oleh

Ketauhidan Didi Kempot dalam Lirik Terminal Tirtonadi

Sungguh kita semua terkejut, mendengar kabar meninggalnya The God Father of Broken Heart pada Selasa (5/5/2020) pagi kemarin. Lelaki yang membaktikan dirinya menjadi pencipta sekaligus penyanyi tembang-tembang jawa tersebut, selama ini berhasil membimbing dan membangun kembali jiwa-jiwa yang retak akal pikirnya oleh cobaan hidup.

Didi Kempot hadir lewat alunan langgam manis nan realis, sebagai bentuk nyata kisah tentang peradaban dibangun lewat berbagai produk kultur dan budaya. Sebagaimana yang dilakukan jauh sebelumnya oleh ulama besar di Nusantara yakni Sunan Kalijaga alias Raden Mas Said, lewat lagu Lir Ilir.

Di tengah hiruk-pikuk Covid-19 yang melanda dunia, Kyai Didi bahkan tak lupa meninggalkan pesan pada seluruh sobat ambyar, yang merupakan jamaah pengajian paling besar jumlahnya saat ini di nusantara dan dunia. Untuk tidak pulang kampung pada saat lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah, lewat lagu Ojo Mudik yang dapat dilihat di YouTube Didi Kempot Official Channel.

Sebagai seorang yang sama-sama ambyar saat ini. Ketika napas beliau tidak lagi hangat menerpa wajah dan kemudian kulitnya memucat. Didi Kempot telah menekankan bentuk ketauhidannya, dalam sebuah lirik lagu berjudul Terminal Tirtonadi. Iya! Ini adalah tembang lagunya yang menegaskan kecintaan pada Sang Khalik secara semiotik, di antara lagu-lagunya seperti Pamer Bojo, Ambyar, Cidro, Layang Kangen, hingga Sewu Khuto.

Nalikane ing Tirtonadi, ngenteni tekane bis wengi.  Tirtonadi sebagai terminal adalah bentuk perwujudan dunia fana. Bis yang menjemput pada waktu malam, menjadi peralihan kata di mana Izrail malaikat pencabut nyawa dapat datang kapan saja.  Tanganmu tak kanthi, kowe ngucap janji lunga mesti bali. Menjadi sumpah seorang hamba pada Tuhannya, tersirat dalam dalam Q.S Al-Ahzab (33) “Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi, dari kamu (sendiri) dan dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isya putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.

Rasane ngitung nganti lali, wis pirang taun anggonku ngenteni. Ngenteni sliramu ning kene tak tunggu, nganti sak elingmu. Dapat diperjelas sebagai wiridan yang tak terhitung, tidak sehari dua hari, namun terus-menerus. Kerinduan pada Tuhan Yang Maha Esa, hingga kemudian sang hamba kembali dipanggil-Nya.

Masa rendeng wis ganti ketiga, apa kowe ra krasaNek kowe esih eling lan trisna, kudune kowe krasa.  Masa di mana antara kemarau dan penghujan bertemu pada sumbunya di bulan Ramadhan, dengan berbagai door prize amal dan ibadah yang berkali-kali lipat jumlah pahalanya. Sebagaimana puasa hanya untuk orang beriman. Ketika seseorang muslim ingat pada Tuhannya, jelas cinta yang muncul bukan meminta penghormatan atas tiap amalan yang dilakoninya pada manusia.

Perayaan shalawatan dipuncaki dengan apik oleh hamba-Nya yang mengambyarkan diri melalui petikkan lagu pada bait-bait terkahir. Wis suwe, kangen sing tak rasakke. Rasane, rasane kaya ngene.  Ning kene, aku ngenteni kowe. Melalui kerinduan yang dirasakan dalam wujud syukur setiap hari.  Bahkan ia mendayu-dayu di tengah keramaian, Didi Kempot menemukan jalannya untuk kembali pulang ke kampung halaman abadi.

Kita-kita mengantarkannya dan mendoakannya dalam kepergian yang paling damai, dari tiap pelosok-pelosok nusantara, dari desa-desa dan kota-kota. Dari hati yang paling dalam aku mengucapkan, “Aku kangen, kangenku mung kanggo Kowe”.

*Penulis adalah Ketua Taring Hiu Community Kaltim

Komentar

News Feed