oleh

Memantau Keributan

-Kolom-266 views

Foto: Ilustrasi keributan (Jawapos.com)

Kapan terakhir kali Anda bangun di pagi hari? Atau Anda memang tidak pernah bangun pagi. Entah hanya sekedar bangun, selepas itu Anda akan tertidur kembali. Atau Anda bangun untuk melakukan aktivitas yang lain.

Jika Anda bisa bangun di pagi hari Anda akan menjumpai berbagai macam hal yang sebelumnya Anda belum temukan. Mulai dari emak-emak yang bertengkar dengan tukang sayur, sampai di mana Anda akan menyaksikan secara live percekcokan antara suami istri yang berakhir dengan perceraian—suami ketahuan tidur di rumah selingkuhannya.

Jelas, keributan itu hanya bisa ditemui saat pagi hari saja. Malamnya tak ada yang begituan. Paling-paling Anda hanya akan menemui getar-getir para jomblo yang sok kuat dengan kesendiriannya—berontak dengan kepunyaannya. Kenapa, Anda tersinggung?

Belakangan, keributan semakin menjadi-jadi. Tidak hanya emak­-emak    yang tengkar dengan tukang sayur, ataupun para suami hidung belang yang membuat rumah tangga berantakan. Tapi, keributan kian gencar mulai dari persoalan hidup per individu, organisasi, kelompok, hingga seorang pemimpin yang tak sesuai harapan.

Lantas persoalan itu sampai pada ranah perpecahan, ego, meng“Aku”kan. Dan pada akhirnya membuat keributan—ribut pasang status alay, omongan, cibir-cibiran, hingga sampai saling hujat-menghujat.

Alih-alih sebagai bentuk balas dendam atas kekecewaan tempo dulu yang tak berkesudahan, atau sebuah kegelisahan atas kekalahan yang disorakkan, ataupun kemenangan yang dirayakan dengan pesta-pesta kesombongan.

Ingat, kebencian hanya terdapat pada orang-orang yang tidak terdidik. Sekalipun kepintaran sudah melampaui batas. Bukankah Anda orang-orang terdidik dan juga pilihan. Semenjak Anda masih menjadi spermatozoa Anda sudah menjadi makhluk pilihan. Kemudian dipercaya untuk hidup. Jika Anda masih hidup, berarti masih ada misi yang perlu Anda selesaikan. Bukan malah mengurusi hal-hal yang begituan, mencerminkan Anda bukan makhluk terdidik maupun pilihan.

Seperti yang telah terjadi, hemat saya sebuah keributan berawal dari sebuah perbedaan pendapat, pilihan, atau bahkan perbedaan masalah hati. Misal, dalam kasus asmara, dua hati yang tak bisa disatukan, akan melahirkan pertikaian yang tak berkesudahan. Akibatnya, dipaksa berakhir kerena sudah tidak adanya kecocokan.

Baru-baru ini ada sebuah keributan yang sedikit mengusik pikiran saya. Di mana ada titisan petruk sengaja mengikuti kontestasi pencarian bakat. Hadiahnya sebuah kotak pandora yang hanya boleh dibuka ketika sudah resmi dinyatakan menang.

Berbagai macam cara, strategi, hingga puja-puja telah dilakukan oleh pasukan petruk untuk bisa memenangkan. Sebentar kemudian, mereka dinyatakan menang telak setelah lawan tak sanggup menandingi kekuatannya.

Maka selanjutnya tibalah memberian hadiah. Kotak pandora segera dibuka. Kegembiraan terpancar pada wajah mereka. Namun mereka lupa bahwa tidak ada yang tahu sama sekali apa isi di dalamnya. Setelah dibuka mereka hanya menemukan selembar kertas bertuliskan “Selamat Anda menang, dan kini Anda pewaris tunggal sebuah kutukan masa lalu tentang dosa-dosa orang-orang terdahulu.”

Kini, pasukan petruk menghilang satu per satu setelah mengetahui hadiahnya hanya berupa kutukan masa lalu. Mereka menyisakan titisannya sendirian dan tidak tahu harus dikemanakan. Sembari berkata “Saya tidak ikutan-ikutan, tugasku hanya menyukseskan kemenangan.”

Soal keributan di atas kita dapat memetik hikmahnya bahwa kemenangan bukan hanya tentang kesenangan, namun penderitaan yang baru saja dimulai. “Selamat Menderita”, itu ucapan Gus Mus kepada orang-orang yang memenangkan kontestasi, entah pencarian bakat atau kemenangan kemenangan lainnya.  

Terlepas dari itu semua ada sebuah pola yang cukup menarik dari setiap keributan yang sampai ke ranah perpecahan. Ini bersumber dari sepasang kekasih yang harus kandas karena sebuah kesalahan pola. Begini, orang yang sering mengomentari, mengkritisi, dan bahkan sampai men-judge bahwa pihak tertentulah yang tidak tahu apa-apa atau semacamnya. Sebetulnya, orang yang ngomong begitu yang sebenarnya demikian.

Misal, Anda menuduh seorang teman sering menonton film porno. Sejujurnya Anda sendiri yang melakukannya. Betul!

Sama halnya dalam pasangan. Anda menuduh bahwa pasangan Anda yang selingkuh, telepon-teleponan, mesra-mesraan dengan orang lain. Sejatinya Anda hanya ingin menutupi kebiadaban Anda yang sudah terlebih dahulu melakukan itu. Sampai di sini paham?.

Terakhir, ada kata-kata yang patut kita renungkan dari, KH. Said Aqil Siradj, bahwa “Kita” hanyalah orang biasa dalam pandangan orang yang tidak mengenal kita. “Kita” juga akan terlihat menarik dalam pandangan orang yang telah memahami kita, dan juga “kita” akan istimewa dalam pandangan orang-orang yang mencintai kita.

Tentu, tak usah risau atas kicauan orang-orang yang menilai Anda. Begitupun Anda, tidak usah merasa paling benar ketika sedang ada keributan terjadi.

Komentar

News Feed