oleh

Hegemoni Orang Pertama dan Kerja Seorang Intelektual

Posisi sebagai orang pertama, kadang, membuat seseorang merasa berada di puncak kekuasaan. Orang pertama merasa punya hak untuk mengatur-atur, menghegemoni, dan secara simultan mendominasi setiap urusan. Orang kedua dan berikutnya dengan senang hati—apa jangan-jangan juga terpaksa?—menjadi seperti kerbau yang ditusuk hidungnya. Orang kedua menjadi terpinggirkan, bahkan dalam urusan-urusan intelektual.

Ada banyak cerita soal hegemoni orang pertama ini. Saya ingin menceritakannya pelan-pelan. Ini bukan cerita tak berdasar. Ini kerap saya temukan di beberapa kelompok-kelompok sosial-kepemudaan, meski dalam kelompok-kelompok sosial yang lebih besar tentu juga terjadi.

Kawan saya, X, adalah orang penting di zamannya. Ia mengorganisasi puluhan anggota untuk melakukan kerja-kerja intelektual, meski pada kenyataannya tidak intelektual-intelektual amat. X melakukan doktrinasisasi kepada semua anggotanya mengenai hal-hal yang urgen dalam sebuah kelompok yang dipimpinnya, terutama tentang pemahaman mengenai kerja-kerja seorang intelektual, pentingnya mendobrak kelaliman, dan urgensitas membangun budaya ilmiah.

Pada akhirnya, sebuah jabatan harus dilepas. X turun jabatan. Tetapi pengaruhnya sangat kuat di benak para anggota. Kondisi itu pelan-pelan menjadikan X seolah menjadi dewa yang ingin dikultuskan, atau sebenarnya X memang sengaja melakukan doktrin-doktrin yang kuat untuk kemudian agar dikultuskan sebagai dewa. Dewa bagi kelompok yang selalu memujanya. X memiliki pengikut militan dan fanatik. Di ruang-ruang diskusi nama X dielu-elukan. Semacam Karl Marx dielukan Marxis. Atau serupa Immanuel Kant bagi Kantian.

Hegemoni X semakin kuat. X mendominasi urusan-urusan yang sebenarnya sudah bukan levelnya. X mengatur siapa yang harus maju sebagai pemimpin dan siapa yang harus gagal. Semacam mengatur strategi perang, X mengorganisasi kapan harus maju, dan kapan harus menarik mundur pasukannya. X mengatur chaos dan ketegangan. X sengaja menjadi lupa bahwa itu bukan ranahnya. Pemimpin baru menjadi orang kedua, yang kemudian terlupakan, dan akhirnya tidak berkembang, karena selalu mengalami ketergantungan kepada si X. Orang kedua mengalami inkonsistensi dalam prinsip, dan itu kondisi yang sangat tidak baik dalam melakukan kerja-kerja intelektual.

Meski yang dilakukan X keliru, tetapi para pengikutnya tetap memuja dan mengikutinya—tentu di bawah bayang-bayang ketakutan. X benar-benar menjadi dewa—kalau tidak mau disebut sebagai nabi. Maka, kekeliruan sedikit apa pun yang dilakukan orang kedua, tidak akan termaafkan bagi orang pertama. Di sini sebuah hukum berlaku: orang pertama selalu benar dan sudah sepantasnya untuk dipuja.

Suatu hari, ini kasus berbeda, dan terjadi baru-baru ini, meskipun kasus serupa terjadi di mana-mana, seorang kawan dekat mengeluh tentang sepupunya, seorang gadis, yang hendak dijodohkan oleh orang tuanya. Tahun ini gadis itu baru masuk di sebuah universitas. Tetapi orang tuanya, hendak menjodohkannya dengan seorang laki-laki tidak dikenal, berbeda agama pula. Meskipun si anak tidak mau, tetapi lantaran si laki-laki adalah seorang calon perwira dan hartawan, orangtuanya tetap memaksa. Bahkan, orangtuanya melakukan hal-hal yang tidak patut dilakukan oleh seorang orang tua terhadap anak. Si orang tua menyuruh si laki-laki datang untuk menemui si gadis di rumahnya malam-malam. Sempat juga si orang tua menyuruh gadis itu tidur di rumah neneknya dan akan ditemani oleh si laki-laki. What for?

Posisi sebagai orang pertama kerap disalahgunakan. Orang tua memang melahirkan anak-anak ke dunia, tetapi bukan berarti orangtua memiliki hak merampas masa depan anak-anaknya. Bahkan dalam urusan jodoh, orangtua perlu menanyakan pendapat si anak: mau tidak dijodohkan dengan seorang laki-laki yang tidak dicintainya, bahkan tidak dikenal. Tetapi, silau melihat harta, orang tua kerap lupa menjadi orang tua, bahkan terkesan ingin menjadi gigolo. Bukannya memaksa anak gadis menikah dengan seorang laki-laki hanya dengan mempertimbangkan bahwa si laki-laki sangat berharta tanpa mempertimbangkan syarat-syarat lain yang lebih utama, agama, misalnya, adalah bentuk lain dari human trafficking tetapi dengan cara yang lebih halus?

Ketika kawan dekat saya cerita tentang gadis itu, tak ada yang bisa saya lakukan selain memberikan nasihat-nasihat—sok-sok bijak—tentang bagaimana perlunya ia memberikan pemahaman terhadap si orang tua. Bagaimana pun juga, orang tua tetap manusia. Meskipun lebih dulu lahir ke dunia dan telah banyak menelan asam garam kehidupan, orang tua tetap bisa melakukan kekeliruan. Dan ia—kata saya—sebagai mahasiswa, harus melakukan fungsinya sebagai seorang intelektual, kritis terhadap situasi sosial.

Seorang intelektual tidak diam atas kekacauan-kekacauan sosial yang terjadi di sekitar. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat ilmiah. Dan salah satu gerbang lahirnya seorang intelektual adalah universitas, tempat yang seharusnya menjadikan mahasiswa lebih kritis dan berani mendobrak kelaliman. Menjadi mahasiswa bukan hanya untuk lulus tepat waktu dan memperoleh IPK bagus, tetapi juga wajib mendayagunakan pikiran untuk mendobrak kebobrokan sebuah sistem. Edward W. Said dalam bukunya, Peran Intelektual, menyatakan, dosa paling besar orang intelektual adalah apabila ia tahu apa yang seharusnya dikatakan, tetapi ia menghindar. Ia tidak pernah boleh mau mengabdi kepada mereka yang berkuasa.

Edward W. Said seolah ingin menyinggung apa yang terjadi di dunia universitas dewasa ini, yang menuntut mahasiswa untuk segera lulus, meski dengan kerja-kerja intelektual yang buruk. Dosen menutup mata akan historisitas tugas akhir yang disusun mahasiswa. Di sudut-sudut dinding dipasangi trik-trik lulus tepat waktu. Mahasiswa mengalami beragam ketakutan. Tidak hanya takut mengajukan kritik di dalam kelas, tetapi juga takut proses kelulusannya dipersulit. Padahal menurut Robin Small, dalam buku Marx Sang Pendidik Revolusioner, sebaiknya pendidikan adalah yang mendorong mekarnya semangat memberontak dan berkreativitas, sekolah di mana guru adalah kolega bagi murid-muridnya.

Tapi, yang saya hadapi saat ini orang tua, bukan teman sebaya, apalagi seorang pacar, kata kawan dekat saya. Orang tua, yang nyaris selalu memposisikan diri sebagai orang pertama dan merasa berkuasa, di beberapa kelompok sosial tertentu, telah berhasil menjadi momok menakutkan bagi anak-anaknya. Sebagaimana X, orang tua yang demikian menanamkan mitos-mitos buruk tentang bagaimana menjadi orang tua. Berhasil mendidik anak dalam ketakutan-ketakutan.

Ketundukan orang kedua pada orang pertama berdasarkan ketakutan-ketakutan—takut akan diputusnya aliran lauk-pauk, takut disangka membangkang, takut diasingkan dari pergaulan, dan takut-takut yang lain—akan melahirkan kemunafikan kepada Tuhan. Orang pertama selalu ingin dipuja dan bahkan kalau perlu disembah sebagai seorang dewa.

Beruntung Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang diutus Allah ke bumi—tugasnya sangat mulia, menyempurnakan akhlak. Kalau tidak, saya dapat membayangkan, akan muncul lebih banyak lagi nabi-nabi baru, bahkan dalam komunitas-komunitas kecil, yang bahkan nyaris tidak kuat berjalan dalam kerasnya pertarungan kerja-kerja intelektual. Kabar yang lebih buruk, di bawah hegemoni orang pertama, orang kedua, bahkan yang merasa sebagai seorang intelektual pun, tidak bisa melakukan fungsinya. Sebab apa? Sebab orang pertama selalu merasa berkuasa, tak tertandingi, dewa bagi manusia-manusia yang lahir terkemudian.

Lalu bagaimana dengan masa depan orang kedua? Apakah kebesaran orang kedua harus mengalami apa yang dikatakan Mahbub Djunaidi terlebih dahulu, kebesaran seorang baru tampak sesudah ia wafat. Apakah ia memang macan atau sekadar domba biasa?

Wallahu a’lam.

 

Latif Fianto, penulis yang bercita-cita nikah muda tapi tidak tercapai. Menulis fiksi dan nonfiksi. Novel pertamanya, Batas Sepasang Kekasih (Basabasi, 2018).

Komentar

News Feed