oleh

Kelahiran dan Usaha Memberi Nama

Dalam kacamata filsafat, di dunia ini, tak ada sesuatu yang lahir dari ruang kosong. Sesuatu pasti dilahirkan dari sesuatu yang lain. Sesuatu itu boleh kita namakan apa saja, tergantung istilah apa yang cocok untuknya. Dalam memberi nama kita juga tidak sembarang memberi nama. Pasti ada historisitas yang mendorong kita memberi nama si A, B, C, dan sebagainya. Jika meminjam pendapat Anaxagoras, seorang filsuf yang dilahirkan di Clazomenae, Ionia, pelbagai benda tampil sebagaimana adanya sesuai dengan unsur apa yang paling banyak dikandungnya.

Jangan berlagak pusing dulu, karena kita tidak sedang akan membahas sejarah filsafat, baik secara tematis atau historis. Jadi, segelas air matang hangat yang dicampur gula, serbuk kopi, sedikit susu kalau mau ditambahkan, kenapa tetap kita namakan sebagai kopi? Ini sebenarnya masalah klise yang kerap menjadi pertanyaan mahasiswa tingkat pertama. Tapi tak apa. Ini hanya sebuah contoh. Di titik inilah saya rasa pendapat Anaxagoras ada benarnya. Kita memberi nama pada sesuatu sesuai unsur apa yang paling banyak dikandung oleh sesuatu itu.

Kita memberi nama pada sesuatu sesuai dengan dominasi isi. Gelas sekadar gelas dan tak memiliki reputasi apa pun kalau tidak memiliki kandungan nilai. Ada seorang perempuan yang marah kelewat batas apabila guci hiasnya pecah disenggol kucing. Memang hanya sebuah guci. Tapi apa yang membuat perempuan itu marah hingga tak mau bicara tiga hari tiga malam dengan kucing yang telah membuat guci itu pecah? Tentu nilai-nilai yang dikandung guji itu. Boleh jadi yang membuat guci itu sangat berharga adalah bentuknya yang indah, harganya yang mahal, cara mendapatkannya yang sulit, atau fragmen-fragmen kenangan yang melekat bersamanya.

Ada sebagian orang, mungkin Anda termasuk di dalamnya, yang tidak mau menjual ponsel jadulnya hanya karena ponsel yang seharusnya sudah masuk museum itu memiliki nilai-nilai historis yang tidak bisa ditukar dengan dolar. Ada seorang perempuan yang tidak mau membuang sampai kapan pun sebuah boneka Doraemon hanya karena yang memberikan boneka itu adalah seorang laki-laki yang pernah sangat berarti di dalam hidupnya. Atau ada sebagian dari kita yang selalu pergi atau tidak mau pergi sama sekali ke suatu tempat karena apabila berada di tempat tersebut kita selalu teringat pada mantan pacar atau mantan selingkuhan yang baik dan cantiknya mengalahkan Sinta kekasih Rama.

Setiap sesuatu yang berharga pasti memiliki nilai. Sebuah gelas kosong akan disebut sebagai gelas kosong. Sebuah gelas berisi madu akan disebut sebagai segelas madu. Sedang gelas yang berisi racun akan disebut sebagai segelas racun. Yang memberikan nilai pada sesuatu itu adalah isinya. Itulah sebabnya kita selalu bilang tak ada sesuatu yang lahir di ruang hampa. Kita adalah kita yang dibentuk oleh hal-hal apa saja yang melingkupi kita, termasuk kita di masa lalu. Maka, ketika di awal saya bilang, “Anaxagoras, seorang filsuf yang dilahirkan di Clazomenae,” itu artinya Anaxagoras tidak lahir sendiri. Anaxagoras tidak punya kuasa atas kelahiran dirinya sendiri. Terdapat kekuatan besar yang memiliki kuasa atas diri Anaxagoras hingga ia terlahir ke bumi. Walaupun pada dasarnya, ia sebenarnya tidak percaya atas adanya gagasan “Penyelenggaraan Tuhan” kata Bertrand Russell, atau penyebab lain seperti unsur kebetulan dan keniscayaan.

Serius. Ini sudah terlampau serius. Tetapi mari kembali pada gagasan utama tulisan ini, bahwa kelahiran kita tidak mungkin tidak terikat oleh ruang, waktu, dan hal-hal lain dalam keduanya. Keberhasilan Samuel Morse menemukan telegraf sebagai media telekomunikasi yang sempat populer dari tahun 1920-an hingga 1930-an diilhami oleh penemuan elektromagnet di Eropa. Keberhasilan Jack Ma mendirikan Alibaba hingga mengantarkan online marketplace itu menjadi raksasa e-commerce dunia tidak lepas dari keyakinan Jack Ma pada bahwa bisnis global akan bertahan dalam jangka panjang dan kondisi di mana pasar global sudah terintegrasi ke dalam global virtual market. Dan seperti terilhami oleh apa yang dilakukan Jack Ma melalui Alibabanya yang mendunia, serta keinginan untuk membuka peluang kerja bagi orang lain, Aji Habibi, seorang pengusaha muda di Malang, juga memulai bisnisnya dari online shop berbasis dropshipper hingga kemudian mendirikan online marketplace Zahiraa—Anda boleh mengunjunginya lewat mbah Google jika kurang yakin.

Orang-orang yang saya sebutkan di atas tidak percaya pada anggapan Empedokles bahwa proses alam lebih dikendalikan oleh sifat kebetulan dan keniscayaan daripada oleh suatu tujuan. Lagu patah hati “Someone Like You” tidak akan mampu membius jutaan manusia di dunia jika Alex Sturrock, yang berprofesi sebagai seorang fotografer, tidak membuat hancur hati Adele. Jalinan cinta mereka memang tidak lama. Hanya dari musim panas 2008 hingga musim semi 2009. Tapi Sturrock telah menjejakkan kaki sangat dalam di hati Adele, sehingga ketika hubungan mereka berakhir, Adele merasa sangat hancur dan perasaan patah itulah yang menjadi ruh lagu “Someone Like You”.

Seperti Adele yang bernyanyi di atas panggung sambil meneteskan air mata di ujung lagu, saya juga ingin bernyanyi sedikit.

 

I heard that you’re settled down

That you found a girl and you’re married now

I heard that your dreams came true

Guess she gave you things I didn’t give to you

Never mind, I’ll find someone like you

I wish nothing but the best for you too

Don’t forget me, I beg

I remember you said,

“Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead,

Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts inste-ad”

(Adele, Someone Like You)

 

Dari Adele kita belajar satu hal. Tidak penting usia sebuah hubungan. Sebab yang lebih utama, sejauh mana orang yang kita cintai mampu membuat kita menjadi satu-satunya orang paling bahagia di dunia.

Memang tak ada yang baik-baik saja setelah kehancuran. Yang ada hanyalah usaha menatap masa depan tanpa air mata di hadapan orang-orang. Dalam beberapa kasus, seseorang susah move on bukan karena sulit melupakan, tetapi karena hidupnya masih terjebak dalam kenangan. Keterjebakan diri dalam penjara masa lalu juga bukan sebuah kebetulan, tetapi karena ada pada diri seseorang yang kita temui di masa lalu sesuatu yang tidak bisa kita temukan pada diri seseorang di masa depan.

Kepada Anda yang kebetulan masih terperangkap dalam kenangan, saya tuliskan sebuah puisi:

 

hujan yang dari semalam runtuh di halaman rumahku adalah air matamu

tak perlu menangisi kemarau yang terlanjur memunggungi waktu

sebab yang berjodoh tak mungkin mengkhianati temu

(LF, 2018)

 

Lahdalah… Kalau pembahasan ini dilanjutkan, saya khawatir akan ada banyak orang yang pergi ke rumah saya untuk berkonsultasi tentang cara-cara jitu melepaskan diri dari penjara masa lalu. Sebenarnya tidak masalah. Mungkin itu akan menjadi pekerjaan tambahan saya di samping menjual sisa-sisa kenangan yang tak lagi dibutuhkan. Tetapi, itu akan merepotkan saya karena saya harus kembali ke yang dulu sedang kini saya sudah diri yang lain. Yakin dan ingatlah selalu kata-kata Rumi: Ketahuilah! Kelak lukamu ini akan jadi obat bagimu.

Luka, kesedihan, kebahagiaan, dan entitas-entitas lain di luar itu, boleh jadi memang sudah ada jauh sebelum manusia menamakannya demikian. Atau sebenarnya, entitas-entitas itu pada dasarnya bukan entitas yang sebenarnya atau terberi (given), melainkan entitas hasil bikinan manusia. Namun yang pasti, kita menganggap sesuatu ada karena sesuatu itu terdefinisikan. Dan yang membuat kita mampu mendefinisikannya adalah karena adanya sesuatu itu melingkupi tiga hal, yaitu terberi (given), hadir (present), dan meruang/mewaktu.

Di akhir metabolisme intelektual ini, sebagaimana yang Anaxagoras katakan, pelbagai benda tampil sebagaimana adanya sesuai dengan unsur apa yang paling banyak dikandungnya. Seseorang disebut agamawan karena sebagian besar dari hidupnya diperuntukkan untuk agama. Seseorang disebut guru karena sebagian besar hidupnya diperuntukkan untuk menjadi pribadi yang mampu digugu dan ditiru. Seorang mantan yang sudah menikah disebut dapat mengganti malaikat Izrail, karena mengenangnya sangat berpotensi menyebabkan lenyapnya harapan-harapan. Dan hidup tanpa harapan adalah jalan menuju kematian.

Komentar

News Feed