oleh

Launching dan Bincang Buku, Prof. Djoko: Rumah Tanpa Tangga Dibangun Menggunakan Pendekatan Kelam

-Regional-290 views

Penulis buku Rumah Tanpa Tangga, Latif Fianto dan pengulas, Prof. Djoko Saryono (dua dan tiga dari kiri) berfoto seusai acara Launching dan Bincang Buku “Rumah Tanpa Tangga” di Holo Caffee , Tlogomas Malang, Kamis (5/12/2019).

Malang, Indotribun.id – Di tengah kehidupan manusia yang semakin kering, mengetengahkan sastra (seni) merupakan langkah yang tepat. Itu dilakukan untuk merawat imajenasi dan menjaga kehidupan agar tetap manusiawi. Salah satu buku yang hadir untuk tujuan demikian adalah buku kumpulan cerpen Rumah Tanpa Tangga karya Latif Fianto.

“Ada beragam pendekatan dalam melihat sesuatu. Dalam Rumah Tanpa Tangga, Latif menggunakan pendekatan kegelapan atau kelam dalam setiap cerita-cerita yang dibangunnya. Bukan sesuatu yang negatif. Itu hanya persoalan pendekatan saja,” kata Prof. Djoko Saryono saat menyampaikan ulasannya dalam acara Launching dan Bincang Buku “Rumah Tanpa Tangga” di Holo Caffee , Tlogomas Malang, Kamis (5/12/2019).

Apa yang dikatakan Prof. Djoko tidak meleset jauh. Judul-judul yang terdapat dalam kumcer Rumah Tanpa Tangga, setidaknya secara kasat mata, menggambarkan kegelapan itu. Sebagai misal beberapa judul cerpen seperti Rumah Kuburan, Menunggu Lebih Kejam dari Maut, Ciuman yang Gagal, dan Api Kenangan.

Lebih jauh Prof. Djoko menjelaskan, sastra boleh jadi tidak terlalu penting dibanding bidang ilmu lainnya, karena daya tawarnya yang memungkinkan setiap hal mengalami fiksionalisasi. Setiap hal sangat mungkin terjadi dalam dunia fiksi. Karena itu, ia tidak lebih menarik dari realitas yang sebenarnya.

Namun, di tengah kehidupan yang kering dan kerontang, karena zaman sudah dipimpin oleh hikmat science dan teknologi, mengetangahkan sastra penting untuk menjaga kehidupan tetap manusiawi. Prof. Djoko menyindir bahwa belakangan banyak ditemui manusia yang sok moralis padahal sebenarnya tidak. Juga manusia yang secara fisik agamis, padahal juga tidak benar-benar demikian.  

Selain itu, kehadiran sastra dan menempatkannya sebaik mungkin di tengah kehidupan juga berperan penting dalam merawat imajenasi.

“Tak ada penemuan-penemuan penting di dunia ini yang tidak diawali dengan imajenasi. Ketika Thomas Alva Edison memperhatikan apel yang kerap jatuh, pertanyaan yang muncul dalam benaknya adalah mengapa. Mengamati sesuatu yang berkelebat di sekitar akan mengantarkan kita pada imajenasi itu,” ungkap Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang itu.

Pada kesempatan yang sama, Latif Fianto menyampaikan, Rumah Tanpa Tangga memang berisi kisah-kisah kegetiran yang kerap menghampiri kehidupan manusia. “Manusia tidak pernah lepas dari kegetiran. Saya mencoba memotret macam-macam kegetiran itu dari hal-hal paling kecil yang saya temui.”

Pria yang akrab disapa Latif itu mengatakan, kumcer Rumah Tanpa Tangga berisi cerpen-cerpen yang ditulisnya sejak tahun 2015. Cerpen-cerpen di dalamnya juga sudah pernah dimuat di beberapa media massa, baik cetak maupun online. Tahun 2015 juga menjadi tahun yang bersejarah bagi dosen Universitas Tribhuwana Tunggadewi itu. Di tahun itu ia mulai serius menapaki dunia kepenulisan.

Launching dan Bincang Buku Rumah Tanpa Tangga diselenggarakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Kegiatan terebut diselenggarakan untuk mengapresiasi karya mahasiswa, alumni atau dosen sekaligus untuk menebar motivasi berkarya.

Komentar

News Feed