oleh

Hukuman Adat Dayak untuk Edy Mulyadi akibat Sebut Kalimantan ‘Tempat Jin Buang Anak’

Suku Dayak menanti Edy Mulyadi yang menyebut kalimantan “Tempat Jin Buang Anak’ (ist).

Indotribun.id, Kalimantan Barat-  Terkait ujaran rasis yang disampaikan oleh Edy Mulyadi pada jumpa pers di media sosial yang menyampaikan Kalimantan sebagai tempat pembuangan anak jin itu sedang dilakukan proses penyidikan oleh pihak yang berwajib.

Namun, meski kasusnya sedang ditangani oleh pihak kepolisian, mantan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu sedang ditunggu sanksi adat oleh masyarakat adat suku dayak.

Suku dayak merupakan salah satu suku terbesar yang berada di wilayah kalimantan dan masih kuat akan kebudayaannya. Banyak jumlah wilayah di Indonesia masih erat memegang tradisi leluhur.

Hal itu juga berkaitan dengan deretan hukuman adat yang menjerat bagi para pelanggar.  Persoalan Edy Mulyadi yang menyebutkan Kalimantan sebagai tempat jin buang anak pun menyulut emosi masyarakat suku dayak.

Sejumlah tokoh adat bahkan mengaku telah menyiapkan hukuman adat. Dilansir dari kalsel.inews.id, Dalam buku yang berjudul Pemetaan Suku Dayak Kalis di Kec. Kalis, Kab. Kapuas Hulu, Prov. Kalimantan Barat. Pontianak: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional karya Neni Puji Nur Rahmawati, 2008 menjabarkan deretan hukuman adat di suku tersebut.

Dijelaskan, jika Suku Dayak Kalis merupakan sub rumpun suku Dayak yang berdomisili di Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Disebutkan dalam buku tersebut jika Suku Dayak Kalis merupakan warga yang tinggal di sepanjang Sungai Kalis.

Sesuai dengan perkembangan jaman, Suku Dayak Kalis pun menyepurnakan aturan tersebut. Kitab Hukum Adat Dayak Kalis merupakan hasil penyempurnaan pertama melalui Musyawarah Adat Suku Dayak Kalis yang diselenggarakan pada 26-28 Oktober 2007 di Desa Nanga Danau.

Musyawarah itu juga melibatkan banyak pihak, di antaranya tokoh-tokoh adat, masyarakat, serta kaum intelektual dari suku Dayak Kalis sendiri.  Hukum adat Suku Dayak Kalis ini bersifat mengikat dan mengatur tata kehidupan masyarakat dalam komunitas Suku Dayak Kalis, termasuk anggota masyarakat non Suku Dayak Kalis yang hidup dalam wilayah adat Suku Dayak Kalis.

Dalam Batang Tubuh Kitab Hukum Adat Suku Dayak Kalis tersebut terbagi menjadi 17 bab, dan terinci menjadi 128 pasal. Ada beberapa istilah hukum adat yang ada di Suku Dayak Kalis, diantaranya; Saut, Satanga’ Baar (setengah pati nyawa), Pati Nyawa atau Raga Nyawa atau Baar, dan adat kampung.

(Indotribun/Faruq)

Komentar