oleh

Gaya Hidup Hedonis dan Tantangan Literasi Masyarakat Kampus

Ilusttasi foto (Geotimes)

Seiring pesatnya perkembangan arus post-modernisme sekarang ini, selain ditandai dengan lahirnya masyarakat informasi, juga ditandai dengan mencuatnya eskalasi gaya hidup masyarakat yang materialis. Dalam artian, perkembangan zaman kini telah menggeser nilai serta gaya hidup masyarakat yang berpolakan konsumerisme. Jika di era modernisme sebelumnya klasifikasi kelas sosial masih dipilahberdasarkan ras atau gender,di era post-modernis saat ini pembagian kelas dibedakan berdasarkan gaya hidup dan pola-pola konsumen masyarakat.

Lantas, apa sih yang dimaksud dengan gaya hidup dan budaya konsumen itu ? Gaya hidup merupakan suatu aktivitas sosial yang diekspresikan melalui apa yang dikenakan seseorang, apa yang ia konsumsi, dan bagaimana ia bersikap atau berperilaku ketika ada dihadapan orang lain. Sementara, masyarakat konsumen merupakan corak masyarakat yang cenderung diorganisasikan diseputar konsumsi ekonomi secara praktis. Yang pada hakikatnya, gaya hidup dan budaya konsumsi merupakan suatu peleburan aktivitas sosial yang lahir bersamaan dari rahim post-modernisme. Sebab, post-modernisme berhasil merekayasa sosial bukan hanya pada aspek pembangunan fisik Bangsa semata, melainkan juga merubah pola perilaku masyarakat.

Masyarakat Indonesia tercatat sebagai masyarakat dengan pola hidup yang terbilang materialis dengan daya konsumtif tinggi. Hal itu dibuktikan berdasarkan riset yang dilakukan oleh PT Neurosensum Technology International (NTI) tahun 2018 yang membeberkan pola konsumen masyarakat Indonesia. Hasil penelitian tersebut menggambarkan perilaku konsumen masyarakat dengan membelanjakan uangnya lebih banyak untuk produk gaya hidup, rekreasi, kesehatan dan kebugaran.

Kita harus memaklumi hal tersebut, mengingat kebutuhan dan keinginan hidup setiap manusia tidak ada batasnya. Kalau yang dimiliki sekarang adalah Handphone android dengan merek samsung, maka tidak menutut kemungkian akan mengganti Handphone dengan merek yang lain kalau produk yang lama dirasa sudah kuno atau bosan digunakannya. Begitupun dengan komuditas yang lain. Pola hidup seperti itu memang dilatar belakangi oleh banyak faktor, tetapi motif yang paling mencolok kenapa pola hidup masyarakat Indonesia seperti itu, karena faktor citra diri. Dalam artian, menampakkan pola hidup yang sokmewah itu agarmendapat apresiasi dan sanjungan dari orang lain. Bila di analisis lebih dalam lagi, masyarakat yang menciptakan pola hidup yang konsumerisme tersebut memang bukan tanpa alasan. Sebab, dalam praktiknya masyarakat yang membelanjakan uangnya demi mendapatkan komuditas yang diinginkan itu, didasarkan bukan pada faktor kegunaaan atau nilai, melainkan dari apa yang melekat pada komuditas tersebut. Dalam artian, masyarakat yang membelanjakan suatu produk itu bukan karena faktor kebutuhan, melainkan faktor pujian, kegengsian dan harga diri.

Alasan irasional yang melatarbelakangi pola perilaku konsumsi masyarakat seperti inilah, yang menurut Baudrillard sebagai bukti bahwa yang dikonsumsi sesungguhnya adalah tanda atau semata citra, bukan kemanfaatan komuditas yang dibelinya itu. Tentunya, hal ini menjadi budaya baru masyarakat Indonesia di era yang serba digital ini. 

Perkembangan budaya hidup yang height class itu, kini telah merasuk dan mewabah kesegala dimensi kehidupan manusia, tak terkecuali  kehidupan kampus. Budaya baru yang sedang menggurita dalam kehidupan kampus itu, terutama yang terkontaminasi adalah mahasiswa. Jika dipilah, ternyata budaya tersebut diinspirasikan oleh semangat Hedonisme.

Hedonisme sebagai budaya baru Mahasiswa

Jika dibandingkan, pergulatan mahasiswa dari setiap zaman, tampaknya era 60 dan 90 an tampil sebagai era gemilang. Pantaslah, jika mahasiswa di era tersebut, berhasil menggaungkan semangat pembaharuan melalui tindakan dan aksi nyata. Sebab, mereka matang secara konsespi dan gagasan yang produktif. Kematangan intelek tersebut bukan lahir dengan instan, atau terbentuk dengan sendirinya. Mengingat pada zaman itu, wahana literatur menjadi aktivitas sakral yang harus ditunaikan. Disaat bersamaan, ruang-ruang diskursus selalu ramai dipenuhi mahasiswa, memperbincangkan persoalan bangsa dan negara dengan dasaran kerangka analisis yang utuh. Titik kulminasinya, saat bangsaditerpa oleh badai politik dan ekonomi yang tak berkesudahan, menghendakimahasiswa membukamata hati dan pikiran untuk menggalakkan semangat perjuangan. Alhasil, mahasiswa mampu membentuk jati dirinya sebagai kelompok intelektual dan tampil sebagai garda perubahan bangsa.

Lalu, bagaimana dengan keadaan mahasiswa saat ini ? Budaya konsumerisme dan gaya hidup yang mewah, kini telah merasuk dalam lingkaran kehidupan mahasiswa. Hal tersebut bisa kita amati melalui optik sosial kita, tentang corak kehidupan mahasiswa yang kekinian. Tentunya, kesimpulan pengamatan setiap individu pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurut hemat penulis, yang paling mencolok adalah gaya hidup mahasiswa yang telah digiras budaya hedonisme.

Gemerlapnya tempat perbelanjaan seperti mall, caffe, supermarket bahkan transmarket menjadi daya pikat tersendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa.Tempat ini menjadi destinasi wajib dikunjungi mahasiswa yang berpola hedon. Dengan embel-embel, biar kelihatan keren dan menawan agar citra sosialnya dianggap mapan. Terbukti penelitian yang dilakukan oleh Trimartati pada tahun 2014, yang mensinyalir bahwa setiap orang berpotensi untuk bergaya hidup hedonis, terutama mahasiswa yang lingkup pergaulannya lebih berkembang serta persaingan antar individu untuk mendapatkan status sosial, salah satunya dipengaruhi oleh keinginan individu untuk dipandang lebih modis dan tidak ketinggalan zaman.

Perpustakaan dan pasar buku sebagaiwisata intelektual, seakan tak ada pengunjungnya. Kalaupun ada pengunjungnya, palingan yang datang karena hanya ada butuhnya. Sebagai misal membuat tugas di perpustakaan dan belanja buku ketika dianjurkan oleh dosen mata kuliah. Parahnya, komunitas-komunitas literatur seakan redup dan tak menggema lagi. Pantaslah, jika Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan tingkat literasi terendah kedua di dunia.  Kemerosotan literasi Indonesia bukan tanpa alasan, sebab penelitian yang dilakukan oleh organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB (UNESCO) pada tahun 2016 yang membeberkan tingkat literasi Indonesia yang menduduki posisi 60 dari 61 negara. Hanya 0,001 %. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Sungguh memprihatinkan.

Jika ditelusuri sebeb-musababnya, tentu banyak aspek yang mempengaruhinya salah satunya adalah budaya hedonisme mahasiswa dengan gaya hidup yang serba materialis. Sehingga berdampak pada kemacetan literasi yang pada akibatnya daya kritis dan produktivitas  mahasiswa mengalami kelumpuhan. Senada dengan hal itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pernah berfatwa bahwa “saat ini, hedonisme dan konsumerisme mempengaruhi gaya hidup sebagian kalangan mahasiswa dan membuat sebagian mahasiswa di Indonesia tidak kritis, kurang progresif bahkan ada yang tidak memiliki orientasi jelas, tidak mempunyai kepedulian sosial dan lain sebagainya”.

Kondisi demikian seharusnya dibutuhkan keterlibatan pemangku kepentingan terutama mahasiswa untuk berbenah dan membudayakan kembali semangat literasi. Jika tidak memutus mata rantai budaya hedonisme yang semakin menjala ini, maka upaya untuk menggadrungi kejayaan bangsa hanya menjadi mimpi dan hayalan hampa.

Komentar

News Feed