oleh

Cinta, Corona dan Kegalauan

-Esai-420 views

Pada hakikatnya dunia tercipta sebagai rumah segala makhluk Tuhan. Dunia juga merupakan rumah kedua setelah manusia berada dalam rahim seorang ibu. Tentu, setiap yang ada di muka bumi ini memiliki dua sisi, yakni sisi positif dan sisi negatif. Dengan adanya dua aspek tersebut merupakan suatu kebijakan Sang Maha Bijak supaya manusia dapat memfungsikan akal pikirannya menanggalkan yang buruk, menerima yang baik.

Sepak terjang dari kebaikan dan keburukan akan kembali kepada para pelaku. Seperti firman Tuhan, “Barang siapa yang berbuat kebaikan maka kebaikan itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang berbuat keburukan maka keburukan tersebut untuk durinya sendiri.” Artinya, segala sesuatunya adalah kembali pada diri kita masing-masing dalam melakoni kehidupan ini.

Ketika kita melatih diri untuk senantiasa berbuat kebajikan pada dasarnya kita telah tergolong pada makhluk yang baik (Insanul-Ihsan). Sifat baik inilah yang menjadi tolok ukur bahwa manusia yang berakal, berilmu memiliki cinta. Kalau cinta dikedepankan tentu akan melahirkan kesejukan;  kesejukan bertetangga dan kesejukan dalam lingkungan. Kecintaan kepada tetangga adalah bukti akan cinta kebersamaan, serta kecintaan kepada lingkungan adalah bukti adanya tenggang rasa, gotong royong, dan menciptakan lingkungan yang asri, bersih.

Oleh karenanya, jika manusia mampu menjaga kerukunan untuk saling memberi sugesti maka kecemasan akan berkurang. Jika manusia mampu saling menjaga ke-higienis-an lingkungan maka tidak menutup kemungkinan akan selamat dari segala wabah ( penyakit) seperti Virus Corona yang sedang melanda ke berbagai pelosok negeri yang mengguncang ketenangan bathin para manusia normal.

Serasa, menyusupnya Covid-19 ini tidak jauh beda dengan kejadian di salah satu pulau, yang dalam penuturan warga yang lahir di era 1970-an adalah penyakit “Tha’un”.  Dalam observasi penulis kepada penduduk setempat dituturkan bahwa penyakit ‘Tha’un’ tersebut jika dalam istilah kedokteran adalah penyakit muntaber (muntah, diare kemudian menyebabkan  kematian). Karena pada saat itu, kepulauan belum tersentuh oleh para time medis dalam upaya penanganan penyakit tersebut. Sehingga, banyak nyawa melayang tak tertolong. Mungkin tidak jauh beda dengan virus corona saat ini.

Kejadian semacam ini seolah menjadi penjara bagi para buruh, pelajar, dan pengajar. Mengapa demikian, karena virus corona seakan virus paling kejam hingga lupa bahwa nyawa ini akan dicabut tanpa aba-aba. Tidak memandang sakit atau sehat jika telah tiba waktunya maka sang pencabut nyawa akan mendekat dan mengambilnya. Bawalah hidup ini pada ritme yang santai. Agar melahirkan larik-larik yang penuh senda gurau.

Dengan demikian, maka tidak heran ketika kita masuk pada lubang sempit kegalauan maka kita tidak akan bisa menerima guyonan di dunia ini. Jangan terlalu cemas, jangan terlalu khawatir karena semua itu tidak ada dalam ajaran agama. Jika terus berada di zona Ghuluw (over) dalam ruang ketakutan terhadap virus tersebut pada dasarnya kita telah berada dalam kematian yang nyata tapi tidak merasa.

Setelah kita berusaha mencegah, menyangkal dengan ikhtiar dan doa, selebihnya kembalikan pada Sang Maha Hidup karena cepat atau lambat, tua ataupun muda pasti akan kembali kepadaNya. Langitkan segala harap, gantungkan segala do’a karena satu-satunya harapan adalah mengharap Ridha Tuhan dan terkabulnya do’a. Yakinkan, mantapkan dalam lubuk hati yang paling sunyi dan paling suci bahwa do’a akan merubah harapan menjadi kenyataan. Pada akhirnya kita akan selamat dan mendapatkan nikmat. Allahu A’lam Bis-Showab.

Penulis adalah alumni Universitas Tri Bhuwana Tungga Dewi Malang. Jurusan Ekonomi Manajamen.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed