oleh

Covid-19 dalam Bingkai Panca Maya Kosa

Dokumen

Manusia 99% mendapatkan pencerahan kesadarannya ketika dia menuju kematian. Tetapi sisanya bisa mengalami mati sak jroning urip (mati di saat hidup). Baiklah kali ini kita akan flashback mengenai manusia jawa pra-islam untuk kemudian kita kaitkan dengan kondisi manusia hari ini. Kita semua pasti sudah pernah mendengar istilah mensana in corporesano, atau dalam bahasa Indonesia berarti di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Slogan ini justru di balik oleh orang jawa menjadi di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat.

Dalam slogan ini bisa kita simpulkan bahwa kosmos dalam diri manusia ada dua, yakni jiwa dan raga. Sedangkan dalam paham jawa kuno (Sanatana Dharma) diejawantahkan menjadi 5 lapisan (Panca Maya Kosa). Untuk bisa menyadari keluhuran dalam hidupnya. Lapisan terluar dari diri manusia ada yang namanya Anamaya Kosa, disusul ke dalam ada Pranamaya Kosa, Manomaya Kosa, Vijnanamaya Kosa dan Anandamaya Kosa.

Anamaya kosa adalah badan yang kita kasih makan, minum dll. Bisa juga berarti segala sesuatu yang bisa kita kumpulkan. Manusia jawa memahami bahwa semua manusia lahir dengan ukuran yang relative sama kemudian saling berproses dengan gayanya masing-masing di muka bumi. Maka dari itu orang jawa menyebutnya sebagai lapisan terluar dalam diri manusia. Hal ini diperkuat dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh adalah ketika seorang remaja ingin mendapatkan pacar, maka yang terlihat pertama kali adalah wujud fisiknya. Itulah yang disebut anamaya kosa.

Pranamaya Kosa atau badan halus yang tidak terlihat, bisa juga disebut energy dalam tubuh. Sebagai contoh adalah nafas yang berhembus setiap saat. Lapisan yang halus ini sangat penting dipahami agar bisa membedakan antara keromantisan dan kecerdasan. Juga perbedaan yang tak terlihat lainnya. Kalau orang jawa kuno mempunyai paham bahwa waktu hidup manusia hanyalah 5 menit saja dan itu direset/diulang secara terus menerus.

Ketika manusia mati, itu artinya energi dalam diri manusia telah berhenti melakukan reset. Kedua lapisan ini bisa dikenali manusia sejak lahir ke dunia. Sebagai contoh seorang bayi yang lahir ke dunia akan mengenali yang pertama yakni anamaya kosa, dan dengan naluri dia juga mengenali ibunya dengan bantuan energi dari dalam dirinya.

Manomaya Kosa adalah wadah halus dalam diri manusia bisa berupa pikiran, mental, emosi dan semacamnya. Tentunya lapisan ini lebih halus dibanding lapisan yang kedua. Level ini bisa dikenali setelah manusia mengenal kedua lapisan sebelumnya. Manusia sudah bisa meminta, emosi dan semacamnya meskipun dalam tahapan awal belum bisa mengontrolnya. Lapisan ini bisa juga berupa ilmu pengetahuan saat manusia sudah mulai belajar.

Vijnanamaya Kosa adalah lapisan yang bisa mengambil kebijaksanaan atau hikmah (dalam islam). Hal ini berada di atas akal/intelektual. Sehingga muncul istilah “Ilmu kui kelakon e kanthi laku”. Saat dalam kondisi sadar manusia tidak mau melakukan kejahatan atau kita ambil contoh saja mencuri, sebab masih takut oleh hukuman, neraka atau takut konsekuensi lain. Tetapi disaat berada di alam bawah sadar dan masih mau melakukan sesuatu yang dianggap salah, maka disitulah vijnanamaya kosa berperan tanpa manomaya kosa.

Anandamaya Kosa adalah kesadaran kosmos manusia kembali kepada alam semesta. Tidak semua manusia mencapai lapisan ini, namun lapisan ini ada meskipun tidak semua memahami bahkan meyakininya. Diriku bukanlah aku, dirimu bukanlah kamu, fikiranmu bukan kamu dan masih banyak lagi. Sehingga muncul lagi istilah “Eling Marang Sangkan Paraning Dumadi”. Yang berarti setiap apapun dari kita hanyalah titipan dan akan kemanakah kita kembali kepada kesejatian.

Teori ini (Panca Maya Kosa) masih terpakai hingga hari ini terutama bagi yang menganut Agama Hindu, dan seperti kita tahu bahwa agama hindu menjadi agama masyarakat jawa khususnya sebelum masuknya Islam hingga hari ini.

Dan hari ini sangat penting apabila kita semua berkenan flashback mengenai teori yang satu ini untuk kemudian kita kaitkan dengan kondisi zaman yang semakin tua dan antah brantah nyaris tak terperi ini. Dewasa ini virus jenis baru berhasil menggemparkan dunia. Banyak kerugian sana-sini, baik itu secara mentalitas manusia maupun materi secara ekonomi. Ketika kita masih peduli dengan kehidupan yang lebih panjang lagi, maka kita harus lebih panjang pula mendalami ilmu yang sudah begitu tua pula. Dari analisis secara pribadi, maka kita akan menemukan kelemahan sehingga kita menemukan formula untuk meng-counter segala serangan/ancaman yang mencoba masuk ke dalam diri kita.

Covid-19 adalah virus yang menyerang lapisan kedua manusia yakni Pranamaya Kosa. Sedangkan dalam diri manusia masih ada 3 lapisan lagi di atas pranamaya kosa. Ketiga lapisan ini akan sangat berpengaruh terhadap sistem imun meskipun barangkali kita tidak saling menyadari adanya kekuatan dahsyat dari ketiga lapisan tersebut. Meskipun demikian, tentunya kita juga harus tetap waspada dan saling menjaga/mengontrol diri agar segala sesuatu yang sifatnya tak terlihat mata dapat kita hempas se-dini mungkin.

Semoga kita semua selalu dalam Lindungan-Nya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed