oleh

Kalah Bukan Alasan untuk Saling Membenci

-Kolom-418 views

Pixabay

Tentu Anda tidak bosan-bosannya selalu diingatkan tentang bagaimana menjaga sebuah “kepercayaan”. Apapun bentuknya. Terlepas hanya omong-omongan kecil, candaan belaka atau semacamnya. Keseringan terjadi dari Anda hanya mampu mengucapkan kata “siap” dengan sebegitu entennya, namun tidak bisa melaksanakan. Lalai, lupa, tidak ingat dan berbagai macam alasan tentunya.

Sangat wajar jika perasaan cinta bisa naik turun seiring waktu berjalan. Setiap hubungan pasti pernah merasakan titik di mana cinta mulai berkurang. Namun hal ini berbeda dengan kepercayaan yang akan selalu konsisten dan merupakan pondasi untuk hubungan yang kokoh. Ketika dua orang saling percaya, pasang surut perasaan sayang tidak akan menjadi kendala karena Anda yakin akan kekuatan hubungan.

Pakar kencan online Julie Spira setuju dengan hal ini dan ia mengatakan, “Dengan kepercayaan, pasangan dapat jatuh cinta dan saling jatuh cinta selama hubungan mereka. Tidaklah aneh melihat pasangan putus dan kembali bersama lagi.”

Saya sangat meyakini jika kepercayaan diperoleh bukan dari banyaknya perkataan, melainkan kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan. Kebanyakan orang hanya mampu berucap, tetapi tak pandai berbuat. Lebih sering mengomentari, akan tatapi nihil dalam membuktikan.  Dan saya pastikan orang yang berlaku demikian adalah orang-orang yang telah mengalami kekalahan—mencari alasan, orang lain disalahkan, hingga kuasa Tuhan tak lagi dibenarkan.

Belakangan, saya sering mendengar keluhan orang-orang cengeng, alay, bermental tempe. Lantaran tak siap berlari, moro-moro langsung mengejar layangan. Jadinya, tersandung—jatuh, menangis, lalu tak terima. Wajib hukumnya untuk balas dendam. Lagi, lelaki yang tak terima kekasihnya direbut oleh ketua pimpinan lembaga tertentu, terus apa yang dikata? Saya harus bisa menghancurkan lembaganya.  

Kalah bukan berarti Anda harus berhenti, mencaci maki, maupun saling membenci, kemudian saling tuding siapa yang harus bertanggungjawab. Atau saling hujat di media sosial—alih-alih sebagai protes bentuk ketidakterimaan. Kalau begitu apa bedanya Anda dengan seorang bocah ingusan yang sok berani ingin berkelahi, lalu ketika kalah akan menangis, kemudian pulang mengadu kepada orang tua masing-masing. Itu tak lebih dari pecundang namanya. Anda musti banyak belajar menerima dan memahami kekalahan. Berpikir ke depan. Hentikan keadaan Anda saat ini yang dirasa sudah amat menyimpang untuk bisa berpikir jernih. Kalah ataupun menang tak jadi persoalan jika Anda menganggap semua itu bukan bentuk pertarungan, maupun perlombaan. Anggap saja sebuah proses pendewasaan.

Ada yang menarik dari tulisan Eka Kurniawan dalam esainya yang bertajuk “Menerima kekalahan” yang dimuat Jawa Pos beberapa waktu lalu. Memang tak akan pernah ada dua bupati pada satu wilayah, sebagaimana tak mungkin ada lebih dari satu presiden di sebuah negara. Sangat mustahil pula Tuhan akan ada kembarannya. Begitu pun pimpinan pada lembaga tertentu. Sampai di sini cukup jelas?.

Kalau Anda pernah menonton Film Bahubali The Beginning, yang terkenal ditahun 2015-an, Anda akan menemukan sosok pemenang sejati. Sang Raja yang tak pernah gila jabatan. Amarendra Bahubali, itulah nama Raja yang rela turun tahta demi membela kebenaran.

Bahubali menyerahkan singgasana dan mahkota rajanya kepada Balladeva, dikarenakan sebuah perbuatan melanggar aturan kerajaan Mahispati yang tak pernah ia lakukan. Namun, Bahubali dengan tabah menerima tanpa ada rasa sesal dan kecewa. Lalu ia menjadi Mahapati yang mengucapkan sumpah di hadapan seluruh rakyatnya.

Dari kisah ini kita mengambil pelajaran berharga bahwa kekalahan sesungguhnya bukan ia yang tak bisa duduk di singgasana Raja, melainkan akan dikatakan kalah ketika masih tetap merasa terima atas kegagalannya. Toh, apa pun yang diawali dengan baik-baik, maka ujungnya akan menemui yang baik pula.  Bahubali tak pernah menjadi Raja, akan tetapi di hati rakyatnya pengakuan sang Raja terus dikumandangkan untuknya.  

Belajar menerima kekalahan tak hanya mengajari kita secara mental untuk tetap berdiri di waktu jatuh. Kita juga belajar untuk bisa bergandengan tangan dengan yang lain.

Lebih penting lagi adalah mengasah empati untuk melihat berbagai rupa kekalahan di saat kita berhasil. Untuk tidak menciptakan watak penindas karena arogansi kemenangan.

Benar adanya apa yang dikatakan oleh Ach. Dhofir Zuhry, dalam bukunya “Kondom Gergaji”, ciri utama orang sukses adalah dia yang cepat meninggalkan keadaannya saat ini, baik sukses maupun gagal—jika sukses tingkatkan, jika gagal lakukan perbaikan. Yang terpenting bukan soal menang-kalah, tetapi telah berjuang atau tidak! Tuhan tidak mewajibkan Anda untuk menang, sehingga, kalah bukanlah bentuk dosa. Dalam hidup yang serba ambigu ini, Anda tidak harus selalu belajar dari kekalahan, sebab kalah dan menang akan menemukan caranya masing-masing dalam diri Anda.

Lagian, tak guna memelihara kegundahan, kecemasan, ketidaktenangan. Tidak baik memang jika masih berlarut-larut dalam kubang peperangan—peperangan jiwa, ego, maupun bentuk kekalahan. Di dalam buku Seni Menipu Ala Sun Tzu cukup jelas dikatakan, tidak akan mengahasilkan apa-apa suatu negara jika masih berlarut-larut dalam peperangan—tidak terima pada kekalahan juga tak ada faidahnya. Hanya akan menghambat Anda untuk melakukan hal-hal yang lebih produktif ke depannya.

Sebetulnya, yang sangat urgen dilakukan ketika mengalami kekalahan yaitu, mengendalikan akal pikiran, arogansi, atau meremehkan orang lain. Jangan hanya selalu mengandalkan kekuatan kuantitas, tetapi perlu juga untuk saling mewaspadai.

Penguatan mental juga perlu disisipkan. Jangan hanya tahu tentang kemenangan. Kekalahan juga harus diantisipasi, agar Anda paham cara menyikapi. Bukan malah lempar sana lempar sini.  

Ini berlaku bagi semua persoalan apa pun yang ada di dunia ini, tanpa terkecuali. Termasuk perihal cinta. Saya meyakini semua pecinta juga mengalami kekalahan. Anda, Saya, atau yang lainnya. Tetapi tidak banyak yang mampu menerima kenyataan. Kita seolah tak bisa begitu saja menerima bahwa kita sudah benar-benar kalah. Mustinya yang perlu kita lakukan ialah, mundur untuk mengambil jarak, lalu, kembali merajut, menyiapkan, kemudian memulai ulang dengan persiapan yang lebih matang. Mundur beberapa langkah, supaya bisa melompat lebih jauh dan terarah.

Pengalaman kelam pernah saya alami. Saya pernah dipukul mundur oleh sebuah “kekalahan cinta”, dipaksa berkemas, membereskan satu per satu sisa-sisa kenangan yang masih tertinggal. Memungut dengan begitu sedihnya kenyataan yang telah usai.

Mungkin salah-satu dari Anda ada yang lebih parah daripada itu: mundur dikarenakan tak sanggup lagi melangkah lebih jauh atau karena orang tua yang tak merestui. Belakangan hal-hal begitu memang rawan terjadi. Ketidakcocokan menyebabkan makin maraknya hubungan kandas di persimpangan—karena tidak punya pekerjaan yang layak, pasangan kita lebih memilih dijodohkan dengan seseorang yang lebih mapan.

Kalau demikian, selamat Anda beruntung. Silahkan mundur. Introspeksi. Dan ingat jangan menyesali. Karena mungkin dengan cara itu Tuhan ada maksud lain—mengganti dengan yang lebih pas, atau akan terhindar dari sebuah penderitaan panjang. Inti dari persoalan diatas ialah, ketidakterimaan yang berlarut-larut hanya akan menjadi benih kebencian yang terus berlanjut. Mengakar, membesar, kemudian akan terkenang dengan sendirinya untuk menuntut balas di satu waktu di masa depan. Imbasnya, generasi baru yang tak tahu-menahu akan menjadi korban kebiadaban Anda saat ini.

Komentar

News Feed