oleh

Indonesia Perlu Merawat Moral

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Tuhan telah menciptakan manusia dengan kelengkapan perangkatnya, baik perangkat lunak berupa hasrat dan akal serta perangkat keras berupa kesempurnaan anggota tubuh. Untuk memantau dan mengendalikan perangkat tersebut diciptakan sistem berupa aturan-atauran atau tata tertib yang harus dipatuhi oleh manusia sebagai makhluk yang berakal-budi.

Masyarakat membutuhkan aturan sebagai tolok ukur dalam berperilaku agar tercipta stabilitas sosial. Norma dan nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat umumnya dikenal sebagai aturan. Ini bisa berasal dari Tuhan. Wujudnya kitab suci. Ada pula aturan yang dibuat oleh manusia. Ini dikenal sebagai hukum adat atau yang lebih tinggi, hukum negara.

Pada dasarnya segala bentuk aturan memiliki tujuan baik. Salah satu tujuan yang paling jelas adalah membatasi perangkat yang terdapat dalam diri manusia agar tercipta manusia yang beradab dan bermoral sehingga tidak bertindak sekehendak sendiri.

Hukum dan peraturan tidak terlepas dari bagaimana masyarakat yang berada di bawah naungan peraturan tersebut mengimplementasikan nilai yang terkandung di dalamnya. Coba kita tilik lebih detail bagaimana perkara hukum-menghukum dan atur-mengatur di negara kita. Melihat realitas kehidupan sosial sekitar, yang kita temukan adalah adanya pengeroposan nilai-nilai moral dan keluhuran norma di masyarakat terutama di kalangan generasi muda. Generasi muda adalah tunas bangsa. Memiliki tanggung jawab untuk membwa Indonesia menuju kegemilangan di masa depan.

Akan tetapi, nilai-nilai luhur yang selama ini dianut oleh bangsa ini mengalami degradasi dan berujung pada penyimpangan-penyimpangan sosial yang semakin hari semakin memperihatinkan. Bahkan tindakan menyimpang tersebut tidak lagi dianggap sebagai hal-hal serius yang akan bertransformasi menjadi budaya baru di kalangan masyarakat.

Moral remaja semakin mengalami kemerosotan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan sosial, baik dari segi tingkah laku, tutur kata, gaya berpakaian, sopan santun dan lain sebagainya. Degradasi moral bagaikan penyakit kronis yang setiap detiknya menggerogoti sendi-sendi kehidupan masyarakat hingga pada akhirnya akan membunuh sistem, tata nilai, dan norma sosial masyarakat.

Tidak dapat dipungkiri, salah satu penyebab terjadinya kemerosotan moral adalah globalisasi. Virus globalisasi yang telah menjangkiti bangsa ini perlu diwaspadai. Sayangnya, kita tidak menyadari bahwa kita telah terbawa arus globalisasi dan kini tengah terombang-ambing tanpa arah dan tujuan yang jelas. Kita terlalu nyaman dengan hiruk pikuk dan glamornya dunia global, mengikuti tanpa ada upaya filterisasi terhadap dampak-dampak negatif yang ditimbulkannya. Ketidakmampuan kita dalam memfilter pengaruh tersebut mengakibatkan semakin merosotnya moralitas masyarakat.

Kita tidak memungkiri bahwa globalisasi berdampak baik bagi kemajuan dan perkembangan bangsa ini. Hanya saja ketidakmampuan dalam menyaring pengaruh buruk yang ditimbulkan itulah yang kemudian membuat kita tersedot dan terperangkap di dalamnya. Coba sejenak kita flashback dengan mengamati foto-foto orang tua kita di zaman dulu. Kita dapat melihat dari cara berpakaian mereka, betapa anggunnya mereka dengan kebaya dan kain motif yang dijadikan bawahan, lengkap dengan sanggul dan selendangnya. Sungguh indah adat budaya ketimuran, mengedepankan sopan santun dan moral.

Tidak bisa dinafikan bahwa saat itu juga ada sebagian perempuan yang mengenakan pakaian terbuka. Namun, hal tersebut berbeda dengan realitas hari ini, di mana sebagian besar masyarakat tidak terlalu mementingkan etika berpakaian, remaja perempuan. Bahkan mereka tidak malu untuk menunjukkan dan memamerkan tubuh mereka di media sosial, bertingkah kebarat-baratan,  hingga melupakan adat ketimuran yang selama ini tertanam dan menjadi ruh bangsa Indonesia. Sungguh miris negeri ini. Remaja yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa telah terinfeksi oleh virus globalisasi hingga tidak sadar akan segera terbunuh oleh racun yang ada di dalamnya.

Kemereosotan moral tidak hanya terjadi di kalangan remaja saja, tetapi juga terjadi di kalangan petinggi-petinggi negeri ini. Para pemimpin dan elit politik semakin banyak yang kiris moral. Korupsi, kolusi, dan nepotisme kian membudaya dan mengakar kuat. Hukum diperjualbelikan, ideologi diabaikan, bahkan agama dianggap sebagai simbol belaka.

Mirisnya, para pelaku korupsi yang seharusnya malu akan tindakannya malah bertingkah sebaliknya. Bahkan dengan bangganya mereka mengenakan seragam kuning lengkap dengan senyum yang tersungging lebar di bibirnya, sambil sesekali melambaikan tangan ke arah kamera. Sungguh alangkah tidak tahu malunya mereka.

Tidak hanya sampai di situ. Perkembangan sistem ekonomi kapitalis yang terus berkembang pesat membuat jurang antara si miskin dan si kaya semakin menganga. Pengerukan sumber daya alam oleh orang-orang yang beruang membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Mayoritas menindas minoritas. Yang menang menindas yang kalah. Yang kuat memperbudak yang lemah. Yang terdengar bukan “Maju tak gentar membela yang benar” melainkan “Maju tak gentar membela yang bayar.”

Para Founding Father dan para pejuang bangsa yang telah berjuang hingga titik darah penghabisan, yang memeras tenaga dan fikiran hingga mengorbankan nyawa demi terlepas dari belenggu perjajah, yang hanya untuk merdeka dan mendirikan negara yang berdaulat, seakan tidak pernah dikenang dan dihargai oleh remaja, khususnya para penguasa negeri ini.

Mereka pura-pura tuli, bisu dan buta tatkala disuguhkan potret penderitaan rakyat, dan kalapun mereka peduli, kepedulian tersebut tidak lain hanyalah pencitraan belaka. Bagaimana tidak, ketika mereka melalukan tindakan kemanusiaan yang memang sudah seharusnya menjadi kewajibannya malah dipamerkan di media sosial, seolah-olah tingkat kemanusiaan mereka lebih tinggi dari manusia lainnya. Alangkah lugu dan lucunya negeri ini.

Sebagai manusia yang masih memiliki nurani tentu tersayat hati dan jiwa kita melihat bagaimana mereka begitu tidak berdaya di hadapan para penguasa. Begitu lemahnya mereka di hadapan hukum yang semakin hari semakin tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Apakah sudah waktunya kita pasrah dan berputus asa? Atau masih ada jalan lain yang harus kita susuri untuk mencapai keharmonisan yang dicita-citakan Pancasila?

Tentu kita tidak akan berputus asa sebab pasti akan ada pelangi setelah hujan. Meski harus basah karena hujan, lelah karena berlari, pasti akan kita nikmati hari di masa depan yang lebih manusiawi.

Untuk itu, sebagai generasi  muda kita patut merefleksikan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh generasi terdahulu. Kita hayati dan kita lanjutkan perjuangan mereka dengan tetap mengedepankan keluhuran moralitas bangsa, apa pun resiko dan konsekuensinya. Sutan Syahrir pernah mengatakan, “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Ir Soekarno, sang proklamator kemerdekaan, juga pernah brkata, “Jika kita memiliki keinginan yang kuat dalam hati, maka seluruh alam semesta akan bahu membahu mewujudkanya.”

Komentar

News Feed