oleh

Jakarta dan Banjir

Voxpop.id

Dalam kondisi tertentu manusia dapat memanggil hujan. Tentu dengan cara-cara yang dianjurkan. Tepatnya bukan memanggil, tetapi meminta. Manusia tak punya kekuatan apa-apa selain berusaha dan memohon. Di bawah kemarau panjang, manusia dapat melakukannya. Hanya sekadar berusaha dan meminta.

Tetapi, terlepas dari itu, saat musim hujan, tak ada manusia yang punya kekuatan untuk menunda dan mencegahnya. Kecuali beberapa orang yang memiliki keterampilan khusus untuk me-nyarang—kemampuan mencegah dan mendatangkan hujan. Jangan kaget kalau melihat mendung tebal di langit, tapi tak juga turun hujan. Juga jangan heran bila di siang yang terik tiba-tiba awan hitam berkumpul di atas rumah dan menghunjami hajatan.

Satu waktu, dalam perjalanan pergi ke sebuah kota, saya terjebak hujan di terminal. Sebagai seorang manusia yang tidak dianugerahi keterampilan atau kemampuan khusus saya hanya termenung dan menunggu hujan reda sambil bermain akrobat bahasa. Dengan sangat milankolis saya menulis sebuah kalimat di story WA: langit kencing begitu banyak dan lama. Seorang kawan mengirimi saya pesan dan menanggapi begini: hati-hati menggunakan bahasa, sangat tidak sopan menyebut Tuhan sedang kencing. Tanggap-menanggapi terus berlangsung hingga di kemudian hari ia masih menyinggung soal itu. Dan saya tak bernafsu menanggapinya serius.

Banjir Jakarta di Awal Tahun

Omong-omong perdebatan soal hujan, ini sudah menjadi ritual tiap tahun. Ini kenyataan. Bukan soal hujannya, tapi tentang kenangan dan banjir yang disisakannya. Di antara banyak daerah favorit banjir, barangkali hanya Jakarta yang memperoleh perlakukan khusus: setiap kali banjir menerjang sudah pasti jadi bahan nyinyir netijen. Dan siapa lagi yang jadi objek cercaan kalau bukan gubernurnya.

Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, dianggap tidak berhasil mencegah terjadinya banjir atau setidaknya meminimalisir daerah-daerah yang rawan tergenang. Tidak mengagetkan, karena Kali Ciliwung yang panjangnya mencapai 33 kilometer baru dinormalisasi sepanjang 16 kilometer. Itu kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljo seusai melakukan penyusuran Kali Ciliwung.

Sebagai Gubernur ibu dari semua kota di Indonesia, tentu Anies tak tak setuju pada pernyataan Basuki. Gengsi dong kalau dianggap tidak becus menangani Jakarta yang gede, megah dan prestis itu. Mereka yang ditunjuk jadi orang nomor satu di Jakarta sudah pasti merasa besar dan tidak akan pernah terima kalau dibilang ada ketidakbecusan dalam menangani masalah. Apalagi cuma sekelas banjir, yang kali ini, untuk tahun ini, karena gubernurnya Anies yang diusung oleh banyak kalangan akhi-ukhti, boleh jadi dianggap sebagian orang sebagai rahmat dan kasih sayang Tuhan atas seringnya masyarakat sembahyang di Monas. Jadi, banjir bukan masalah. Itu bukan ujian, apalagi azab.

Sebagai seorang akademisi yang kemudian terjun ke dunia birokrasi, tentu Anies punya jawaban yang cerdas, diplomatis, dan retoris. Alih-alih menjadikan hal tersebut sebagai evaluasi, Anies melempar kesalahan pada pengelolaan air di hulu dan mengajak debat Menteri PUPR tentang penyebab banjir seusai evakuasi. Yang pertama seperti menunjuk hidung orang lain atas ketidakmampuan diri sendiri melakukan kerja-kerja taktis. Bukan untuk mengendalikan hujan dan banjir, tapi setidaknya mampu mencegah terjadinya volume banjir bandang.

Gubernur bersyukur karena Kementerian PUPR tengah menyelesaikan dua bendungan, yang kalau sudah selesai, dapat mengendalikan air yang mengalir ke utara. Pertengahan tahun lalu Anies mengajukan konsep normalisasi kali-kali yang ada di Jakarta. Konsep tersebut dianggapnya dapat meminimalisir dampak banjir yang hasilnya bisa dilihat pada pengujung tahun 2019. Akhir tahun lalu barangkali cukup terlihat hasilnya, tapi tidak dengan awal tahun 2020.

Banjir Jakarta tahun ini, terutama yang terjadi di Kemang, Jakarta Selatan, menjadi yang terparah sejak tahun 2007. Itu kawasan elit. Tapi, banjir memang tidak memilih kelas sosial dan agama. Itu banjir kita semua, kata Gus Nadirsyah Hosen dalam cuitannya di Twitter. Tentu sikap yang bijak apabila memilih untuk berlomba-lomba saling mengulurkan tangan daripada berduyun-duyun membuat meme, nyinyir, dan menempatkan kesalahan sepenuhnya pada Anies.

Menempatkan kesalahan pada satu orang, apalagi mengelak dan mencari kambing hitam, adalah sikap yang secara terang benderang dapat dilihat sebagai ketidakmampuan. Manusia tidak diberi kemampuan khusus mengendalikan luapan banjir, apalagi hujan. Sudah dibilang, itu di luar kendali pemerintah.

Menimbang Penyebab Banjir

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menganggap bahwa banjir Jakarta tahun ini terjadi karena memang tingginya curah hujan dan akibat perubahan cuaca ekstrem. Hujan yang turun di Jakarta pada 1 Januari 2020 berlangsung sekitar 24 jam hingga mencapai lebih dari 300 mm per hari. Di daerah Halim mencapai 377 mm. Permukaan laut melebihi batas ketinggian, dari yang biasanya 160 cm menjadi 184 cm.

Menurut BMKG, saat ini terjadi pertemuan wilayah angin atau inter tropical convergen zone (ITCZ) di atas pulau Jawa. Angin bergerak dari barat menuju timur pulau Jawa.  Hujan yang tertunda di tahun 2019 menumpuk dan baru turun di awal tahun 2020. Jadi, hujan yang menyebabkan terjadinya banjir Jakarta adalah hujan-hujan yang gagal turun di tahun 2019 dan baru tumpah sejadi-jadinya di awal tahun 2020.

Mengingat faktor ini, sepertinya memang benar, pemerintah Jakarta tidak bisa mengendalikan datangnya hujan dan banjir. Yang bisa mereka lakukan adalah mengendalikan dampaknya saja. Mereka turun seturun-turunnya ke berbagai sudut untuk membantu warga, sebab banjir sudah terlanjur datang menggenangi rumah-rumah dan menewaskan banyak orang.

Hujan sudah pasti akan datang setiap tahun. Dengan curah tinggi atau tidak itu di luar kendali manusia. Karenanya, sangat bijak menyimak pepatah lama: sedia payung sebelum hujan. Sedia sebaik-baiknya, agar ketika hujan turun tumpah-ruah manusia masih punya tempat untuk berteduh.

Komentar

News Feed