oleh

Jagad Maya

-Esai-289 views

Pixabay

Di tengah dunia yang sedang ramai dan kalang-kabut menghadapi pandemi, tinggal di sebuah tempat yang jauh dari kebisingan kota adalah solusi. Bisa jadi. Pulang kampung, pindah ke sebuah pulau tak berpenghuni, mengisolasi diri dari keruntuhan ego manusia. Tapi yang pasti, di saat-saat seperti ini, yang paling ramai adalah jagad atau dunia maya (virtual world).

Jaringan internet memegang peran penting atas lancarnya laju dunia ini. Sebuah dunia yang terdiri dari kampung-kampung virtual, yang muaranya, adalah dunia tak berdimensi, tanpa halangan dan teritori. Saat menemui kebosanan karena tidak bisa keluar rumah, orang-orang memilih melakukan setiap hal di dunia virtual. Terminal, toko, kantor, dan ruang kelas pindah ke dalam dunia virtual. Orang-orang tidak butuh banyak tenaga dan waktu untuk berpindah dari terminal yang satu ke terminal yang lain. Mereka hanya cukup memencet (klik) apa pun yang ingin mereka lakukan hanya melalui layar, bahkan saat mereka berada di kamar mandi sekali pun.

Peristiwa ini sudah lama terjadi dan semakin gencar dan membludak di tengah serangan pandemi. Yasraf Amir Piliang menggambarkan peristiwa ini sebagai migrasi kehidupan manusia besar-besaran, di mana telah terjadi perpindahan dari ‘dunia nyata’ ke ‘jagad maya’, dari kehidupan di ‘ruang nyata’ menuju kehidupan di ‘ruang maya’. Tidak usah membayangkan bahwa dalam migrasi ini manusia membawa serta rice cooker, kompor, wajan, mobil, gayung, atau komputer. Tidak. Manusia hanya memerlukan infrastruktur yang memungkinkan untuk melakukan migrasi ke, bukan Luna Maya, tapi ‘ruang maya’.

Jauh sebelum serangan Covid-19, kehidupan di ‘jagad maya’ sudah berlangsung. Interaksi sosial-alamiah digantikan oleh interaksi (sosial) virtual, yaitu dengan cara cyberspace. Kehidupan dengan cyberspace dibangun atas bantuan peran teknologi, sehingga ruang-ruang rapat dapat dipindah ke dalam ruang maya, salah satunya, melalui aplikasi zoom, misalnya. Apa yang bisa dilakukan di dalam cyberspace terutama di tengah kondisi yang tidak memungkinkan manusia untuk bertemu di ruang publik natural? Kita bisa melakukan apa saja: mengadakan seminar, talk show, bergosip, bermesraan plus bercinta, mengobrolkan apa saja, dari yang paling daun kering hingga ke yang paling besi berkarat.

Lagi-lagi, migrasi ini hanya bisa dilakukan kalau terdapat infrastruktur yang memungkinnya untuk itu. Di tengah kota, dari yang berkembang, maju, hingga ke yang paling maju, perpindahan kehidupan dari dunia sosial nyata ke ruang-ruang virtual adalah hal basi. Bukan hal sulit bagi seorang perantau yang tinggal di sebuah kota di tengah pandemi ini, yang takut kepulangannya ke kampung dapat memperluas probabilitas penyebaran Covid-19, melakukan transaksi pembelian makanan hingga celana dalam melalui aplikasi di layar ponsel. Bukan hal sulit juga bagi pelajar untuk mengikuti kelas, karena mereka bisa melakukannya di layar ponsel atau komputer jinjing.   

Menuju Matinya Sosial?

Banyak orang, setelah memiliki ponsel bagus dan menginstall aplikasi percakapan dan aplikasi-aplikasi lainnya yang memunginkan mereka bisa berhubungan jarak jauh dengan orang lain, baik yang dikenal atau tidak, baik yang kenal baik atau sekadar ngefans, mulai memiliki dunia mereka sendiri. Kita tidak perlu kenalan dan mengadakan pertemuan beberapa kali  untuk memutuskan bahwa kita menyukai seseorang dalam statusnya sebagai fans, misalnya. Kita cukup memasang aplikasi Youtube di layar ponsel, dan kalau orang yang kita idolakan adalah seorang artis, kita cukup menonton video mereka. Atau kita cukup memasang aplikasi Instagram, mengikuti orang yang kita idolakan, lalu menonton hal-hal terbaru tentangnya. Sesederhana itu untuk memutuskan suka dan menyukai seseorang hanya berdasar foto, video dan permainan tak jelasnya.

Di musim pandemi seperti sekarang, di mana kondisi dan situasi tidak memungkinkan untuk beraktivitas di ruang publik, maka yang bisa dilakukan hanya mantengin layar ponsel, menonton seluruh kegiatan seseorang yang diidolakan. Yang parah, kalau orang yang mengidolakan, yang sebenarnya bukan siapa-siapa, sampai pada level memiliki imajenasi untuk hangout bersama, kencan, memiliki pacar seperti artis yang diidolakannya. Ini sudah sampai pada apa yang dinamakan sebagai parasocial relationship: orang biasa atau penggemar yang ngefans atau menyukai seorang artis atau orang lainnya yang tidak dikenal dengan baik dan hanya mengenal atau mengetahuinya melalui media.

Apakah ini ada hubungannya dengan matinya sosial?

Boleh jadi ini akan mengarah ke sana jika yang dilakukan hanyalah mantengin si idola dan tanpa sadar telah mengacuhkan orang-orang di dekatnya. Ia tidak kenal tetangga depan rumah, tapi lebih kenal artis K-POP yang jauhnya minta ampun. Ia lebih banyak tahu aktivitas, makanan favorit, dan bayaran Kim Soo-hyon ketimbang aktivitas pacarnya—itu pun kalau ia punya pacar atau paling tidak teman dekat.  

Lalu, bagaimana kalau orang yang kita idolakan adalah orang biasa, ketua geng yang terkenalnya cuma di mata para anggota geng? Sama. Paling-paling yang kita lakukan adalah mengikuti akun Instagramnya, lalu diam-diam memperhatikan setiap hal-hal terbaru yang dia unggah, hingga tak ada dunia lain selain dunia orang yang diidolakan-disukainya.

Namun yang pasti, migrasi besar-besaran manusia ke ‘jagad maya’ telah menyebabkan hampir semua aktivitas manusia di lingkungan masyarakat (real society) tergantikan oleh kegiatan-kegiatan yang sudah berpindah ke virtual world. Pasar-pasar tradisional berpindah atau dipindahkan ke layar ponsel berkat sarjana pertanian yang ingin hasil pertanian masyarakat dipasarkan di pasar online, tentu berkat bantuan sarjana pendidikan yang pandai membuat berbagai macam aplikasi.

Ini dilakukan agar masyarakat tidak perlu repot-repot pergi ke pasar tradisional, yang di hadapan orang-orang yang baru kaya, hasil pertanian itu ditawar kurang dari setengah harga. Seorang sarjana yang cerdas akan memanfaatkan pasar online, karena ia bisa menjual buah lebih mahal daripada yang dijual di pasar, dan pembeli tak perlu neko-neko untuk menawarnya. Menawar harga sebuah apel di aplikasi jual-beli online adalah… Saya tak sampai hati untuk mengatakannya.  

Lambat-laun manusia akan mengurangi kontak fisik karena hidup di zaman digital sudah tidak mensyaratkan adanya interaksi fisik. Meski tidak merata, tapi kenyataan ini sudah terjadi di banyak kota-kota besar, di mana kegiatan semakin menumpuk dan waktu terasa semakin sempit, sehingga orang-orang tidak perlu bertemu muka untuk membahas sebuah proyek apalagi sekadar untuk saling mengobrol di kedai kopi. Sementara di ruang virtual, dengan mengaca pada prinsip masyhur ekonomi: menggunakan sekecil mungkin modal untuk menghasilkan sebesar mungkin keuntungan, orang-orang bisa melakukan tiga sampai empat pekerjaan dalam sekali waktu. Sebagai contoh, dalam waktu dua menit seseorang bisa makan mie, mendengarkan musik sambil membahas pekerjaan dengan teman kantornya melalui aplikasi percakapan layar.

Tapi pandemi, ia bukan dunia virtual yang mampu menarik manusia bermigrasi dari dunia nyata ke dunia maya. Walapun di tengah kondisi sulit ini manusia mampu memindahkan kantor, ruang kelas, dan retoran ke layar ponsel, tapi kita tidak bisa makan melalui layar ponsel. Seseorang tak bisa memasak nasi, membuat kue, atau mambuat tisu menggunakan atau hanya bercakap-cakap di layar hape. Kematian sosial yang sekarang tampak nyata di depan mata adalah adanya diskoneksi fisik yang diakibatkan oleh pandemi. Dalam artikel Martin Suryajaya berjudul Membayangkan Ekonomi Dunia Setelah Korona Atau Cerita tentang Dua Virus, diskoneksi fisik adalah satu dari empat penunggang kuda hari kiamat.

Kalau pandemi ini terus berlanjut hingga waktu yang tidak bisa ditentukan—kita berharap dalam waktu dekat muncul seorang pahlawan muda tapi bukan dari generasi milenial yang belum apa-apa sudah menampakkan diri sebagai oligark profesional—manusia akan mengalami diskoneksi fisik dalam jangka waktu yang tidak bisa diketahui. Ngopi di warung tidak bisa lagi dilakukan. Tahlil tak bisa digelar. Tak ada pesta pernikahan. Industri manufaktur tidak bisa melakukan produksi. Perusahaan-perusahaan jasa kesulitan untuk berdiri. Kampung satu dengan kampung lainnya, satu kota dengan kota lainnya mengalami diskonektifitas.

Di bidang ekonomi, hal demikian adalah kiamat. Tentu begitu juga di ranah sosial, kecuali bagi mereka yang tetap bandel, mengatakan tidak takut pada Covid-19 dan tetap melakukan perkumpulan besar.  Pada awalnya, perkembangan teknologi mendorong manusia melakukan migrasi dan hidup dalam cyberspace. Kini, serangan pandemi semakin menguatkan bukti itu. Manusia hidup dengan cara artifisial dalam mendefinisikan realitas.*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed