oleh

KEBERANIAN SANTRI

Oleh: Ach Dhofir Zuhry*

Indotribun.id- Kesalahan terbesar umat manusia adalah terus-menerus takut berbuat salah, padahal dalam ilmu pengetahuan, kesalahan nyaris selalu mendahului kebenaran. Jadi, satu-satunya orang yang tidak pernah salah di planet ini adalah ia yang tidak pernah berbuat apa-apa. Bukankah salah dan lupa adalah bagian tak terpisahkan dari manusia?

Nah, yang mula-mula harus dipertegas dalam memasuki masehi-masehi banal ini adalah keberanian, sebab Tuhan selalu mendahulukan para pemberani. Ya, pemberani! Apa hadiah utama jika Anda berani? Anda akan segera tahu kualitas Anda. Dan, ini adalah pembeda bagi para pemberani. Keberanian ini pula yang memantik kegigihan. Gigih adalah saudara kembar sukses. Kegigihan adalah kualitas personal, sementara kesuksesan hanya soal waktu.

Dengan kualitas ini, Anda akan segera memiliki keteguhan hati dan kepercayaan diri (i’timad ‘alan-nafs). Jangan lupa bahwa Anda bisa sukses dan hebat seandainya tak seorang pun mempercayai diri Anda, tetapi Anda tidak akan pernah sukses tanpa percaya diri sendiri.

That’s real! Kita tahu, bahwa para Kiai, para salafus-shalih, dan bahkan para Nabi adalah sosok-sosok pemberani yang pantang menyerah. Para Nabi melawan raja-raja yang tiran, para Kiai dahulu melawan penjajah, dan santri kini harus melawan segala hal yang mengancam kemanusiaan, keindonesiaan, para pengasong dan makelar kekuasaan berkedok agama.

Tak kurang dari 170 Kiai mati syahid membela ibu pertiwi. Salah satu bukti konkret adalah sebuah insiden yang berujung pada penurunan dan penyobekan bendera Belanda dan lalu menjadi bendera Indonesia di hotel Yamato pada pertempuran 10 November 1945 adalah santri!

Peran santri yang sedemikian heroik ini kerap menggoda para pialang politik dan perusak kebinekaan untuk terus membenturkan santri dengan yang lain, bahkan dengan sesama santri.

Kita juga tahu bahwa teramat banyak para ulama yang rela mati diberondong senapan dan tiang gantungan demi membela tumpah darahnya. Bahkan, para santri rela menyabung nyawa demi satu kata: merdeka. Tak sedikit karya-karya mereka dibakar, dibredel, dilarang terbit dan dibarikade dengan segala ancaman, tetapi keberanian tetap keberanian, ia hanya bisa ditebus dengan menjadi martir layaknya Al-Hallaj dan Socrates.

Soal bela Negara? Tanpa Negara dan kemanusiaan memanggil pun, kaum sarungan telah terpanggil dan bahu-membahu merebut kemerdekaan dengan keringat, darah, air mata dan doa. Tidak ada yang lebih berani menyabung nyawa melawan kekejaman penjajah selain kaum pesantren.

Bahkan, setelah kemerdekaan pun, khususnya ketika Orde Baru mempersempit ruang gerak santri dan Pesantren, setelah penguasa melakukan kanalisasi untuk memperkecil peranan santri, mereka tetap bertahan dengan prinsip dan falsafah hidup mereka.

Siapa yang menyangka bahwa “Santri” saat ini sedemikian dianggap penting dan lantas diseret-seret ke ranah politik praktis oleh para oligarki dan demagog? Siapa yang menduga bahwa santri sedemikian wow sehingga membuat cemburu kelompok non sarungan yang sok lebih semangat dari Tuhan?

Pesantren rintisan para Kiai adalah lembaga pendidikan alternatif yang lebih menomorsatukan pembentukan karakter dan penguatan moral dari pada sekadar kecerdasan intelektual-teknokratis yang kerap tidak emansipatoris dan memuliakan manusia.

Anda tahu, setiap pembangunan yang berorientasi fisik selalu membawa pergeseran nilai-nilai bagi segenap elemen masyarakat. Pesantrenlah yang berada di garda terdepan dan paling berani untuk tampil menjadi penyeimbang, penjernih dan penetral racun-racun pembangunan dan sampah kebudayaan, terutama sampah revolusi industri 4.0 dan virus dunia maya yang mengotori setiap pori-pori dan ceruk-ceruk mimpi.

Dus, dalam upaya mengejar kesempurnaan di penghujung masehi, tak pernah ada batas kecepatan, santri itu santai, tidak gaduh dan gegabah. Tenang adalah ciri para pemenang, gegabah adalah ciri orang-orang kalah. Bravo santri!

_______

*Penulis merupakan Pengasuh Pondok Pesantren baitul Hikmah dan Rektor STF Al-Farabi Kepanjen Malang, serta penulis buku “Kondom Gergaji”.

Komentar