oleh

Kebangkitan Islam dan Kepentingan yang Serbasamar

Dewasa ini kebangkitan Islam di Indonesia seperti sedang mengalami masa subur-suburnya, dan itu memang tidak bisa dihalang-halangi. Situasi ini terungkap secara gamblang dari realitas sosial yang bertebaran di mana-mana, baik yang tersaji melalui budaya populer maupun yang berkembang di luar radar industri media. Tidak bisa dipungkiri, hampir semua hal, termasuk dakwah-dakwah Islam kini sudah menjelma ke dalam budaya layar. Mau tidak mau. Suka tidak suka.

Sebagian generasi baby boomers bilang, dakwah-dakwah keagamaan yang disampaikan dalam budaya layar mengurangi sakralitas dakwah maupun penyampainya itu sendiri. Para juru dakwah yang menyampaikan tuntunan kitab suci di televisi dipandang tidak lebih dari sekadar menjadikan ajaran agama sebagai komoditi. Tidak heran bila sebagian orang alergi terhadap metode dakwah yang demikian. Terlebih lagi dengan munculnya para pendakwah musiman di layar televisi, yang bahkan tidak sedikit yang menyampaikannya dengan lebih banyak menyelinginya hal-hal lucu, hanya agar dakwahnya diminati banyak orang dan program tersebut memperoleh rating yang tinggi untuk menarik minat para pengiklan.

Para pendakwah yang bertahan dengan caranya yang tradisional, menyampaikan ajaran-ajaran agama dari panggung ke panggung, yang bertutur secara serius, yang menuntut para pendengarnya patuh sekaligus melakukan ajaran yang disampaikannya, akhirnya kalah tenar dengan mereka yang menggunakan teknologi media yang semakin canggih. Sebagai hasil, untuk menjadi kondang para pendakwah menjelma di dalam layar. Mereka, ada yang samar-samar menyuruh muridnya atau sebaliknya, muridnya yang memiliki inisiatif sendiri, mengunggah ceramah mereka di youtube. Yang menarik, baik dari konten maupun cara penyampaiannya, akan viral. Dan hari ini, tidak sedikit orang yang berlomba-lomba ingin menjadi viral di depan layar, meski dengan jalan memaki-maki orang.

Kita sadari betul, orang-orang yang secara atribut fisik merepresentasikan ajaran agama yang rahmatan lil ‘alamin ternyata bersikap seperti preman—atau memang sebenarnya preman. Ariel Heryanto menulis dalam bukunya Identitas dan Kenikmatan, dalam derajat yang berbeda-beda organisasi-organisasi ini—dalam tangkapan saya, yaitu beberapa organisasi tertentu dalam Islam—menampung pengangguran usia muda dan mantan preman ke dalam organisasi mereka, sambil sekaligus juga mengejar kepentingan ideologis mereka, berdasarkan politik identitas berlandaskan etnis atau agama. Juga, belakangan kita temukan dalam budaya layar, kaum agamawan yang menyampaikan ajaran-ajaran agama tanpa memperhatikan adab. Mereka menyampaikan ajaran Islam yang damai dengan cara-cara yang melupakan—atau sebenarnya sengaja tidak mengindahkan—adab. Perang saja masih memiliki aturan, apalagi menegakkan ayat-ayat Tuhan. Menegakkan ‘Amar Ma’ruf Nahi Mungkar’ memang penting, tapi harus disampaikan dengan cara-cara yang beradab. Tidak penting apakah mereka keturunan orang terhormat atau bukan, berpredikat ‘Habib’ atau tidak, apabila ketinggian ilmunya tidak dibarengi kesantunan adab, tetap hilang di mata masyarakat. Bahkan maksud utama diutusnya Muhammad sendiri ke muka bumi bukan menegakkan Islam, yang hari ini bahkan dicontohkan dengan seenak sendiri melemparkan kata-kata sampah ke muka orang yang tidak disenanginya, tetapi untuk menyempurnakan akhlak.

Anehnya, orang-orang yang demikian masih memiliki banyak pengikut—salah dua alasannya karena mereka keturunan ‘Habib’ dan dianggap sebagai ‘singa padang pasirnya Indonesia’. Mereka barangkali agen Arab dan saudara-saudaranya yang berusaha keras mengenakan baju berukuran sama kepada seluruh umat Islam di dunia. Sama seperti Musso-Amir Sjarifudin—yang berbeda dengan Tan Malaka—seorang agen Moskow, tersebab kekagumannya yang melampaui batas pada Uni Soviet telah membutakan matanya mengenai kekejaman dan kebrutalan Stalin yang menyebabkan puluhan juta rakyat mati terbunuh akibat kelaparan dan penyakit dalam tahanan Siberia, menggawangi lahirnya pemerintahan Fron Demokrasi Rakyat di Madiun, yang kemudian menurut Hatta harus segera ditumpas karena akan memudahkan Belanda menumpas pemerintahan Indonesia yang baru seumur jagung.

Tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan Musso, beberapa orang yang belakangan menampakkan diri sebagai keturunan orang-orang terhormat dari Arab atau sekitarnya, juga melakukan konsep gerakan yang kurang lebih sama. Pelan namun pasti mereka menghimpun kekuatan, meski volumenya masih sangat kecil, yang tidak hanya berjuang untuk kepentingan kultural-ideologis, melainkan juga untuk kepentingan politis-primordial. Atau sebenarnya yang terjadi, mereka memperjuangkan kepentingan politis tapi membungkusnya dengan isu kultural-ideologis, yang sejatinya tidak memiliki hubungan sama sekali. Sebab bagi mereka, menguasai kursi tertinggi atau mayoritas di sebuah negeri memungkinkan mereka lebih leluasa membuat negeri tersebut menjadi seperti Arab dan saudara-saudaranya.

Padahal kita tahu, untuk mengenakan baju dengan merek yang sama, kita tidak harus mengenakan baju dengan ukuran, warna dan model yang sama pula, apalagi sudah pasti kita memiliki ukuran tubuh dan warna kulit yang berbeda-beda. Itu belum lagi mempertimbangkan faktor geografis dari mana kita berasal. Lebih jelasnya, seperti yang diungkapkan Oliver Leaman dalam pendahuluan Eksiklopedi Tematis Filsafat Islam, ‘Konsep bukanlah baju yang dapat dipungut begitu saja dan kemudian dikenakan. Akan tetapi, konsep itu seperti baju dalam hal bahwa, jika konsep itu terjadi dalam kerangka yang berbeda, ia hanya cocok apabila diadaptasi dengan “tubuh” yang baru’.

Kepentingan yang Serbasamar

Di awal kelahirannya, baik di Arab oleh Muhammad maupun di Indonesia yang lebih familiar oleh Walisongo, Islam disebarkan melalui wilayah-wilayah kultural. Proses tersebut lebih lanjut bergerak merambah bidang yang lain, seperti politik dan sosial, yang kemudian tak siapa pun yang mampu menghindari atau berusaha untuk tidak mengadaptasinya. Kita bisa melihat beberapa tahun terakhir, negara-negara berpenduduk Muslim mulai menjadi lebih Islami, baik secara kultural, sosial, maupun politik.

Di penghujung 2017, orang-orang mengenakan atribut Islami dari berbagai penjuru arah datang berbondong-bondong ke Jakarta—mereka menyebutnya aksi 212, sudah seperti kapak Naga Geni milik Wiro Sableng, kadang lucu juga mendengarnya—untuk menuntut Ahok yang dianggap telah menistakan agama, lalu mereka mengadakan reuni (212) dua pekan yang lalu. Rocky Gerung menyebutnya reuni akal sehat, meski juga ada yang meragukan dan menolaknya. Apakah itu gerakan agama, sosial, atau politik, kita susah mengidentifikasi, karena semuanya serbasamar. Yang jelas, mereka bergerak dan berteriak atas nama agama.

Di wilayah politik praktis, Islam diwakili oleh beberapa partai berbasis agama, yang secara gamblang lebih cenderung diperlihatkan oleh PKS—namun dalam beberapa kali pertempuran pemilihan belum bisa menemukan ruang paling strategis untuk menggapai ambisinya, terlebih lagi tidak sedikit dari kadernya yang tersangkut korupsi, kasus yang menandai hilangnya moral dari masyarakat negeri ini, baik mereka yang jelas-jelas representasi Islam maupun yang pernah terang-terangan mengolok-olok Ahok sebagai penista agama.

Tidak bisa dipungkiri, keislamian negara-negara berpenduduk Muslim terlihat lebih menyolok ketimbang lima belas lebih tahun yang lalu, menurut laporan yang dikutip Samuel P. Huntington. Hal ini bisa kita lihat dari budaya populer yang muncul belakangan ini, yang tidak lain sebagai bentuk post-islamisasi atau post-islamisme karena dipandang islamisasi atau islamisme sudah tak memiliki taji. Meskipun post-islamisme secara politis berbeda dengan post-islamisme kultural, namun keduanya tidak bisa dipisahkan begitu saja, karena memang sulitnya memisahkan dua entitas tersebut. Artinya, bahwa dalam ranah gerakan kultural mengandung kepentingan politis itu sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Aktivitas keagamaan terutama yang sudah tercermin dalam budaya populer menunjukkan betapa kebangkitan post-islamisme, yang menurut Ariel Heryanto, popularitas para pendakwah televisi hanya sebagian darinya, merupakan satu kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Umat Muslim muncul dengan pemikiran dan aspirasi baru. Pendakwah-pendakwah televisi muncul bak bintang musik paling terkenal yang dipuja-puja laiknya bintang musik rok atau K-Pop. Mereka datang laiyaknya sang penyelamat yang memberikan pengobat dahaga generasi baru, terutama orang-orang kaya—sebagaimana yang kita lihat dalam beberapa perkembangan terakhir, program Hijrah Fest 2018, misalnya, atau yang lainnya; tampaknya sekarang proses hijrah menjadi semacam perayaan, pesta atau bahkan perlombaan—yang kata Asef Bayat, “yang telah belajar mengambil jalan pintas dalam mencari ilmu, atau belajar untuk menjadi murid yang patuh.”

Hal tersebut sejalan dengan maraknya para pandakwah youtube dan instagram. Sebagian menyampaikannya dengan cara-cara modern, gaul, dan lemah lembut, sedang yang lain lagi menyampaikannya dengan cara berapi-api, seolah menantang siapa saja dengan dada membusung. Video-video mereka ditonton oleh anak-anak kecil yang bahkan belum lulus SD. Cara berdakwah mereka yang mengolok-olok plus menunjuk-nunjuk orang lain ditiru—atau sebenarnya dibuat untuk lucu-lucuan?

Saya sanksi apakah benar para penyampai ajaran Islam semacam mereka berjiwa Indonesia yang penuh dengan adab. Maka, dari mana sebenarnya mereka berasal?

Komentar

News Feed