oleh

Eka Kurniawan dan Kritik Terhadap Kerja-Kerja Negara

-Kolom-198 views

Beberapa pekan lalu dunia literasi dihebohkan atas penolakan sebuah penghargaan bergengsi, Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 yang akan diberikan kepada penulis novel best seller ‘Cantik Itu Luka’, Eka Kurniawan. Dalam kesempatan tersebut Eka Kurniawan mendapat penghargaan untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru. Tetapi di luar perkiraan, lelaki kelahiran Tasikmalaya itu malah tidak mengambilnya.

Penolakan Eka bukan tanpa sebab. Hal tersebut ia lakukan sebagai kritik terhadap pemerintah, bahwa tidak ada bukti nyata negara dan pemerintah melindungi seniman dan kerja-kerja kebudayaan. Ia menganggap negara tidak serius, tidak peduli terhadap kesusastraan dan kebudayaan negeri ini secara umum.

Namun terlepas dari itu semua, Eka ingin menyampaikan jika proses yang diawali oleh kerja keras tak dapat begitu saja ditukar dengan apa pun. Termasuk dengan sebuah penghargaan. Mungkin bukan bentuk semacam itu yang diinginkan Eka, tetapi suatu hal yang lebih, mengenai dunia kesusastraan dan kebudayaan literasi bangsa. Mengingat rata-rata generasi melenial sudah sedikit yang berminat tuk belajar hal-hal yang demikian.

Apalagi yang baru-baru ini terjadi, tentang nasib buku-buku yang diambil paksa, dirampas, bahkan dibakar oleh sejumlah aparat keamanan. Katanya, takut menjadi konsumsi masyarakat yang ke kiri-kirian. Dan yang tak kalah anehnya, dengan buku-buku tersebut aparat takut stabilitas keamanan negara terancam. Coba, apa tidak konyol kedengarannya. Padahal, membakar buku sama halnya negara sedang menghacurkan peradaban. Masih ingatkah kejadian saat Amerika Serikat menggempur habis-habisan wilayah Bagdad pada Mei 2003 lalu. Terpampang jelas negara adidaya itu berupaya memusnahkan peradaban Bagdad dengan pembakaran buku dan perusakan museum-museum yang ada di sana.

Mengenai hal itu, Fernando Baez, penulis ‘Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa’ terlebih dahulu mengemukakan kritiknya bahwa buku-buku dihancurkan bukan oleh ketidaktahuan awam atau kurangnya pendidikan, melainkan justru oleh kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing. Dalam artian negara bukan tidak paham, karena memang ada kepentingan-kepentingan tertentu sehingga secepatnya harus dibasmi—atau takut akan menimbulkan kegentingan yang membuat negara tidak sanggup mengatasinya.

Kejadian tersebut langsung mendapat komentar dari Direktur Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (LESPERSSI), Beni Sukadis yang secara gamblang mengatakan, hal demikian secara tidak langsung merupakan bentuk penghinaan intelektual. Karena di dalam razia tersebut juga terdapat tulisan Founding Fathers kita, Presiden Soekarno yang juga ikut diringkus. Tak luput tulisan pemikir-pemikir hebat, intelektual yang justru anti-komunis seperti Soe Hok Gie dan Ong Hok Ham menjadi sasaran empuk para aparat.

Sangat ironis sekali. Saya berani bertaruh, para pelaku Librisida (istilah untuk penghancuran buku) yang menyita buku-buku tersebut belum selesai atau bahkan tidak pernah membacanya sama sekali. Mereka tidak paham bahwa di dalamnya ada sebuah mimbar kebebasan akademik yang wajib dihargai bilamana bangsa ini ingin maju. Sebagaimana dikatakan oleh Filsuf asal Austria, Michael Polanyi, that academic freedom was a fundamental necessity for the production of true knowledge.

Tentang karya-karya Eka, bagi saya sangat layak ia untuk mendapatkan penghargaan yang akan diberikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Apalagi penghargaan semacam itu tidak hanya kali ini saja. Pada tahun 2018, pengagum Pramoedya Ananta Toer ini berhasil meraih penghargaan Internasionalnya di Belanda. Ia sukses menggunakan kekuatan sastra dan literatur sebagai penyampai topik-topik krusial terutama dalam masa-masa ketika kebebasan berpendapat mulai tidak dapat tempat.  

Setiap tulisan-tulisannya Eka seolah ingin memadukan gejolak yang terjadi dalam realitas keseharian dengan situasi bangsa. Ditulis dengan gaya beserta karakternya tersendiri. Misal, dalam kumpulan cerpennya yang bertajuk ‘Corat-Coret Di Toilet’, Eka secara blak-blakan melucuti keadaan negeri yang memprihatinkan—ia lebih mempercayai kata-kata yang ditemui pada coretan di toilet daripada ucapan penguasa kala itu.

Lewat bukunya-bukunya ia meluapkan kekecewaan yang mendalam. Barangkali benar jika penulis asal Rusia, Maxim Gorky dalam bukunya “Pecundang” mengatakan, kalau buku adalah pelampisan nafsu birahi, produk pelacuran pikiran. Dengan buku pula akan membongkar tabir kejiwaan—cara satu-satunya ketika ucapan kian dibungkam.

Sementara itu, penolakan Eka terhadap penghargaan bergengsinya juga menjadi tamparan telak kepada penulis-penulis baru yang sedang memulai. Bagaimana tidak? Sekelas Eka yang tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal tersebut malah menolaknya. Tetapi di luaran sana orang-orang yang baru memulai dan hanya sedikit hasil karyanya seolah-olah sudah merasa hebat. Dimuat sana-sini. Padahal masih jauh dari kata sempurna.

Berkarya harusnya dengan kecintaan, bukan atas embel-embel kesaktian. Bukan malah dijadikan ajang pamer-pameran. Supaya tetap menjaga kemurniannya—takut terkontrol kekuasaan—untuk menjatuhkan lawan—atau untuk memuji kerja-kerja penguasa.

Jika demikian, meraka berkarya seolah hanya mencari popularitas, uang semata. Atau  bahkan hanya menginginkan puja-puja. Bukan untuk membangun budaya literasi untuk meningkatkan minat baca bangsa yang kian menukik jauh ke bawah.

Sebagaimana diketahui, hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA), rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015, Indonesia masih begitu rendah minat bacanya. Begitu juga dari hasil penelitian World’s Most Literate Nations’ yang diumumkan pada Maret 2016, produk dari Central Connecticut State University (CCSU) itu lagi-lagi Indonesia masih jauh dibawah Negara-negara tetangga.

Penulis-penulis hebat pun jika ditanya soal proses kreatifnya, rata-rata jawabannya, perbanyak membaca buku. Amat keliru jika seorang ingin menjadi penulis namun tidak pernah membaca buku. Begitu pun yang dikatakan Asma Nadia, membaca merupakan syarat utama untuk bisa menulis.

Bacaan juga menjadi pengaruh atas konstruk pikiran yang ingin dituangkan dalam tulisan. Bisa jadi, suatu hal yang ditulis mencerminkan apa-apa yang telah dibaca. Karena isi tulisan tak jauh dengan isi kepala. Sedangkan isi kepala, tergantung asupan bacaannya.  

Kritik saya, jangan mencari popularitas terlebih dahulu. Cintai serta lakukan setulus hati supaya tidak tergiur oleh puja-puja yang justru akan menjatuhkan diri sendiri. Dan perlu diingat, penulis hebat butuh perjuangan. Perjalanan panjang dan melelahkan. Ibarat buah, tak mesti langsung manis. Menunggu waktu pas jika ingin menghasilkan rasa yang sempurna. Ada juga manis dengan cara yang cepat. Akan tetapi cepat pula membusuk, tak guna, kemudian terbuang. 

Pantas saja seorang Eka menolak mentah-mentah penghargaan itu. Penulis yang dinobatkan sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh di dunia pada tahun 2015 ini masih kecewa terhadap kerja negara dalam memberikan jaminan keamanan kepada pegiat-pegiat sastra dan kebudayaan bangsa Indonesia. Apalagi dalam penghargaan tersebut ia hanya mendapatkan pin dan sejumlah uang sebesar 50 juta. Itu pun masih dikenakan pajak.

Karya kreatifnya harus mendapatkan suatu hal yang lebih dari pada itu. Sebagai bentuk apresiasi negara terhadap para pejuang-pejuang sastra yang ingin meningkatkan kualitas literasi bangsanya.

Malang, 2019

Komentar

News Feed