oleh

Jembatan Menuju Masa Depan

Beberapa hari sebelum Jokowi mengumumkan nama-nama menteri yang ditunjuknya masuk dalam Kabinet Indonesia Maju, seorang kawan saya, yang memulai sebuah bisnis prestis dan sedang membangun bisnis menggurita, bicara soal ekonomi digital. Seorang kawan lain, yang lebih banyak ngobrolin soal politik, ngangguk-ngangguk tanda setuju. Ekonomi digital tidak jauh dari ekonomi kreatif yang beberapa tahun belakangan menjadi sektor cukup menjanjikan.

Pembicaraan ngalor-ngidul itu bermuara pada satu titik: pentingnya mengarahkan adik-adik untuk peka pada fakta sosial, tantangan masa depan, dan terutama pada apa yang saat ini sedang berkembang, ekonomi digital. Seakan dalam pembicaraan itu teman saya ingin mengatakan kalau wacana saja tak cukup untuk menghadapi kehidupan yang semakin dan semakin keras ini. Tampak seperti mau bilang begini: sekolah, kuliah atau ikut organsiasi apa pun harus mulai realistis. Dari dulu sampai sekarang bukan hanya soal pertarungan wacana, tetapi juga kerja-kerja nyata dan kreatif.

Berat. Ini persoalan berat. Terutama bagi yang masih senang dengan nostalgia masa lalu. Pada kebesaran nama bapak dan nenek moyang. Kondisi ini akan menciptakan kesenjangan yang sangat lebar antara masa kini dengan masa depan.

Apa yang kami bicarakan rupanya bersambut baik. Mungkin sebuah kebetulan ketika Jokowi mengumumkan nama menteri pendidikan dan kebudayaan RI adalah Nadiem Makarim dan Wishnutama di Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kebetulan lainnya lagi, Rabu (30/10), Jokowi membentuk Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, berada di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Wishnutama ditunjuk sebagai kepala badan baru tersebut. Angela Tanoesoedibjo, Direktur MNCN itu, didapuk sebagai wakilnya.

Lalat diciptakan bukan tanpa maksud. Mantan ada bukan untuk sesuatu yang sia-sia. Begitu juga badan baru yang dibentuk Jokowi itu. Wacana dibentuknya badan baru tersebut muncul tidak lama setelah Jokowi memenangkan Pilpres 2019. Kapan munculnya memang tidak terlalu penting, karena untuk apa badan tersebut dibentuk adalah pertanyaan yang harus dijawab.

Pasal 1 Perpres 70/2019 menyebutkan, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif adalah Lembaga Pemerintah Non-Kementerian, berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Badan tersebut dipimpin oleh seorang kepala.

Pertanyaan utama belum terjawab, untuk apa badan tersebut dibentuk.

Secara general, badan ini memiliki fungsi merumuskan dan menetapkan kebijakan di bidang pengembangan industri dan kelembagaan, pengembangan destinasi pariwisata, pengembangan pemasaran I, dan pengembangan pemasaran II. Hal lainnya adalah perancangan dan pelaksanaan program ekonomi kreatif di bidang aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi, dan video, fotografi, krya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi dan radio. Fungsi yang lainnya bergerak di bidang pariwisata.

Sektor ini dalam beberapa tahun belakangan sangat berkembang, meski belum ada sebuah badan yang secara khusus menaunginya. Kendati begitu, kabar baiknya, bangsa ini telah, tengah dan akan terus berada di dunia industri. Dalam bahasa yang lebih halus, bergelut dalam dunia ekonomi kreatif. Ini tentu butuh daya kreativitas dan inovasi yang tinggi. Hal yang memang dalam hampir satu dekade ini sedang menjadi rujukan sistem pendidikan dunia.

Jika ditarik ke belakang, perubahan kurikulum pendidikan tahun 2013 didorong oleh fakta bahwa paradigma pendidikan global merujuk pada bagaimana mendorong peserta didik untuk kreatif dan inovatif. Ini menjadi ajaran utama dunia pendidikan, karena dunia secara global sudah menuntut adanya SDM siap kerja dan siap pakai. Sederhana, pulang dari sekolah atau lulus dari kuliah langsung diterima perusahaan. Masih ingat kan seorang lulusan kampus terkenal yang heboh menuntut gaji tinggi dari perusahaan yang dilamarnya karena kasta kampusnya yang tinggi?

Ditunjuknya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah jawaban atas masih melebarnya kesenjangan antara masa kini dengan masa depan. Dari track record, Makarim, pendiri Gojek itu, jelas bukan orang yang berpengalaman memimpin sebuah lembaga besar di bidang pendidikan. Banyak orang meragukannya. Tapi, Jokowi memiliki kemampuan melihat apa yang orang lain tidak bisa dilihat. See beyond the eyes can see.

Sama seperti ketika memilih Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Kerja 2014-2019, di mana banyak orang tidak bisa menerima keputusan itu, karena tingkat pendidikan Susi yang hanya lulusan SMP, penunjukan Makarim juga diwarnai dengan banyak keraguan dan gosip di sana-sini. Pun ketika Fachrur Razi, yang lebih pas duduk di kursi militer dan dianggap tidak tahu mengenakan sarung itu, ditunjuk sebagai Menteri Agama. Jokowi lebih mengutamakan hasil daripada proses. Proses penting, tapi hasil jauh lebih penting. Begitu pandangan yang dibangun.

Setiap orang boleh tidak setuju dengan pendapat saya. Tetapi apa yang dilakukan Jokowi adalah untuk kepentingan hasil akhir. Pendidikan perlu bersinergi dengan industri, kira-kira begitu yang ingin dikatakan Jokowi. Pelajar dan mahasiswa dididik untuk kepentingan industri, sesuai dengan kualifikasi perusahaan, punya keterampilan tertentu dan siap pakai.

Beberapa mengkhawatirkan pendidikan yang akan mencetak SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri. Seragam dan membosankan. Manusia, barangkali, tidak akan bebas memilih jalur yang dikehendaki. Kampus akan kehilangan ketajamannya dalam mencetak intelektual dan cendekiawan—sebuah kekhawatiran.

Lainnya, hampir dipastikan pribadi yang tercetak adalah pribadi-pribadi yang mengukur setiap sesuatu dengan materi. Materi dapat dijumlah. Jumlah tak akan pernah ada batasnya. Di masa depan ini akan melahirkan lebih banyak lagi pribadi yang haus kekuasaan dan kemenangan bila tidak disertai dengan aspek-aspek filosofis dan moral suatu disiplin ilmu.

Setiap pribadi sangat wajib mempertajam pisau analisis, menggali dan mempertahankan aspek filosofis-moral suatu ilmu. Tetapi dengan catatan aktivitas intelektual yang dilakukan tidak menjadikan diri terisolasi apalagi teralienasi dari cerah dan manisnya masa depan. Untuk menuju ke sana, wawasan, pengetahuan dan tentu keterampilan adalah jawabannya.

Latif Fianto menulis esai dan cerpen. Cerpennya, “Kota Agats”, juara 3 Festival Sastra Islam Nasional, FLP Makasar, 2015. “Perempuan yang Berdiri Sepanjang Waktu” masuk sepuluh pemenang Lomba Cerpen Kisah-Kisah Kota Lama Semarang, 2016. Novel pertamanya Batas Sepasang Kekasih (Basabasi, 2018).

Komentar

News Feed