oleh

Melepaskan Masa Lalu Menyambut Tahun Baru 2020

-Kolom-257 views

Hanya tingggal menghitung hari bahkan jam menuju tahun 2020. Sebentar lagi tahun 2019 jadi kenangan. Ada banyak hal yang tertinggal, tersisa, yang lambat laun terpaksa harus dilupakan. Artinya, sebentar lagi, tak lama lagi, setiap yang terjadi di tahun ini akan masuk ke dalam laci kenangan.

Anda tahu apa yang menakutkan dari hujan menurut Latif Fianto dalam novelnya Batas Sepasang Kekasih? Yang menakutkan dari hujan adalah genangan yang disisakannya. Kalau Anda jalan-jalan di musim hujan, pergi jalan kaki ke warung dekat rumah seusai turun hujan, Anda akan sangat mungkin khawatir kecipratan genangan air saat seseorang melintas mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Apalagi yang menakutkan dari genangan air hujan?

Tentu Anda hanya perlu pulang ke rumah dan mencuci baju yang Anda kenakan, meski ada beberapa baju yang setelah terkena cipratan sulit bersih kembali, seperti kata-kata, kendi yang sudah pecah tak akan pernah bisa kembali seperti semula. Dalam kasus ini, ada beberapa baju yang begitu susah untuk dibersihkan. Ada pula yang bisa dibersihkan tanpa harus merendamnya dengan detergen. Artinya, kadar menakutkan dari genangan dipengaruhi dua hal, antara apakah baju yang dikenakan begitu mudah dan rapuh menerima hal-hal tidak menyenangkan dari genangan dan atau karena memang cipratan  genangan itu sendiri yang begitu mengerikan.

Jika Anda tidak bisa melupakan fakta-fakta masa lalu, Anda harus ingat dua hal ini. Satu, Anda begitu rapuh untuk hijrah. Dua, fakta-fakta masa lalu itu begitu besar dan penting. Tetapi, permasalahan yang kedua bersumber dan faktor yang pertama. Jadi, jika Anda belum bisa melepaskan hal-hal yang seharusnya sudah saatnya dilepaskan, Anda harus minum jamu yang mampu membuat jiwa Anda lebih kuat menerima kenyataan.

Saya tidak sedang membimbing Anda pada pembicaraan membosankan tentang seseorang yang masih terjebak di ruang gelap masa lalu dan susah sekali menemukan setitik cahaya untuk lepas daripadanya. Adalah hal wajar bila sebuah kisah sangat sulit dibenamkan ke dasar lautan, karena hanya hal-hal remeh saja yang bisa dengan cepat dilupakan. Tetapi berlarut-larut sambil berapologi “menunggu jandanya” adalah sikap yang kurang bijak, sebab kesuksesan adalah ketika Anda dengan cepat mampu move on dari keadaan Anda sekarang, buruk atau baik sekalipun.

Seperti pengantar tulisan ini, apa-apa yang telah dan akan berlalu, adalah sebuah keniscayaan. Manusia memiliki kecenderungan untuk mengingat hal-hal yang terlewat dan merenungkannya, kalau bukan menyesali dan meratapinya. Beberapa bahkan mengandai-andai: kalau seandainya, seumpama, kalau saja, dulu saya tidak meninggalkamu demi wanita lain, saya mencintaimu lebih dari sekadar cinta pada diri sendiri, saya belajar lebih giat, pergi ke perpustakaan setiap minggu, membaca buku lebih keras dari sekadar yang ada di bayangan, dan sebagainya.

Beberapa orang meratap dan berharap waktu dapat diulang. Menyesali beberapa hal yang dilakukannya di masa lalu dan gagal, seolah mereka memang dilahirkan untuk itu. Begitu pun dengan akan berakhir dan datangnya tahun.

Setiap ada yang pergi pasti akan ada yang datang. Kelahiran dan kematian. Kedatangan dan kepulangan. Pertemuan dan perpisahan. Patah dan tumbuh. Orang-orang bijak selalu bilang, setiap hal diciptakan dengan dua sisi.

Apa pun itu, setiap yang pergi sudah pasti tidak akan kembali. Bisa kembali, tetapi sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Apa yang sudah pergi hanya bahan untuk merefleksikan diri tentang beberapa hal untuk melangkah lebih jauh dan progresif. Ia mungkin sekadar sejarah kehidupan, tetapi ia juga sangat berperan dalam menyusun dan membentuk cara berpikir seseorang tentang masa depan. Apa yang bisa kita lakukan tanpa fakta-fakta masa lalu? History is a people’s memory, and without a memory, man is demoted to the lower animals, kata Malcolm X, seorang aktivis hak asasi manusia.

Kendati seluruh kehidupan yang terjadi di tahun 2019 sebentar lagi masuk ke dalam laci kenangan, tetapi jangan sampai seluruh berkas itu hanya berdebu dan menjadi penyesak ruang kehidupan. Ia sangat pantas untuk dijadikan bahan evalusi, refleksi penting untuk melepas yang lalu dan menyambut yang akan datang. Anda hanya akan mampu menerima dan mengkonfirmasi masa kini dan yang akan datang bila Anda sudah mampu berdamai dengan diri dan masa lalu.

Beberapa orang merasa tidak bahagia karena mereka hidup di masa lalu atau di masa depan. Hidup di masa depan berarti tinggal di langit, sedangkan hidup di masa lalu berarti sedang berjuang di dasar bumi. Mengkonfirmasi setiap sesuatu yang tidak di tangan menjadikan seseorang tidak bahagia. Tidak menerima kenyataan dengan baik membuat seseorang menikung di ruang-ruang gelap dan itu menjadikan kenyataan pecah berkeping-keping. Seluruh usaha berakhir di hutan antah berantah lantaran tak mampu menerima yang kini.

Ujung tahun 2019 dan akan datangnya tahun 2020 mengajarkan demikian. Setidaknya itu yang perlu direfleksikan. Maka, mari jalan-jalan menikmati suasana baru. Pergi ke kafe, gunung, lembah, pantai dan tempat-tempat lainnya untuk melihat bahwa ada yang lebih luas dari sekadar apa-apa yang sudah dan akan beringsut ke punggung. Itu akan membuka katup pikiran bahwa ada banyak hal indah yang perlu kita nikmati dan raih ketimbang meratapi perempuan atau laki-laki yang pernah dipuja-puji.

Hal-hal indah yang disuguhkan semesta semestinya menjadi sekolong cahaya yang mengantarkan pada kesadaran bahwa ada banyak hal di dunia ini yang belum kita telusuri. Barangkali, di tahun 2019, ada sebagian orang yang gagal mendekati orang yang disukai atau bahkan gagal meminangnya jadi seorang istri. Sebagian lagi gagal menjadi anggota dewan, kepala daerah, lurah, lalu beralih haluan membuka kedai makan, warung kopi, dan menjadi imam yang baik bagi dirinya sendiri.

Semua itu biasa. Tak perlu meratap apalagi mendendam sampai tujuh turunan. Dendam tak akan membuat diri ketawa apalagi bahagia. Jika di antara kita masih ada yang menaruh sakit hati atas hal-hal yang pernah terjadi di tahun 2019, berarti kita belum selesai dengan diri sendiri. Dan kita tidak pantas memasuki gerbang tahun 2020, karena seseorang yang belum mampu melepaskan sesuatu yang sudah terlewat akan menjadi pemburu paling kejam sejagad raya. Pemburu kejam yang patut dikasihani.

Oleh karenanya, menyambut tahun baru 2020 harus dilakukan dengan menyingkirkan, kalau perlu melepaskan meski tidak bisa melupakan sepenuhnya, terlebih dahulu pecahan-pecahan kaca di dada. Walau bagaimanapun, masa depan itu terang, manis dan penuh harapan. Ia tidak boleh dirusak dengan sisa-sisa kenangan yang menyakitkan.

Mari bersulang atas nama masa depan. Secangkir kopi dan senyum seseorang yang kita cintai sudah cukup untuk menyambut dan merayakannya. Apalagi kalau melakukannya sambil membahas rencana-rencana pernikahan dan janji sehidup semati.

Penulis bermukim di bumi

Komentar

News Feed