oleh

Mahasiswa Baru; Sebuah Transformasi Intelektual

Menjadi mahasiswa semakin digemari, bukan hanya karena intelektualnya yang mumpuni, tetapi juga karena gengsi. Orang tua, om, tante, kakek, dan nenek, sudah menyadari bahwa menyekolahkan anak hingga jenjang kuliah sudah menjadi kewajiban. Kuliah menjadi semacam standar sosial baru di lingkungan kampung yang sarjananya masih bisa dihitung jari. Apalagi di daerah Jawa Timur masih didominasi oleh pedesaan sehingga sarjana memiliki potensi dihormati yang tinggi.

Di kampung, sarjana tidak hanya dipandang mampu mengurusi persoalan yang sesuai dengan jurusannya. Seorang sarjana Ilmu Komunikasi tidak hanya dituntut untuk bisa mendesain banner atau menjadi MC suatu acara, tetapi ia juga harus bisa memberikan komentar soal hukum jika ada anggota keluarga yang berurusan dengan polisi. Seorang sarjana pertanian bisa jadi diminta berdoa di pernikahan saudara. Sama dengan sarjana teknik arsitektur harus bisa membenahi handphone dan printer jika rusak.

Kondisi ini bisa dianggap lucu, tetapi kondisi itu betul-betul terjadi di kampung. Sehingga tanggung jawab mahasiswa semakin besar untuk menjadi manusia serba bisa demi nama baiknya dan keluarga. Bulan April sampai Agustus seperti sekarang, merupakan momen siswa SMA/Sederajat bertransformasi menjadi mahasiswa. Mereka akan belajar menjadi manusia intelektual baru yang berbeda dengan cara-cara belajar konvensional semasa pelajar. Mahasiswa sudah bisa memilih mata kuliah yang bermanfaat atau kurang bermanfaat –alih-alih memilih mata kuliah yang disenangi atau tidak.

Berubahnya status intelektualitas ini harus diimbangi dengan semangat perubahan oleh mahasiswa baru. Jangan sampai mahasiswa menjadi beban pendidikan karena ketidaksiapannya menghadapi tantangan hidup di jenjang yang berbeda. Tugas mahasiswa yang berat akan mulai dikenalkan dalam Orientasi Mahasiswa Baru dengan sebutan Trifungsi Mahasiswa; Agent of Change, Man of Analysis, dan Social Control. Tetapi selama proses pembelajaran normal yang empat tahun, trifungsi mahasiswa ini hampir pasti tidak akan diingat lagi, berganti dengan tugas-tugas kuliah, pacaran, main game, hingga malas-malasan di kamar kos.

Kualitas Mahasiswa

Mahasiswa perlu mengingat bahwa tugasnya tidak hanya belajar di jenjang akademik, tetapi juga beraktivitas dalam masyarakat. Semua itu tercermin dalam proses pendidikan yang akan ditempuhnya di perguruan tinggi. Ketika membahas teori-teori di dalam kelas, mahasiswa punya tanggung jawab penuh untuk belajar –mungkin juga menghafalkan- berbagai macam teori beserta contoh-contohnya. Tetapi ketika ia dihadapkan dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) maka mahasiswa punya tanggung jawab penuh mengaplikasikan teori dan keilmuannya ke dalam masyarakat.

Untuk menentukan kualitas mahasiswa memang sulit-sulit gampang. Masing-masing orang memiliki perspektifnya sendiri yang dipengaruhi oleh latar belakang dan preferensinya. Apalagi secara umum kualitas perguruan tinggi di Indonesia dianggap tertinggal dari negara lain. Dari setiap variable kualitas pendidikan, baik mahasiswa maupun dosennya, juga selalu mendapat ranking buruk. Contoh yang paling mencolok adalah membaca, berdasar penelitian dari Central Connecticut State University (CCSU) dengan tajuk “World’s Most Literate Nations” menempatkan Indonesia nomor 60 dari 61 negara di dunia yang rajin membaca.

Penelitian sejenis dilakukan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), 2015-2016 dengan nama program The Program for International Student Assesment (PISA) yang meranking seluruh negara di dunia untuk skor nilai matematika, science, dan membaca. Untuk ranking membaca, Indonesia sebagaimana yang bisa kita tebak berada di urutan paling akhir dengan skor 386. Skor paling tinggi diraih Singapura dengan angka 525 disusul negara Ireland (5151), dan Kanada (514).

Untuk mempersempit pembahasan ini, kita bisa lihat kualitas mahasiswa dari tiga aspek, pertama, dari sisi akademik. Salah satu capaian besar sebuah perguruan tinggi adalah apabila mahasiswanya lulus tepat waktu dengan rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.0. Hal ini bisa menjadi salah satu aspek penilaian mahasiswa berkualitas di bidang akademik. Mahasiswa dengan kualitas akademik tinggi hampir selalu berkaitan dengan kemampuan membaca yang tinggi. Sedihnya, Perpustakaan Nasional (2017) merilis bahwa orang Indonesia hanya membaca 5-9 buku setiap tahunnya yang tergolong sangat rendah.

Kemampuan akademik mahasiswa harus ditingkatkan melalui membaca sehingga kualitas hidup masyarakat juga turut meningkat. Karena membaca adalah dasar dari semua pengetahuan. Sehingga ketika mahasiswa jarang membaca ia tidak akan mampu menilai persoalan sosial dengan obyektif. Padahal sebagai man of analysis mahasiswa harus mampu menganalisa persoalan dari sebab-sebab hingga solusinya. Mahasiswa yang rajin membaca akan bisa membuat perbedaan yang besar dalam mencari solusi dibandingkan mahasiswa yang malas membaca.

Kedua, dari sisi keorganisasian. Mahasiswa harus mampu mengorganisir diri dan lingkungannya dalam sebuah wadah organisasi yang memiliki tujuan bersama. Saat ini perusahaan multinasional banyak menerapkan syarat karyawan yang memiliki kualifikasi : komunikatif, kolaboratif, kompetitif, dan sanggup bekerja di bawah tekanan. Kesemuanya itu tidak didapatkan mahasiswa di dalam kelas tetapi melalui organisasi yang diikutinya. Karena berorganisasi akan mengajarkan mahasiswa untuk memiliki daya tempa berkompetisi dengan mahasiswa lainnya.

Mahasiswa yang berorganisasi akan cenderung memiliki pola pikir yang terbuka dan suka tantangan. Karena itu mahasiswa organisatoris memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkompetisi di berbagai lini dibandingkan mahasiswa yang tidak berkecimpung dalam organisasi apapun. Kondisi-kondisi ini harus dipahami oleh mahasiswa secara mendalam sehingga mereka tidak meninggalkan organisasi hanya karena faktor akademik. Kemampuan berorganisasi akan membawa mahasiswa pada kompetisi-kompetisi di luar dirinya secara fair dan terbuka sehingga dapat membangun daya kolaborasi yang mumpuni.

Ketiga, mahasiswa berkualitas bisa diukur dari kemampuannya untuk bekerja dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Bekerja di sini dapat diartikan dalam unsur ekonomis bisa juga sosial. Mahasiswa yang bekerja dan menghasilkan uang untuk mensupport kehidupannya memiliki nilai plus guna memahami realitas yang sesungguhnya. Bekerja dan berwirausaha bisa menjadikan mahasiswa dewasa untuk menghargai jerih payah siapapun yang membantunya kuliah. Bekerja di versi lain adalah untuk kepentingan sosial yang tidak menghasilkan kapital. Membangun komunitas baca, sekolah anak jalanan, hingga aktif menjadi volunteer di berbagai komunitas juga membuat mahasiswa jadi jempolan.

Tetapi rumusnya jelas, mahasiswa harus selalu kembali ke tugasnya untuk menyelesaikan studi. Jangan sampai aktivitas bernilai ekonomis maupun sosial ini kemudian menghambat akademik mahasiswa lalu membuatnya jadi beban. Ketiga syarat di atas harus dilakukan dalam rangka membangun pribadi mahasiswa yang berkualitas sehingga akan bermanfaat bagi masyarakatnya kelak. Sering kali mahasiswa terpaksa harus memilih satu; ketika ia rajin kuliah, organisasi tidak ikut. Ketika ia rajin berorganisasi maka nilai akademik jeblok. Mahasiswa harus menjadi siswa yang superpower untuk bisa berprestasi dalam bidang akademik, organisasi, dan lingkungan sosial. Inilah yang membedakan mahasiswa dengan pelajar di tingkat SMP-SMA.

*Fathul Qorib, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Tulisan-tulisannya bisa diakses di www.fathulqorib.com.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed