oleh

Dari Kaum Rebahan Hingga Manusia Tiktok

Kaskus.id

Tinggal di rumah di masa wabah seperti sekarang adalah sebuah kemewahan. Kita anggap saja begitu meski tidak semua orang bisa melihatnya demikian. Tetapi, paling tidak, itu berlaku bagi mereka yang sebagian besar waktunya digunakan untuk bekerja: apa saja yang berbentuk rutinitas, yang tidak berdasar pada hati, tetapi pada logika dan sistem kaku-otoriter.

Sekarang, apa-apa dilakukan dari rumah. Tentu ini sangat menguntungkan mereka yang gemar rebahan. Sekolah, kantor dan perusahaan bergeming, seolah tidak bisa menunjukkan taringnya sebagai rumah kedua bagi manusia. Kepala sekolah, jajaran direksi, dan bos memberlakukan kebijakan belajar dan bekerja dari rumah. Bahkan ada yang lebih mengerikan: memutus hubungan kerja dengan karyawan yang sebagian besar bergantung makan pada perusahaan tempat mereka bekerja.

Bagi mereka, yang saban hari berangkat pagi dan pulang ketika anak sudah nyenyak tidur dan istri sudah tidak bisa diajak kompromi karena beban mata sudah lebih berat daripada beban-kewajiban lainnya, tinggal di rumah adalah suatu kemewahan. Ini adalah kemewahan, karena tidak setiap tahun mereka bisa memiliki waktu ‘sebebas’ dan ‘sekosong’ di masa-masa pandemi. Meski tentu saja bagi mereka yang masih luntang-lantung menaruh surat lamaran kerja bagai menebar jala di lautan atau bagi sebagian yang baru diterima kerja—itu pun masih dalam masa training—beraktivitas dari rumah adalah kemalangan.

Kita bisa melihat bagaimana sekolah-sekolah libur dan kantor-kantor tutup pintu. Anak-anak memiliki lebih banyak waktu berkumpul dengan keluarga, terutama bagi yang selama ini memilih tinggal di asrama. Mereka hanya tinggal menjalankan aktivitas pendidikan dari pori-pori layar ponsel, menerima perintah dari guru-guru mereka untuk mengerjakan tugas, dan mengirim hasilnya, entah dengan cara difoto atau dikirim melalui surat elektronik. Begitu pula yang mahasiswa, meski sebagian berisi keluhan tentang bagaimana dosen-dosen mereka hanya pintar memberi tugas, yang dianggapnya menambah beban hidup, sehingga mereka tidak bisa rebahan, dan menganggap rebahannya yang kali ini cukup berguna bagi negara terkendala oleh tugas-tugas kuliah yang luar biasa keparat.

Mereka yang punya ladang, dan syukur-syukur belum memiliki gawai canggih, akan pergi ke ladang, entah mengarit rumput, memanen, atau apa saja yang sudah menjadi rutinitas mereka dalam keseharian. Yang punya usaha ayam petelur memiliki banyak waktu untuk memberi makan hewan eksploitasinya, dan yang gemar rebahan, semakin memperkuat niat dan tekadnya untuk menjadi kaum rebahan sepanjang zaman.

Namun yang pasti, di tengah pandemi, lalu-lintas aktivitas internet semakin tidak dapat dikontrol. Pada mulanya, tinggal di rumah adalah barang mewah, bila dalil yang digunakan adalah untuk menghabiskan banyak waktu dengan keluarga. Mirisnya, itu pada mulanya, karena pada akhirnya yang terjadi tidak demikian. Pandemi memenjarakan banyak manusia di rumah. Mereka tidak bisa berhubungan dengan orang lain secara konvensional dan tidak bisa pergi ke tempat-tempat tertentu di realitas sosial-natural, sehingga kejenuhan tumbuh lebih cepat dari biasanya. Dunia nyata tidak lebih dari sekadar rumah, kamar mandi, kamar tidur, dapur dan meja makan.

Jalan keluar yang ditempuh adalah hidup di dalam internet. Mereka hidup dalam internet semampu yang mereka bisa dilakukan, mulai dari nongkrong di depan laptop menyiapkan materi video Youtube hingga mengunggahnya, menjadi pemateri webinar, hingga ke yang levelnya sekadar untuk hiburan: nonton film, video lucu, meme dan status WA Cocofun, video lucu-lucuan artis K-Pop yang sebenarnya sama sekali tidak memiliki hubungan dengan orang yang menontonnya, main game online, dan atau balas-balasan percakapan dengan pacar yang baru jadian dua minggu sebelum Corona datang menyerang.    

Sebagian orang berpikir, inilah saatnya menjalin hubungan emosional yang kuat dengan keluarga. Yang lainnya menganggap, inilah kesempatan emas untuk rebahan sebanyak dan sesering yang bisa dilakukan, apalagi sambil menjalani ibahah puasa. Yup, di masa pandemi ini, tanpa perlu melakukan penelitian atau observasi lapangan, hampir semua orang memilih tinggal di rumah—saya tidak berbicara orang-orang yang tinggal di suatu tempat yang masih jauh dari jangkauan Corona dan semoga mereka tetap jauh dari musibah ini—dan berkumpul bersama keluarga.

Mereka memang berkumpul sambil menikmati sajian buka puasa, tetapi untuk apa jika melakukannya sambil menatap layar ponsel masing-masing. Berbicara hanya sekadarnya, selebihnya menjadi manusia autis. Yang lain bisa saja sedang rebahan berjamaah. Tetapi untuk apa jika rebahannya di kamar masing-masing sambil mengunci tatapan dan perhatian ke layar ponsel, sampai-sampai mengacuhkan orang lain yang ada di sekitarnya. Ini persis banyak anak muda yang mengajak ngopi di kedai, tapi perhatian mereka tidak bisa lepas dari gawai masing-masing. Berkumpul dengan keluarga, tapi dengan aktivitas sendiri-sendiri di dalam dunia internet, persis sekumpulan orang tak saling kenal berkumpul dalam satu rumah kontrakan.

Inilah barang mewah itu. Barang mewah yang sebenarnya tidak mewah sama sekali. Pandemi yang dipikir bisa menjadi jeda bagi aktivitas manusia yang luar biasa tak terbendung beralih menjadi pandemi dalam bentuknya yang lain, yakni aktivitas digital yang tidak bisa dibendung dan disaring, yang mengantarkan manusia tidak hanya pada matinya kepekaan, tetapi juga pada hancurnya batas-batas sosial.

Seorang anak mengacuhkan panggilan orangtua yang mengharap bantuannya karena perhatiannya sedang fokus pada film terbaru yang sedang ditontonnya sambil rebahan. Manusia satu dengan manusia lainnya tak akrab meski berada dalam satu rumah atau satu meja, karena sibuk dengan aktivitas masing-masing di dalam internet. Seseorang sedang melakukan live instagram, tersenyum, tertawa, memasang wajah paling ramah, dan menanggapi pertanyaan dan komentar orang-orang yang menontonnya, yang kenal hanya karena saling mengikuti (follow and follow back), yang berada pada kejauhan ribuan mil, sampai tidak sadar dan tidak menanggapi komentar teman yang nyata-nyata ada di depan, samping kiri dan kanannya.

Seorang teman, yang sudah sukses menurunkan berat badan hingga tampak seksi dan ramping, gemar bermain Tiktok dan berhasil memamerkan setiap lekuk tubuhnya pada ribuan mata. Hal semacam ini sangat melimpah, dan siapa pun bisa melakukan hal gila ini. Seseorang bahkan Tiktokan di depan mata anaknya, dan di lain kesempatan anak itu Tiktokan juga di hadapan ibunya. Anak dan orangtua sama-sama Tiktokan.

Dalam suatu lingkungan sosial tertentu, batas-batas sosial masih jelas ada, meski sedikit demi sedikit mulai terkikis. Tetapi di internet, batas-batas itu mulai hancur dan nyaris tak tersisa. Tak ada lagi dunia anak-anak, dunia orang dewasa, dunia orangtua. Semua bercampur-baur jadi tontonan tak bermutu. Tak ada lagi dunia perempuan dan dunia laki-laki, karena para aktivis Tiktok dengan sangat rela dan senang hati sudah mempertontonkannya secara gratis kepada miliaran manusia di dunia. 

Banyak orang sudah memberitahu semuanya, sehingga hampir tak ada lagi rahasia yang tersimpan dari dirinya. Sebuah dunia penuh misteri dan tampak sakral karena ada banyak hal yang masih tersembunyi di dalamnya. Seseorang tak lagi keramat, sakral, dan menyimpan kejutan ketika dirinya sudah tak memiliki rahasia. Apalagi yang mau dirahasiakan jika semua yang terkait dirinya sudah diumbar dengan begitu gampang lewat Tiktok, Youtube, dan media-media digital yang lain.

Apakah kemajuan adalah ketika manusia berhasil menanggalkan kewarasan dan baju malu mereka? Kemajuan adalah ketika semua orang masih merawat kewarasannya dan bertindak sebagai manusia. Kita sepakat bahwa tidak ada orang yang tidak ingin diakui. Ada banyak cara untuk bisa diakui. Tetapi, meninggalkan kewarasan dan menanggalkan baju untuk pamer lekuk tubuh bukan jalan yang futuristik. Yang terakhir adalah berarti kembali ke masa-masa primitif, saat manusia belum mengenal kemajuan ilmu dan teknologi, dan tentu saja, peradaban.

Tetapi begitulah pandemi ini mendorong manusia tercebur ke dalam kejenuhan panjang. Sebagian orang menggunakan kesempatan ini untuk tetap melakukan kerja-kerja produktif, sedang sebagian yang lain mengisinya dengan rebahan, menatap layar, dan berbondong-bondong menjadi manusia autis. Sementara itu, sebagiannya lagi menempuh jalan di luar nalar, menanggalkan perasaan malu untuk memberitahu rahasia dirinya kepada dunia. 

Latif Fianto, perantau yang selalu merindukan rumah, karena pulang adalah takdir setiap manusia. Sekarang sedang menyiapkan novel terbarunya tentang pulang. Menyapanya bisa melalu Instagram @latif_fianto

Komentar

News Feed