oleh

Hidup dalam Tiga Dunia Ala Farid Stevy

Farid Stevy

Jogjakarta tidak pernah berhenti melahirkan nama-nama besar seorang seniman besar. Salah satu bukti yang paling nyata adalah ketika Jogja mampu membesarkan nama seorang pemuda kelahiran Gunung Kidul, 20 Oktober 1982 atau kurang lebih 38 tahun sebelum hari ini. Nama yang telah dibesarkannya adalah Farid Stevy Asta, S.Sn atau yang biasa disapa Mas Farid. Gelar Sarjana Seni yang direngkuh melalui pendidikan formal di Institut Seni Indonesia Yogyakartapada jurusan DesainKomunikasi Visual (DKV). Hari ini namanya tidak diragukan lagi urusan seni dan idealismenya di seluruh dataran jogja dan sekitarnya. Sosok fenomenal yang satu ini lebih dikenal dengan multitaskingnya.

Nyaris tak terhitung prestasi atau karya yang sudah beliau persembahkan kepada khalayak. Salah satunya melalui pameran tunggalnya di berbagai wilayah di Indonesia seperti pada tahun 2008 dengan tema “Dynamic Duos” di Langgeng Gallery Magelang, Tahun 2011 dengan nama “URGNT SLNC URGNT SNDS” bersama Deus Ex Machine kembali, di Bali. Tahun 2012 dengan tema “GDRS GTH” atau godres getih yang artinya tetesan darah, bersama Deus Ex Machine di Jakarta. Tahun 2013 dengan tema “Bahagia itu Sederhana“, di Kendra Gallery, Bali. Dan berbagai pameran tunggal maupun kelompok lainnya di berbagai kota, baik itu di dalam maupun luar Jogja. Dalam profesinya yang lain sebagai graphic designer pun karya maupun prestasinya tidak kalah mentereng dengan pencapaiannya sebagai visual artist. Tentunya kita tahu dengan logo PT KAI yang sekarang ini di pajang digerbong-gerbong kereta juga stasiun. Logo  tersebut adalah hasil karya tangan pemuda berambut gondrong ini. Ia mendapat hadiah sebesar 200 juta rupiah untuk sayembara logo PT KAI dan mengalahkan sekitar 2800 peserta dan partisipan dalam sebuah ajang sayembara logo yang dihelat oleh PT KAI. Tidak kalah mentereng lagi tentang logo yang popular lewat film Filosofi Kopi yang pada tahun 2015 saja sudah dinikmati lebih dari 150 ribu pasang mata. Namun semua itu masih merupakan sedikit sudut saja dari kepakkan sayap seorang Farid Stevy.

Dalam mengayuh roda kehidupan, Ia mempartisi menjadi 3 zona. Yang pertama adalah Visual art, dimana Ia berkarya rupa lalu kemudian berpameran sekaligus menuangkan ego juga idealisme. LIBCULT menjadi sebuah nama studio yang dijadikannya tempat menuang ego. Kedua adalah Graphic Design, seperti membuat logo, poster, maupun bentuk desain grafis lainnya dimana beliau menaruh jauh-jauh ego dan idealisme karena harus berurusan dengan uang demi keberlangsungan kehidupan. Ruang studio yang berbeda pula tentunya namun masih ada kemiripan nama yakni LIBSTUD yang merupakan singkatan dari Liberated Studio. Dan yang ketiga adalah Musisi, dimana Ia menjadikan musik sebagai sarana menjalin hubungan sosial layaknya manusia hidup di dunia. Dalam zona ini ia sangat berperan vital dalam segala ritual permusikan sebuah band indie Jogja yang bernama Jenny sebelum bermetamorfosa menjadi FSTVLST.

Berangkat dari latar belakang masyarakat desa yang identik dengan sawah dan ladang, tentunya belum banyak yang mampu membongkar tempurung stigma yang sampai hari ini terus menerus bergelayut di atas kepala masyarakat desa pada umumnya. Farid Stevy membuktikan digdaya pemikiran itu, bahwa siapapun bisa menjadi apapun. Berbekal dari bapak yang sudah menggeluti dunia poster dan desain sejak masa kecil mas Farid, maka berkembanglah kepakkan sayap itu menjadi sesuatu yang bukan perihal remeh lagi. Membongkar lalu keluar dari lingkaran yang menjadi mayoritas memang tidaklah mudah. Sebab dalam keberlangsungan hidup manusia akan selalu dihantui pentingnya uang, harta benda dan urusan materi lainnya dengan dalih menyambung rantai makanan. Menyiasati keadaan yang seperti ini sangat dibutuhkan ketenangan jiwa dalam memutuskan segala sesuatu dalam berlangsung hidup, besosial, dan mempertahankan idealisme.

Bergerak dan bekerja penuh ketulusan adalah cerminan yang sangat nampak dari seorang Farid Stevy. Hal itu dibuktikan dari ratusan bahkan ribuan karya yang telah lahir dari tangan dinginnya. Dari gerbong menuju gerbong, stasiun hingga stasiun, tangga lagu, dan lukisan seni rupa dari dinding ke dinding hingga busana yang barangkali tidak pernah disadari dari tangan siapa karya-karya itu lahir. Bahkan kuliah-kuliah umum yang diisi tanpa menyandang gelar S2 memberi bukti bahwa “Ngelmu kuwi kelakone kanthi laku” yang berarti bahwa ilmu itu bisa dipahami dan dikuasai dengan cara memperkokoh karakter, sebab kokohnya karakter akan menjauhkan dari sifat angkara.

“Barbarian bersorban, rantai kuasa yang tiran, maniak perang, brilian dengan citra curian. Cendekia pendusta, para bangga berdosa, gila belanja, dan mungkin kamu salah satunya.” Sepenggal lirik syarat maknawi yang segelintir saja sempat mendengar apalagi menafsir. Sedang saat kita menyelami makna, maka kita akan sadar, mulai dari posisi kita dalam sudut pandang kehidupan. Yang orang jawa mempopulerkan istilah “Kenal Diri Berbudi Luhur” hingga menjadi sebuah manfaat yang disebut “Empan Papan”.

Komentar

News Feed