oleh

Dalam Ramai Kata-Kata Adalah Sekawanan Anak Panah

Bahasa bukan hanya terdiri atas suara dan bunyi, tapi juga kebisuan. Tiap kalimat yang kita ucapkan dan yang diucapkan orang lain mengandung sesuatu yang tak terucapkan. Dan yang membisu, yang nonverbal itu, sesungguhnya lebih dalam ketimbang sisi yang diutarakan (Goenawan Muhammad).

Sedikit sekali orang yang memilih jalan kesunyian. Sebagian besar memilih jalan ramai. Tidak sedikit mereka yang tak bisa melepaskan diri dari keramaian. Bukan sesuatu yang keliru, karena nyatanya, hari ini, itulah yang terpampang di dunia. Dunia di luar jendela diri kita.

Mereka yang memilih jalan sorai bisa ditemui di banyak tempat. Di warung-warung kopi, kedai-kedai makan, pusat-pusat perbelanjaan, dan ruang-ruang lain yang dianggap dapat menyumbat—kalau bukan mengobati—luka bernama kejenuhan. Sunyi bukan ruang yang tepat bagi mereka. Ia adalah pisau, yang kalau tidak segera disingkirkan, akan menusuk bagian tubuh mana saja.

Efek sunyi sangat mengerikan. Mereka yang tak kuat tiba-tiba sudah menjadi gelandangan di tepi-tepi jalan, atau kalau tidak, hanya tinggal nama di dasar gedung bertingkat atau tergantung di langit-langit kamar. Tetapi, efek ramai jauh lebih berbahaya. Jalan hidup ditentukan oleh apa kata orang-orang sekitar. Menganggap apa yang sedang berkembang sebagai sebuah kebenaran absolut, sehingga tak mau mendengar hakikat kebenaran. Tak sadar bahwa mereka sedang dikuasai kepentingan-kepentingan materi yang menafikan nilai-nilai dasar dan substantif.

Memang, apa pun warna baju yang dikenakan, itulah pilihan. Berangkat ke tengah samudera dianggap nelayan. Pergi membawa cangkul ke tengah sawah dibilang petani. Pun soal ramai dan sunyi. Beberapa orang memperoleh kebahagiaannya di ruang-ruang sunyi, sedang beberapa lainnya memancing di ruang-ruang yang penuh sorai suara dunia: perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serikat-serikat (atas nama) agama, bisnis, kelompok-kelompok di atas sampan politik, atau suara-suara sumbang yang keluar dari lubang sumur tak berdasar.

Ramai menjadi identitas. Mereka membangunnya setiap hari. Mengikuti tren adalah salah satu cara yang perlu ditempuh, karena melepaskan diri dari apa yang tengah hangat adalah sebuah kenaifan berpikir, dan karena itu, mereka yang memiliki gengsi tinggi merasa berhak mengolok-oloknya sebagai generasi yang terisolir dari kampung kemajuan. Generasi kuper dan ketinggalan kereta.

Olok-olokan seperti itu tak salah karena demikianlah dunia berkembang. Kemajuan adalah jika tampil baru setiap hari. Kalau perlu setiap waktu. Enam bulan tidak ganti mobil adalah sebuah kemunduran. Tak punya jabatan dan kekuasaan bahkan setelah sebelumnya pernah berkuasa di ruang-ruang kecil diskusi adalah ketidakmajuan. Kemajuan adalah ketika kita terus menampilkan diri sebagai pribadi yang memiliki daya cengkeram kasat mata. Atau paling tidak, bila kita pergi ke kedai-kedai kopi dengan baju baru. Demikian yang diajarkan filsafat pencerahan. Kemajuan adalah kebaruan dikonstruksi oleh kebaruan-kebaruan lainnya.

Apa yang terjadi kemudian adalah runtuhnya bangunan makna. Komunikasi gagal mencapai tujuan utamanya karena pondasi maknanya bahkan makna itu sendiri rapuh dan runtuh. Pembicaraan-pembicaraan berhamburan di lintas ruang, tapi tak pernah mencapai konsensus. Kata-kata adalah piring-piring pecah yang dihunjamkan ke setiap lawan bicara. Persamaan persepsi dan pertukaan makna tak pernah tercapai. Pembicaraan-pembicaraan dilakukan bukan untuk menyampaikan substansi, tapi untuk menjatuh-lukai. Menyatukan diri ke dalam satu identitas tertentu menjadi kebablasan. Bahasa, yang merupakan media utama komunikasi, dipaksa menjadi kendaraan untuk menguasai.

Maka, mereka ramai menyebar kepentingan-kepentingan, tak peduli bahasa yang dipakai telah melukai saudara sebangsa, bahkan seiman. Dulu sampai sekarang sebagian orang di sudut rasi bintang tak bernama tak bisa tidur karena perut busung. Tapi, kini, persoalan bertambah. Mereka tak bisa tidur bukan hanya karena lapar, tetapi juga karena sebaran kata-kata telah menjelma sekawanan anak panah.

Di ruang-ruang geografis, kata-kata telah tersebar puluhan ribu tahun yang lalu. Ada yang bisa dipertanggungjawabkan. Ada pula yang sekadar kabar burung. Di luar uang-ruang konvensional, kata-kata semakin ramai beredar di ruang-ruang virtual (global village). Mereka yang tak punya pondasi pengetahun tentang apa yang sedang berkembang terikut oleh arus ramai berita yang tengah berkembang. Sebagian mengesampingkan kebenaran sumber, data, dan kepakaran cendikia, hanya karena di dasar hati sudah terpatri ketidaksukaan.

Keramaian adalah sebentuk jalan yang seksi belakangan ini. Ia dengan mudah dapat ditangkap berbagai jenis media, dari yang konvensional hingga yang maya. Mereka ramai-ramai mendirikan salat di Monas, beramai-ramai kembali kepada agama, seolah setelah sekian tahun dalam pencarian yang tak berujung, mereka menemukan kembali sesuatu yang hilang atau memang dari awal dianggap tidak ada atau tidak penting sebelum umur 60.

Datang atau kembali dalam keadaan berbondong-bondong bukan pemandangan yang buruk. Bersama-sama selalu membuat diri menjadi lebih kuat. Dalam keadaan kuat dan ramai, kadang, mereka menjadi lupa terhadap apa yang sejatinya penting untuk diperjuangkan. Apa pun caranya, mereka harus menang dan menguasai. Mereka lupa atau sengaja lupa bahwa di sudut bumi tertentu orang-orang berbicara dalam kesunyian. Mereka merasa tidak perlu teriak-teriak dari panggung-panggung. Atau membangun gerakan salat di sepanjang jalan. Mereka, dengan kerendahan hati yang paling murni, masuk di setiap sendi kehidupan masyarakat. Tanpa hura-hura. Tanpa ramai-ramai.

Komentar

News Feed