komentar