oleh

Klepon

Jajanan tradisional klepon

Pergulatan yang belum kering sempurna nyatanya masih menyimpan luka pada kedua belah sisinya. Luka yang ditimang kemudian satu per satu meramu jamu guna mengobatinya pun nyatanya masih saja belum benar paripurna. Dikupas, dikuliti, kemudian digoreng sedemikian rupa nampaknya masih menjadi daya upaya.

Kita ketahui bersama, bahwa nyaris segala bentuk isu dalam sosial media merupakan residu dari pertarungan 2019 silam. Tidak penting perihal itu semua, yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menjaga kerukunan bersama sebagaimana yang sudah menjadi citra diri bangsa Indonesia.

Pada hari Selasa kurang lebih pukul 16:00 WIB jagad media sosial Twitter dihebohkan dengan viralnya salah satu makanan khas daerah di Indonesia yang tiba-tiba mendapatkan sentimen negatif dari jenis produsen makanan berbeda. Sebut saja makanannya adalah kue klepon. Kue yang menjadi makanan (jajanan pasar) tradisional rakyat Indonesia. Mendadak seolah disudutkan sebab tak berbahan kurma.

Masyarakat yang resah dengan postingan yang sifatnya menggiring semacam ini, kemudian satu-per satu mengutuk keras bahkan saling ejek di media sosial pun tak terhindarkan.

Sebagian juga lebih berhati-hati dalam mencerna setiap apa yang dimuntahkan sosial media. Mereka yang tidak tergesa-gesa menanggapi cenderung lebih berfikir kritis, bahwasanya postingan semacam ini sebenarnya bukan perihal makanan semata, melainkan proses penggorengan isu guna mengangkat kembali nama-nama sepeti kadrun, kadal gurun, dll.

Kendati demikian, ada pula pihak yang tergolong apatis atas apa yang terjadi dalam jagad maya itu. Entah mereka sudah benar-benar tahu atau memang tidak ingin tahu segala jenis keributan.

Memang sudah saatnya kita semua dewasa, apalagi dalam dunia maya. Sebab negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam ini, akan selalu ada berbagai macam isu yang menyinggung ke arah sana.

Harusnya pula, urusan halal haram sudah selesai pada umat muslim itu sendiri. Kita yang sudah bisa dikatakan dewasa sudah barang tentu tahu mana makanan halal dan mana yang haram. Dari bahan yang digunakan, proses, hingga bagaimana sesuatu sampai di tangan kita.

Tragisnya, beberapa ibu-ibu penggelut UMKM kue tradisional merasa terbebani jika harus berurusan dengan postingan yang sifatnya tidak bertanggungjawab. Di tengah pandemi ini, krisis yang mulai menggerogoti ekonomi masyarakat kecil tidak pantas bila mereka harus menerima sentimen negatif pula. Mereka berharap kita semua bergandengan tangan guna mengangkat semuanya, justru beberapa kelompok menghendaki hal lain yang justru menyulut beberapa ekspresi.

Komentar

News Feed