oleh

Melihat Peluang dan Ancaman Pasca Kembali Dibukanya Moda Transportasi

Tribunnews.com

Semula, pemerintah memutuskan menghentikan sementara moda transportasi umum darat, laut maupun udara guna menekan pelebaran tersebarnya virus Corona. Kini Pemerintah melalui Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dengan sigap memutuskan untuk membuka lagi akses transportasi umum, sejak kamis (7/5/2020) kemarin. Kebijakan ini dijabarkan dalam Permenhub Nomor 25 Tahun 2020 tentang pengendalian transportasi selama mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah.

Kriteria penumpang transportasi umum yang boleh bepergian adalah perjalanan orang dengan keperluan bisnis yang esensial dan kepentingan kenegaraan. Tak hanya itu, Repritasi Pekerja Migran Indonesia, mahasiswa luar negeri serta pemulangan orang dengan alasan khusus oleh pemerintah, juga diperbolehkan. Meski mendapatkan lampu hijau, para penumpang yang melakukan mobilitas, ditekan dengan kualifikasi standar khusus. Mulai dari cek kesehatan, menggunakan surat keterangan izin pemberangkatan, surat kesehatan dan prosedural lainnya.

Namun, bila kita analisa integritas pemerintah dalam proses pengambilan keputusan ini terbilang tak berpendirian. Memang ada alasan mengemuka, perihal kebijakan yang inkonsistensi ini. Pasalnya,  kebijakan sebelumnya menghendaki akses mobilitas sosial melalui moda transportasi umum ditutup agar mata rantai penyebaran pandemi segera diputus secara cepat. Tetapi alasan itu seoalah sirna setelah kebijakan mengalami perombakan. Yang jelas, ekonomilah yang menjadi dalih di balik kebijakan itu dirubah.

Hal demikian dipertegas oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, pelonggaran kebijakan pengoperasian moda transportasi ini telah mempertimbangkan keberlanjutan perekonomian nasional.

Sementara itu, sebagian menganggap, jika mode transportasi umum dibuka, maka eskalasi virus corona kian meningkat. Mengingat, pola kontasinasi virus akan melonjak drastis, manakala manusia saling berdekatan antara satu dengan lain. Dengan begitu, penumpang yang bepergian menggunakan transportasi umum  sangat rentan terpapar virus Corona. Senada dengan anggapan itu, Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MIT), Agus Taufiq Mulyono, menilai, kegiatan transportasi menjadi media penularan Covid-19 paling berpengaruh, karena membawa perpindahan manusia dari zona merah ke daerah yang dituju.

Perkara itu kemudian berujung pada prediksi sosial. Mungkinkah kebijakan pemerintah membuka moda transportasi umum untuk bepergian di tengah pandemi yang tak kunjung selesai ini akan membawa dampak  perekonomian nasional lebih baik dan menekan angka persebaran Covid-19, ataukah justru memperparah keadaan ekonomi plus membabat nyawa manusia kian meningkat tak terelakan. Kita tunggu saja, entah kapan. Cepat atau lambat jawabannya akan mencuat ke permukaan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed