oleh

Manusia, Tuhan, dan Kehidupan

Dalam bahasa yang mungkin sulit dibaca “Jhe’ bed talebet mun seddi, jeriye bekal bede’e senneng se dateng, sabeligge, jhe’ bet talebet mun senneng jeriyeh bekal bede’e seddi se dateng.” (Jangan berlebihan kalau bersedih, karena akan ada kesenangan yang datang, sebaliknya,  jangan berlebihan kalau senang karena akan ada kesedihan yang akan datang). Deddi Pabiasa bhei lah (Jadi bersikap biasa saja) akan bahagia, paling tidak terlihat bahagia.

Sebagai manusia yang moderat antara bumi dan langit, maka akan ada magnet tersendiri untuk terus naik setinggi tingginya untuk sampai kepada yang Maha Tinggi atau tertarik (tertelan bumi) hanya sekedar menggali nafsunya sendiri. Akan tetapi diri kita sudah terlanjur hadir di bumi, yang mana bukan tempat dari jiwa diciptakan melainkan jasmani, yang nantinya fisik ini akan kembli ke bumi dan jiwa kembali dipulangkan ke langit dengan pertanggung jawaban selama sebagai khalifah atau pemimpin di bumi.

Kita memahami, bahwa pada kehidupan ini manusia ada tiga keberagaman dalam tahap pemahamannya. Pertama, ada manusia yang hanya sekadar tahu saja. Kedua, ada yang tahu namun mereka tau buktinya dan merasionalisasikannya. Dan yang ketiga adalah manusia yang dia tahu dan mampu merasionalisasikan namun pula mereka merasakannya. Karena dalam setiap diri manusia ada tujuan, namun tujuan yang paling baik adalah tujuan untuk sampai kepada Tuhan. Selain Tuhan adalah sandaran yang tidak akan pernah mengecewakan siapa pun yang mendekat kepadaNya. Oleh karennya jangan pernah merasa dekat denganNya, tapi terus mendekatlah padaNya biar selalu di jalanNya, laksana para Sufisme dalam tasawwufnya.

Karena Tuhan adalah tujuan dari segala tujuan, maka masih sering kali kita tertipu akan kepalsuan-kepalsuan dan sering kali terjebak dalam kehidupan dunia yang nyata adanya. Nah pada tahapan pengetahuan tentang tujuan manusia yang beragam di atas bisa di analogikan seperti ini. Kalau manusia yang pertama adalah manusia yang hanya sekedar tau saja, maka tujuan mereka hanya sampai di rumahNya (Surga) saja, dan tahapan kedua mereka dalam tujuannya bukan sekedar ingin bermain kerumahnya saja melainkan mereka sudah tenang dengan tahu kalau di rumah itu ada “orang”(Nya), sedangkn tahapan yang ketiga adalah mereka yang tak hanya sekedar bermain dan mengetahui suara orangnya saja, melainkan pula mereka manusia-manusia yang ingin langsung berdialog dengan pemilik rumah itu. Maka dengan begitu cara ketiga di atas selalu berbeda dan tidak pula harus saling disalahkan melainkan itu sebagai tahapan dari tujuan yang berkelanjutan, karena yang jelas nyata salahnya ketika tertipu dalam kepalsuan-keplsuan dan berdiam di sana karena “merasa sampai padahal baru saja memulainya”.

Dengan begitu kita perlu menilai kembali siapa diri kita dan untuk siapa diri kita, jika semua yang kita anggap milik kita secara pribadi ternyata secara hakiki bukanlah milik kita.

“Jadilah tukang parkir yang baik” jika semuanya adalah titipan bahkan tangan, kaki, dan kelamin yang melekat pada tubuh atau bahkan nyawa kita bukanlah milik kita, lalu siapa yang tidak akan marah jika titipannya di salah gunakan, dari perintah yang di abaikan dan dari larangan yang di obralkan hanya sekedar kenyamanan nafsu dirinya. cara yang (tak) mudah tapi bisa di lakukan adalah dengan mengembalikan semua tujuan-tujuan kita kepada Tuhan itu sendiri dengan begitu jika percaya Tuhan adalah maha baik, dan mengatur segala jalan yang kita lalui maka untuk apa kecewa dan tidak sabar dengan apa yang kita tidak miliki.

“Tuhan selalu lebih ingat terhadap manusia, dari pada manusia yang selalu mengingat Tuhannya”.

“Ngucak sabber lakaran gempang, keng mun tak sabber sajen malarat” (Bilang sabar memang mudah, tapi kalau tidak sabar semakin sulit).

 

“Tuhan..! Selalu mengikuti cara kita, jadi jangan sia-siakan cara kita

Dengan mengabaikanNya, sebab hanya Dia lah yang tanpa sebab”

 

Hidup tanpa gejolak, bagaikan meramaikan kematian

“M. Iqbal”

 

Kehidupan bukanlah sekedar perjalanan yang kosong melainkan berbagai komposisi yang tercipta pada alam, ini menjadi investasi yang konkrit pada petualangan pemikiran. Entah tanpa sadar sebagian besar manusia menganggap kehidupan itu seperti bara api, yang pasti itu tersaring dalam perjalanannya. Akan tetapi bisa menjadi masalah yang besar pada kenyataan selanjutnya, Bagi mereka yang gagal memaknai.

Terkadang kegagalan yang tak tersadari adalah mereka yang lupa tentang hukum kehidupan itu sendiri. Keinginan dan cita-cita yang besar adalah instrumen besar dalam perjalanan dimana di dalamnya tidak akan lepas dari hukum perjuangan itu sendiri. Manusia yang rakus pada keinginannya sering melupakan bagaimana mengtransfer cara nuraninya pada aktualisasinya, bahkan kenyataannya cara itu  selalu terlahir dari pemikiran pragmatis halus dan sadis pada kehidupan lainnya. Kita tahu bahwa manusia adalah wayang Tuhan, di mana dan kemanapun kita berada dan sembunyi tak lain adalah perkataan Tuhan. Dan tahukah manusia tercipta dan terlahir hanya sebagai proyektor dari keinginan Tuhan itu sendiri yang lagi-lagi manusia merasa bisa memutuskan perannya karena kebebasannya untuk memilih. Padahal sejauh mana  kita berfikir tentang sesuatunya dan sedalam apapun pikiran itu tenggelam tak sedikitpun lepas dari Sang Maha itu sendiri. Terkadang manusia selalu merasa, dengan sedikit logika dan terkadang selalu berlogika sedikit rasa, padahal keduanya, perbedaan yang tak harus dipertentangkan akan tetapi selalu disandingkan dalam kehidupan ini. Kalau kita merasa dengan sedikit logika maka kelemahan yang terlihat, dan berlogika dengan sedikit rasa maka kekejamanlah yang sering terlihat. Karena kedua tersebut adalah Intelektual (Intelectual) dan Spiritual. Pernahkah kita tahu di bagian manakah kita?.

Hampir rata dalam permasalahan kehidupan manusia di dunia yakni tentang cara berpikir matematis atau terletak pada konsistensi bagaimana menemukan sesuatunya yang lebih benar, namun ketidaksadarannya adalah mereka konsisten terhadap pertanyaan, benarkah ini? atau yang mana yang benar? lalu mendiamkannya. Tak sedikit dengan pertanyaan itu manusia mengaktualisasikan pemikirannya dengan tindakan yang menyebalkan dan menjengkelkan bahkan memalukan dengan dasar kebenaran pribadi- nya. Mereka bukanlah lari dari ketidaknyamanan yang dianggapnya, hanya saja mereka tanpa sadar memupuk kebodohannya dengan bingkai yang berwarna dari reputasi atau jabatannya atau bahkan dengan bingkai Agama.

Jiwa, dalam tubuh itu takkan pernah berakhir, yang membusuk dalam kefanaan ini adalah segala alam yang terindra termasuk tubuh kita yang gagah, dan keinginan-keinginan yang bodoh dalam kehidupan yang lalu. Lalu siapakah yang ingin hidup nyaman tanpa kegelisahan, atau ingin hidup damai tanpa ada yang mengusik, hal itu sangatlah absurd.

Ada beberapa hal yang perlu kita kaji untuk kita bisa mengubah keadaan, yang pasti langkah pertama kita harus berani memulai keluar dari keadaan yang saat ini kita hadapi sebab, ciri-ciri orang yang sukses adalah mereka yang cepat meninggalkan keadaan saat ini. Artinya orang yang keadaannya saat ini adalah buruk atau tidaklah baik maka cepat-cepat untuk beranjak dan meninggalkannya, dan yang sebaliknya apabila kita berada dalam keadaan yang baik, maka bergegaslah dari keadaan tersebut untuk merubah menjadi lebih baik lagi dari keadaan baik sebelumnya.

Hal ini sepertinya sangat mudah untuk sekedar dipahami, akan tetapi menjadi hal yang sangat membosankan dalam prakteknya, bisa dibilang hal yang sulit dengan alasan yang cukup sederhana pula. Pertama yang perlu kita lawan adalah kenyamanan-kenyamanan yang sudah kita anggap sudah cukup untuk tidak ditinggalkan. Seperti contoh kita berada dalam keadaan yang terlingkup dengan suatu organisasi, dan organisasi tersebut dalam keadaan yang baik, jika kita mau meninggalkan keadaan (organisasi) yang baik itu menjadi lebih baik, maka yang tahu adalah mereka semua yang ada dalam sebuah organisasi tersebut, ini dalam suatu organisasi dan sama halnya dalam diri pribadi kita.

Hanya pribadi kita yang sebenarnya tau kemana mengarahkan kemauan kita untuk meningkatkan sesuatu untuk menjadi lebih baik. Kedua mungkin lebih sulit yang perlu di lawan adalah krakter kita, bagaimana tidak? Kita tau bahwa krakter tidak di bentuk dalam satu sampai dua bulan saja melainkan bertahun-tahun selama kita hidup sampai sekarang, yang pasti kita mampu membedakan krakter buruk dengan krakter baik kita. Butuh Problem Solving yang akurat untuk melawan itu dan konsistensi yang kuat untuk meninggalkan yang buruk dan meningkatkan yang baik itu. Tapi janganlah kita pesimis dalam hal itu semua karena itu kita jawab dengan satu pekerjaan wajib dalam hidup kita, yakni “Jangan pernah berhenti untuk belajar karena dalam kehidupan ini selalu memberi pelajaran.”

Yang kita butuhkan adalah percikan untuk menyalakan api dan kita selalu memulai aksi kita setelah kita menemukan mimpi dalam pikiran kita, lalu bagaimana kita mau beraksi dengan benar tanpa mimpi yang jelas, yang terlihat kita terdiam dalam kemalasan. Sedangkan kita selalu menginginkan kenyamanan. Sedangkan kemalasan tidak menjamin sebuah kesuksesan dan tidak bisa menjadi tolak ukur kebahagiaan kita untuk selanjutnya. Kalau mimpi adalah sebuah kunci maka tidak menutup kemungkinan untuk kita membuka istana yang kita inginkan. Maka yang kita perlukan adalah bagaimana mengukir kunci menjadi sesuai dengan pintu istana, dan mencari guru kunci yang lebih dari pengetahuan kita supaya kita tahu jalan yang benar kemana kita menuju pintu istana.

Semua kesuksesan selalu di mulai dari mimpi atau di mulai dari adanya tujuan, sekecil apa pun mimpi itu adalah suatu yang sangat berarti dalam kehidupan ini. Dan yang perlu di ingat lagi bahwa mimpi atau tujuan hanya bisa menjadi sebuah angan-angan yang hampa tanpa visi yang jelas untuk sampai. Maka aksi tidak akan menjadi aksi yang sia-sia  dengan visi yang jelas. Dan karena kita mempunyai pikiran yang aktif maka pilihan kita bebas untuk memilih mimpi yang kita inginkan. Seberapa besar mimpi kita jangan pernah lupa untuk mempersiapkan kegagalan yang akan kita dapatkan.

Begitu sebaliknya kesuksesan kita juga dipersiapkan arahnya. Agar di setiap kegagalan dan dalam kesuksesan yang kita dapatkan kita tetap menjadi Ada. Karena memang dalam diri setiap manusia ingin selalu dianggap ada oleh manusia yang lainnya namun caranyalah yang kadang berlebihan. Pada keadaan apapun baik gagal ataupun sukses setidaknya kita selalu menyandarkan semuanya kepada Sang Maha Kaya.

Dunia ini adalah tempat bermain kita kalau kita hanya diam maka dunialah yang akan mempermainkan kita bahkan menakut-nakuti bahkan mampu menelanjangi dan memperkosa. Cara dunia ini biarkan seperti itu dari ribuan abad yang lalu sampai abad sekarang akan tetap sama cara dunia ini bermain tapi sedikit orang yang berhasil (congratulation) melewati beberapa stage-stage yang memang wajib ada. Serta tak sedikit pula yang finish sampai akhir akan tetapi lupa menggunakan hadiahnya dengan benar.

Pernahkah kita menyadari bahwa segala tindakan dan perbuatan tidaklah terjadi begitu saja, melainkan selalu bersandar pada pikiran kita. Oleh karena itu tak semudah itu sampai pada suatu tujuan itu dengan berjalan tanpa pengantar dan jalan. Kalau kita ketahui tentang sukses itu ada dua, begitupun lawan dari sukses itu sendiri yakni ke-gagal-an, ini pun ada dua juga.

Pertama, berfikir tanpa bertindak. Semua orang yang sadar akan dirinya pasti mengetahui kalau lapar ya pasti makan, kalau ingin kopi, ya buat dulu sampai kita menemukan rasa kopi yang kita inginkan. Karena suatu yang mustahil bagi akal kita, ketika kita lapar dan kenyang kemudian tanpa makan sesuatu apapun. Atau ketika ingin kopi tanpa tindakan membuat atau memesan maka hal itu pun akan menjadi hal yang nantinya tidak mungkin.

Mungkin itu hanyalah sebuah contoh kecil dari sebuah tindakan dimana kita ketahui bahwa ada hukum kekekalan yang manusia tidak mampu menghapusnya. Kita hanya mampu menentukan sebuah pilihan lalu merencanakan hingga akhirnya tindakan kita lah yang menentukan.  Maka dengan itu kegagalan yang nyata adalah mereka yang hanya diam dengan seribu keinginan, atau mereka yang berhenti berjuang mencapainya dengan bermacam-macam alasan pesimis.

Kedua, bertindak tanpa berfikir, ini kegagalan yang mungkin lebih terlihat fatal dalam kenyataannya namun akan lebih berpengaruh dalam perubahannya bagi mereka-mereka yang berhasil mengambil maknanya. Hal ini jelas-jelas menjadi tindakan yang bodoh yang pastinya merugikan keduanya atau lebih kejamnya lagi mereka merugikan dirinya sendiri.

Mohammad Zuhry, mahasiswa STF Al-Farabi Malang

Komentar

News Feed