oleh

Covid-19 Bukan Pembunuh Tunggal

Tiga bulan lebih perhatian publik masih mutlak didominasi oleh berita-berita tentang Covid-19. Baik itu berita di sosial media, televisi, surat kabar dan lainnya. Covid-19 ini adalah sebuah virus yang konon mampu membelah diri dari orang satu ke orang yang bersentuhan dengan cepat secepat kilatan cahaya. Sanggup pula membunuh orang dalam waktu singkat bak ninja assassin yang menenteng pedangnya mengitari setiap sudut bumi. Sudah banyak yang terinfeksi dan kemudian mati.

Tidak hanya di dalam negeri, melainkan juga di belahan dunia lainnya. Manusia berguguran layaknya medan pertempuran tengah digelar hari ini. Begitulah sosial media menggoreng isu kemudian menanam ketakutan berlebihan mayoritas penduduk bumi. Sebab dengan latar kepentingan tertentu satu pihak tega menebar keresahan itu kepada khalayak dengan dalih ini urusan nyawa. Berbagai stakeholder penting negeri ini pun turut merasakan kegaduhan yang berimmbas kepada perekonomian dan kebijakan yang sebagian masyarakat merasakan keganjilan disana. Salah satunya kemenkumham yang membebaskan kurang lebih 36 ribu napi.

Bilah tajam yang menggaduhkan publik tidak hanya fenomena tentang mati, melainkan penanganan pemerintah atas pandemic global ini pun yang seolah-olah ini adalah akhir kehidupan manusia. Di sudut-sudut kota terdengar aparat ribut dengan Pedagang kaki lima, komunitas Ojol. Sementara di desa banyak yang menutup jalan menuju wilayahnya, menolak jenazah terduga terinfeksi, menolak putra daerah yang rindu kampung halamannya sebab lama menimba ilmu di negeri orang semisal dan masih banyak lagi aksi berlebihan yang dilakukan atas virus ini. Ini bukan ngesah ataupun sebuah bentuk protes kepada pihak siapapun. Sebab ketenangan jiwa adalah obat yang tak diperjualbelikan.

Benarkah keadaan negara sudah demikian mengkhawatirkan? Padahal masih banyak fakta-fakta lain yang menganggap enteng dan remeh Covid-19 ini, yang katanya tidaklah terlalu berbahaya, yaitu memiliki resiko kematian 2%. Artikel-artikel mengenai Covid-19 ini cukup banyak bertebaran, dan isinya cukup melegakan hati karena dasar argumentasinya masuk akal. Realitanya, cara menghadapi virus ini ternyata sama saja dengan cara menghindari virus-virus lain yang justru jauh lebih berbahaya, yakni TBC yang keganasannya konon masih nomor urut 1 di negeri ini yaitu mampu membunuh 14 orang per jam.

Sampai disini kita pun masih berfikir, bila benar Covid-19 ini sangat berbahaya, kenapa aparat diturunkan menemui kerumunan warga? Siapa yang menjamin bahwa aparat itu tidak menggendong Covid-19 dan justru daripadanya lalu menularkannya kepada kerumunan warga. Wallahu alam.

Covid-19 yang hari ini dianggap sebagai pembunuh tunggal, maka saya rasa itu sangatlah berlebihan. Sebab banyak yang jauh lebih berbahaya daripada itu. Disamping itu kita juga tetap berhati-hati dan waspada, toh tidak ada salahnya juga memakai masker dan hand sanitizer maupun yang lain. Tidak menutup kemungkinan pula bahwa tetap stay di rumah kita turut mengunci pikiran dan nalar sehat kita. Tentunya banyak hal positif yang dapat di lakukan di rumah. Mulai dari urusan spiritual hingga membuat karya sesuai kesukaan hati setiap insani. Tidak etis pula rasanya jika melawan dalam kondisi dunia yang harus istirahat ini. Melawan disini bisa kita artikan dengan tidak menghiraukan apa yang telah dihimbaukan.

Tidak lupa pula senantiasa kita berdo’a semoga bumi lekas membaik di segala sisi, baik itu akhlak manusianya, hiruk pikuk ekosistemnya, dan termasuk hajatan akbar bernama Ramadhan diikuti Hari Raya Idul Fitri tidak berkurang sedikitpun nilainya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed