oleh

Komunis dan Ketakutan Tanpa Akhir

Bukan sesuatu yang mengagetkan jika berkali-kali didapati berita toko buku yang masih menjual buku-buku yang diduga berisi paham komunis. Seperti yang baru-baru ini dilakukan aparat keamanan Kediri yang merazia buku-buku semacam itu, dengan alasan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. 26 Desember 2018 Detik.com menurunkan beritanya dengan judul: Toko Buku di Kediri Diduga Jual Buku Berisi Paham Komunis.

Komunisme seperti hantu yang bergentayangan selama puluhan tahun di Indonesia, terutama sejak peristiwa banjir darah yang terjadi pada 1965 hingga 1966. Buku-buku yang diduga berisi ajaran paham komunis atau simbol-simbol yang berkaitan dengannya direngkuh untuk kemudian dibumihanguskan. Sudah puluhan tahun yang lalu kejadian berdarah itu terjadi, namun sampai hari ini kita seperti menerima turunan dosa yang berlipat-lipat, sehingga komunisme tak pernah tenang di alam kubur dan terus menghantui kita seperti sedang ingin menuntut balas atas dosa yang dilakukan siapa lagi kalau bukan Orde Baru. Pantas kalau sejak puluhan tahun upaya penghapusannya paham itu tetap kerap muncul tiba-tiba seperti roh gentanyangan.

Sebelum keran reformasi dipaksa dibuka, para pemuda telah mengalami intimidasi yang tidak main-main. Mereka diawasi, ditekan, dan diberangus apabila ditengarai sedang berkumpul dan berdikusi, dikhawatirkan sedang merencanakan sebuah ancaman politik. Ruang gerak para pemuda sangat sempit untuk melakukan diskusi, koreksi, dan perencanaan-perencanaan kemajuan bagi negerinya sendiri, karena selalu dipandang akan menjatuhkan rezim yang berkuasa. Orde Baru, yang saat itu memimpin selama 32 tahun lamanya, gemetar bila melihat perkumpulan pemuda, selain karena takut akan lahirnya pemberontakan seperti adanya kudeta militer terhadap para jenderal senior Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965, juga karena takut, melalui mereka, komunisme bangkit dari kuburnya.

Bukankah sebuah ajaran tidak akan pernah mati meski orang-orangnya telah dipaksa dikubur? Sebuah ajaran tidak akan pernah mati. Ia akan selalu hidup di kening dan kertas-kertas.  

Hingga kini, sebagian dari kita takut akan bayangan bangkitnya kembali komunisme, sehingga apa pun tentangnya tidak boleh lagi muncul ke permukaan, bahkan harus sudah diberangus sejak dalam kuburannya. Alasan lahirnya ketakutan itu dengan mudah kita tebak sebagai trauma-trauma masa lalu yang terus diwariskan membabi buta kepada kita, generasi yang diharapkan mampu membawa kemajuan, tanpa mau membuka kembali apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Ketakutan rupanya telah menjadi ajaran wajib untuk tidak menoleh apalagi membuka-buka kembali lembaran-lembaran sejarah, mengorek-ngorek apa yang sebenarnya terjadi, hingga Orde Baru terutama, dan manusia-manusia warisannya yang memiliki banyak peran di masa demokrasi sekarang ini, melakukan propaganda besar-besaran untuk menunjuk PKI sebagai kambing hitam yang memang layak dimusuhi negara sekaligus dibumihanguskan.

Terkadang, sesuatu yang berlebihan malah menimbulkan kecurigaan. Terlebih lagi ada yang bilang, seseorang akan melakukan apa saja untuk menutupi bobrok yang diciptakannya sendiri. Namun perlu dicatat. Kita tidak sedang menghakimi untuk kemudian menunjuk hidung siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab atas ketakutan tanpa akhir ini.

Anggap saja kita sudah tahu bahwa yang menculik tujuh anggota militer senior pada 1 Oktober 1965 itu bukanlah orang-orang komunis, melainkan militer muda Angkatan Darat yang dikomandoi Soeharto untuk merongrong bahkan melengserkan Soekarno dari singgasana kepemimpinan. Tapi, hal itu tidak berpengaruh banyak terhadap konstruksi pikiran kita yang sedari awal sudah diciptakan—terutama melalui propaganda-propaganda film—untuk memandang bahwa orang-orang komunislah yang melakukan kejahatan kemanusiaan itu.

Kenyataannya, dalam kesimpulan sementara ini, sebagaimana juga disebutkan oleh Ariel Heryanto dalam bukunya Identitas dan Kenikmatan, Orde Baru membina keabsahan politiknya dengan bersandar pada sebuah kisah yang direkayasa pada 1965-66. Sebagai pihak yang memenangkan pertarungan sejarah—begitu kira-kira sekarang kita menyebutnya—Orde Baru memaksakan diri membuat cerita resmi rekayasa tersebut, dikeluarkan oleh negara, lalu disebarkan ke seluruh rakyat. Mungkin rakyat tidak tahu apa yang terjadi pada peristiwa di tahun itu, namun setelah negara mengeluarkan secara resmi cerita kemenangannya dalam menumpas orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan keji itu dan orang-orang lain yang menjadi bagian atau berafiliasi dengannya, rakyat percaya dan yakin bahwa Seoharto dan Orde Barunya adalah pahlawan.     

Yang sebenarnya, di Jakarta, menjelang subuh tanggal 1 Oktober 1965, enam jenderal dan satu letnan diculik dan kemudian dibunuh oleh sekelompok perwira menengah militer. Beberapa hari berikutnya, Soeharto tampil sebagai pemimpin dalam penumpas para penculik itu. Setelahnya, rangkaian pengejaran dan pembunuhan terhadap anggota PKI, organisasi atau orang per orangan yang berafiliasi atau bersimpati dengannya, terjadi secara besar-besaran, hingga nyaris ke seluruh pelosok negeri.

Satu contoh begini. Sebenarnya Anda yang memakan kue di dapur, tapi Anda bilang ke seluruh anggota keluarga bahwa tikuslah yang memakan kue itu, lalu Anda memburu tikus yang dimaksud. Maka dengan berang seluruh anggota keluarga akan memusuhi dan membunuh seluruh tikus yang ada di rumah itu. Mungkin tikus-tikus yang ada di luar rumah juga terkena dampak rekayasa itu. Sungguh kasihan si tikus dan sebangsanya. Dan memang, bertahun-tahun kita dilatih untuk tidak bersimpati kepada pemberontak, meski sungguh kita dengar pemberontakan itu hanya hasil rekayasa.

Tentang kurangnya simpati ini kita bisa lihat dalam sebuah anekdot twitter yang ditulis oleh akun @JennyJusuf:

“Ada yang kena musibah sampai istrinya meninggal dunia

Org Amrik: My deepest condolences.

Org Australia: I’m so sorry.

Org Inggris: Please let me know if there is anything i can do to help.

Netijen Indo: Foto2nya tlg dihapus krn memperlihatkan aurat, maaf sekadar mengingatkan.”

Hanya sebuah intermeso. Mari kembali pada upaya Orde Baru yang mencoba melanggengkan kekuasaannya dengan cara membuat cerita resmi atas rekayasa kudeta yang dialakukannya. Ariel Heryanto menulis, perburuan luas terhadap ancaman komunisme atau kebangkitan kembali mereka, juga pemeriksaan secara mental dan ideologis, dilakukan secara amat teliti dan bersemangat sebagai sebuah tontonan bagi publik sepanjang pemerintahan Orde Baru.

Saya sendiri mengetahui yang katanya kejahatan orang-orang komunis dari narasi-narasi dalam G 30 S/PKI dan film berjudul Pengkhianatan G 30 September, yang kemudian diketahui ternyata salah satu film propaganda yang sengaja dibuat dan disponsori oleh negara waktu itu. Upaya penulisan sejarah yang gemilang itu memang sangat berhasil di tangan Orde Baru. Melalui film negara melancarkan propaganda-propagandanya. Film-film seperti Janur Kuning, Serangan Fajar, Pengkhianatan G 30 September sendiri, Penumpasan Sisa-Sisa PKI di Blitar Selatan, Djakarta 1966, serta Djakarta 1962, di mana anak-anak juga diharuskan membeli tiket dan menontonnya pada jam sekolah, adalah beberapa di antaranya.

Bahasa film lebih tajam dan lebih mudah diingat. Isi dan pesan film-film yang disebutkan tadi melekat dan tertanam ke dalam kepala setiap generasi. Sangat pantas jika kemudian masyarakat dibayangi ketakutan tanpa akhir bangkitnya kembali hantu komunisme yang secara sengaja diciptakan oleh Orde Baru. Dilakukannya razia buku-buku yang berkaitan dengannya semakin memperkuat keangkeran hantu komunisme. Kenyataan ini membuat kita tak ubahnya hidup di zaman represif Orde Baru. Generasi yang datang terkemudian dihilangkan kesempatannya untuk membaca buku-buku yang menyumbang banyak wawasan. Membaca ajaran komunisme bukan dimaksudkan untuk menggoyahkan dasar negara yang sudah dianut bertahun-tahun, melainkan untuk menambah wawasan bagaimana negara ini harus dijalankan dengan secara konsisten berpegang teguh pada dasar negara Pancasila.

Namun, selama ini, yang ditebarkan adalah ketakutan terhadap sebuah paham yang sudah tidak relevan, yang sebelum mempelajarinya sudah diberangus buku-bukunya, sedang kepatuhan menjalankan nilai-nilai Pancasila seperti hidup enggan mati tak mau. Kita lebih suka menjadi bangsa yang gemar menebar ketakutan daripada memberikan cara menghadapi ketakutan itu. Seperti seorang pemimpin agama yang mengharapkan orang-orang yang dipimpinnya patuh dan taat dengan jalan menakut-nakuti mereka melalui ancaman neraka, sehingga nilai-nilai adab dan kemanusiaan berada di urutan paling belakang.     

Komentar

News Feed