oleh

Kebahagiaan Itu Ada di Finlandia. Benarkah?

Ilustrasi

Judul tulisan ini mengajak kita berangan jauh menyeberang samudera raya yang tidak tahu persis lagi akan jaraknya. Di tengah kemelut dunia yang belum jelas ujung arahnya, bahagia merupakan hak segala bangsa yang seharusnya tidak ada intervensi dari belahan kehidupan manapun.

Salah satu teori filsafat kuno kurang lebih 2600 tahun sebelum hari ini, menyatakan bahwa seorang Georgias yang merupakan seorang tokoh fiksi dalam salah satu tulisan Plato mengungkapkan bahwa kebahagiaan adalah berbanding lurus dengan kepuasan, atau kepuasan itulah yang disebut kebahagiaan. Yang bisa kita simpulkan bahwa tolak ukur bahagia adalah tingkat kepuasan terhadap segala situasi dan kondisi.

Merujuk teori ribuan tahun silam itulah PBB membuat sebuah laporan yang bertajuk World Happiness Report menasbihkan gelar bergengsi kepada Norwegia sebagai negara paling bahagia pada tahun 2017 lalu. Disusul Finlandia sebagai runner up atau bisa dibilang menduduki posisi kedua.

Berlanjut di tahun berikutnya, yakni 2018 dan 2019 posisi puncak secara resmi berhasil terkudeta oleh Finlandia yang sebelumnya memang sudah menempel ketat di posisi kedua.

Dengan ini, mengapa kemudian Finlandia dinobatkan sebagai negara paling bahagia ? Apakah kesedihan sudah tidak laku lagi disana ? Bukankah bahagia merupakan fenomena relativitas ? Pertanyaan demi pertanyaan otomatis muncul dari setiap kita yang membaca ini, ataupun pernah mengkaji perihal kebahagiaan versi apapun ?

Lagi-lagi definisi bahagia ternyata tidak benar-benar sampai final. Hanya setiap individu sering terkecoh dengan fenomena bahagia, bahkan ada yang mengklaim kebahagiaan yang hakiki. Kendati demikian, nyatanya bahagia selalu dibuntuti kesedihan layaknya mata uang yang tak bisa dipisahkan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mempunyai ramuan khusus sehingga bisa menentukan negara mana yang dalam kondisi bahagia begitupun sebaliknya.

Beberapa alasan yang membuat Finlandia jadi negara paling bahagia di dunia diantaranya ialah: Pendapatan, Tingkat harapan kehidupan sehat, Dukungan sosial, dan masih banyak faktor pendukung yang lain. Kenapa beberapa faktor ini mampu terpenuhi ? Karena Finlandia mempunyai sistem pendidikan terbaik di dunia.

Finlandia yang memiliki penduduk sebanyak 5,5 juta jiwa ini disebut juga negara ter-aman, stabil, dan juga memiliki pemerintahan terbaik di dunia.

Selain itu, Finlandia juga merupakan negara yang memiliki tingkat korupsi terendah.

Lantas berada pada urutan berapakah Indonesia perihal bahagia ? Dengan rakyat yang mempunyai daya survive tinggi juga sumber daya alam yang melimpah ruah. Apakah tidak layak mengkudeta Finlandia di puncak klasemen ?

Di tahun yang sama yakni 2019 lalu, Indonesia merangkak naik 4 angka dari tahun sebelumnya. Dari urutan 96 mampu merangkak naik ke posisi 92.

Namun di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), Indonesia kalah bahagia dari Malaysia (80), Filipina (69), Thailand (52), dan Singapura (34). Bisa jadi faktor patah hati hingga kisah tak direstui turut andil dan besar pengaruhnya terhadap posisi klasemen itu.

Di tahun 2020 ini bahagia sedang mendapatkan intervensi dari pandemi. Perihal data dan angka boleh saja ditiadakan selama pandemi. Namun bahagia harus tetap diraih oleh setiap jiwa.

Bagaimanapun juga, rentetan bahasan mengenai bahagia di atas hanyalah data. Sementara untuk bahagia, setiap manusia berhak menentukan bahagianya masing-masing. Dengan kebebasan yang sangatlah luasĀ  nyaris tak berbatas.

Komentar

News Feed