oleh

Melawan Stigma Buruk Pengaduk Kopi

Dewasa ini, sebagian besar manusia yang bergelar mahasiswa tersebab terdaftar di suatu kampus atau perguruan tinggi tidak elok rasanya jika harus bergelut dengan dunia kerja. Mahasiswa ya mahasiswa saja, tak usah kerja. Hal itu terjadi karena,  lazimnya seorang mahasiswa, ia hanya perlu belajar dengan tekun di kampus tanpa harus terbebani oleh tuntutan yang dirasa belum waktunya. Bekerja.

Stigma ini telah mendarah daging dalam masyarakat. Tugas seorang mahasiswa hanya belajar dengan rajin, mengerjakan tugas tepat waktu, dan kalau perlu menjadi penjilat di setiap ruang kelas. Tak perlu kepikiran untuk bekerja, apalagi mencari bini. Itu urusan nomor delapan belas.

Saya agak kurang setuju. Tidak semua orang punya stigma seperti itu. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Setiap kepala, meski makannya tak mungkin lebih dari sepiring dalam kondisi paling lapar sekalipun, memiliki pandangan beragam soal kehidupan. Termasuk dunia mahasiswa.

Di Kota Malang khususnya, ada ribuan warung kopi yang konsisten beroperasi. Tumbuh subur bagai lumut di musim hujan. Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Malang, Indra Setiyadi, pernah bilang, warung kopi di Kota Malang saja mungkin jumlahnya sudah sampai seribuan lebih. Terbentang ramai di daerah Oma Campus, belakang Universitas Islam Negeri Malang (UIN Maliki), Sudimoro dan masih banyak tempat lainnya.

Artinya, kurang lebih 3.000 mahasiswa aktif turut berkecimpung dalam dunia peracikan hingga pengadukan kopi. Rohman, misalnya. Sebut saja namanya demikian. Ia, mahasiswa semester 5 jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Syariah UIN Maliki, telah bergelut dengan cangkir dan seperangkat warung kopi lainnya sejak beberapa semester terakhir. Saya tertarik untuk bercakap-cakap dengannya dan beberapa mahasiswa lain yang mempunyai kesibukan sampingan di luar dunia perkuliahan guna mendapat informasi sekaligus bertukar pengalaman.

Saat dilempar pertanyaan mengenai pembagian waktu, tenaga dan pikiran antara kuliah dengan kerjaan si Rohman menjawab dengan enteng dan sederhana. “Kita tidak pernah bisa memastikan tentang masa depan, Mas, semua tergantung niatnya.” Yang luar biasa, dia juga mengutip kekata yang pernah diungkap seorang tokoh besar Indonesia, Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun. “Agar tidak ada yang dikambing hitamkan ya kita harus profesional, Mas. Sederhananya masalah di laut jangan dibawa ke darat,” ujarnya dengan nada pasti.

Memang tidak ada salahnya pula jika mahasiswa hari ini punya kesibukan lain di luar perkuliahan selama itu baik dan bermanfaat. Dan hari ini Kota Malang dipenuhi mayoritas mahasiswa yang notabene membutuhkan tempat melepaskan kepenatan, mengerjakan tugas dan hiburan tentunya. Kalau demikian kondisinya, maka warung kopi bisa jadi pilihan terbaik. Tak butuh banyak biaya seperti halnya pelesiran ke kota-kota jauh yang megah, yang belum tentu juga mendatangkan kebahagiaan.

Kalau Anda kebetulan pergi ke Malang, entah untuk kunjungan kerja, studi banding, atau hanya untuk memanggil kembali kenangan yang sudah lama tertimbun kenyataan, jalan-jalanlah ke Oma Kampus, belakang UIN Maliki, atau ke Sudimoro. Saya pastikan Anda akan mendapati setiap warung kopi sesak oleh pengunjung. Mereka mahasiswa. Ada yang mengerjakan tugas dengan laptop berkelas di depannya, ada yang hanya termenung menyimak live musik yang tak pernah surut dari malam ke malam, ada yang datang hanya untuk berkencan dan nonton film di komputer jinjing, bahkan ada pula yang hanya mengenakan kaus omblong dan celana boxer. Yang terakhir ini tak peduli apa pun, selain untuk kepentingan main PUBG, ML atau Free Fire sambil misuh-misuh.

Yang ingin saya katakan, stigma buruk yang tertanam selama ini sudah barang tentu harus dirubah. Sangat tidak mungkin sekali jika mahasiswa harus selalu bersembunyi di balik meja kampus. Mereka harus mencari ruang-ruang lain di luar gedung universitas untuk mendapatkan pengalaman kerja. Syukur-syukur kalau mendapat ilmu yang bisa diperoleh dari orang-orang sekitar. Mulai dari sesama mahasiswa dari kampus lain, dosen, pengacara, pejabat pemerintah, santri, dan masih banyak lagi yang berpotensi berkumpul dalam satu waktu di warung kopi.

Berlama-lama di warung kopi bukan pekerjaan yang sia-sia. Menjadi seorang pengaduk kopi adalah belajar mengharmonisasi kehidupan.

Komentar

News Feed