oleh

MEMBACA, CIUM TANGAN DAN RUANG KOSONG

Oleh: Ach Dhofir Zuhry*

Indotribun.id- Sekali waktu apakah Anda pernah berobat ke dokter, minimal dukun? Pernahkah Anda mencium tangan seorang ulama besar, pemimpin spiritual atau antri berebut tanda tangan seorang tokoh idola?

Masihkah Anda rajin ke Gereja, Kelenteng dan Sinagoga seandainya seluruh penganut agama tiba-tiba menghancurkan agama? Adakah fakir-miskin yang Anda layani sepenuh hati sembari berterima kasih kepada mereka?

Sederet pertanyaan di atas bisa kita pertajam-perdalam dengan: Jika Anda sakit dan lalu berobat ke dokter, siapakah yang Anda datangi? Jika Anda datang dan rela antri berdesakan untuk berharap berkah dari pemimpin spiritual, siapakah yang Anda datangi? Siapakah yang Anda mintai tanda tangan dan foto bersama itu?

Mengapa Anda masih ke Pura, Pagoda, Masjid, padahal Tuhan dan para Dewa tidak di sana, siapakah sebenarnya yang Anda cari? Siapakah fakir-miskin dan yatim-piatu yang Anda layani itu? Siapakah mereka semua dan mengapa kita kerap kali “terjebak” untuk terus kecanduan mendatangi-menghayati mereka, tak sedikit di antara kita yang rela mengorbankan keringat, darah, dan air mata semata demi mencium tangan mereka dan berebut antri ke pusara-pesarean mereka?

Pada paragraf pertama Anda cuma membaca, sekadar reading, tak lebih dari “hanya”. Pertanyaan-pertanyaan itu menguap begitu saja. Akan tetapi, setelah Anda membaca paragraf kedua, mulailah Anda salah baca (misreading). Cirinya? Anda mulai berpikir, merenung, sangsi dan lalu bertanya-tanya—otomatis Anda menjadi filosof dadakan. Fase ini, Anda mulai memperjuangkan akal sehat Anda.

Kini, setelah mereka-reka jawaban, Anda sudah mengantongi beberapa jawaban. Sayangnya, setiap kali Anda menjawab, selalu muncul pertanyaan susulan. Dan ini tidak hanya sekali-sejurus, tetapi berulang tak putus-putus.

Jawaban tak sungguh-sungguh menjawab, pertanyaan tak pernah selesai. Demikianlah pengetahuan digagas, menapak-tilas, dan lalu membekas. Pengetahuan terus menjelang, kebenaran senantiasa membelum.

Mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan kampungan pada paragraf kedua itu dengan jawaban murahan. Yakni, kita jawab dengan sebuah pengantar yang juga pertanyaan: Jika Anda membaca buku, apakah sejatinya yang Anda baca?

Ketika Anda membaca sejarah para tokoh dunia atau bahkan faylasuf, apakah sesungguhnya yang sedang Anda baca?

Manakala Anda sedang membaca karya sastra, literatur ilmiah, menyaksikan pertunjukan drama, bahkan membaca Kitab Suci, apakah sebenarnya yang sedang Anda baca-saksikan-pelajari? Apakah inti? Manakah substansi?

Diam-diam, Anda kini telah menjadi filsuf. Lamat-lamat Anda telah mengernyitkan dahi untuk mempersoalkan itu lebih dalam, sampai ke jantung persoalan. Anda kini berfilsafat, sampai ke jantung filsafat. Cirinya? Anda berusaha mencari dan memberi makna!

Ada transformasi dan transisi dari reading menuju misreading, dari misreading menuju reading berikutnya, dari reading berikutnya ke misreading selanjutnya, begitu seterus-terusnya. Karena tak ingin salah mengerti, maka harus membaca lagi, dan terus membaca, membaca sambil berkaca pada isi yang dibaca.

Belum cukup, perlu juga mengkaji literatur yang lain, membuka cakrawala yang lain, menyingkap khazanah yang lain. Tetiba, Anda telah mendapati diri Anda sama sekali “lain”, bukan diri yang kemarin. Anda kini manusia baru. Anda telah mengalami apa yang dikatakan filsuf Mulla Shadra sebagai ittihad al-‘aqil wa al-ma’qul (kesatuan antara subyek yang berpikir dengan obyek yang dipikirkan). Anda telah mengalami harakah jauhariyyah atau gerak substantif dalam diri yang paling diri, yang hanya terdengar oleh sunyi.

Lanskap ilmu Manthiq menjabarkan bahwa segala sesuatu tergantung premisnya, tergantung pengantar (muqaddimah)nya. Bahkan, dalam silogisme (qiyas), dalam teknik inferensi, jika premis salah, pasti kesimpulan akan salah.

Pun juga dalam membaca, membaca secara makroskopis sering menjebak pembaca pada salah baca, dan pasti salah mengerti, akan tetapi membaca secara mikroskopis, justru melahirkan gelombang tanya yang tak kunjung reda. Lantas, sekarang harus bagaimana?

Mari pelan-pelan kita kuliti pertanyaan-pertanyaan lucu dan lugu pada paragraf-paragraf sebelumnya secara dialektis-demonstratif. Apa sebab?

Pemikiran seharusnya mendahului perbuatan. Tindakan adalah objektivasi pemikiran, yakni tahap di mana aktivitas akal budi manusia menghasilkan realitas objektif yang berada di luar dirinya.

Secara gampang, apa obyektivasi rindu? bertemu! Tidak cukup, harus berjumpa, jasmani dan rohani—mind, body and soul. Ah, rindu teramat purba untuk diobati oleh sekadar temu dan sua. Lantas, apa tali-temali obyektivasi dengan pertanyaan-pertanyaan di awal tulisan ini?

Nah, jika Anda sakit dan pergi ke dukun atau dokter, Anda sejatinya sedang mendatangi rasa sakit dan penyakit Anda sendiri dengan harapan dan keyakinan akan sembuh. Praktis, Anda mendatangi kesembuhan Anda sendiri.

Apabila Anda berebut antri dalam kerumunan massa yang berjibun demi mencium tangan seorang guru spiritual, Anda sejatinya sedang mendatangi kerinduan Anda sendiri yang kerontang dan sepi.

Tatkala Anda mendatangi tokoh idola, hakikatnya Anda sedang menjumpai kesepian Anda sendiri; menjumpai Tuhan di gereja, sejatinya menjumpai “ruang kosong” dalam diri, sebab Tuhan jauh telah bersemayam di kedalaman nurani dan palung sukma yang paling dalam.

Melayani fakir-miskin, yatim-piatu, kaum tertindas adalah melayani kemuliaan kita sendiri, menjunjung tinggi kemanusiaan kita sendiri. Ketika Anda pergi ke sekolah atau Pesantren untuk belajar, sejatinya Anda sedang mendatangi kebodohan Anda sendiri, kerinduan Anda akan ilmu, kesunyian Anda akan pengetahuan, kearifan dan kedamaian.

Merindukan Tuhan, para Nabi, para kekasih, hakikatnya adalah menjumpai “ruang kosong” dalam diri, yang obyektivasinya bisa kita dapati dalam sekian bentuk dan aksen, dalam sekian lekuk dan fragmen. Pendek kata, apabila Anda mencintai seseorang, sesungguhnya Anda sedang mencintai diri Anda sendiri dalam dirinya.

Kembali ke buku dan kitab-kitab klasik. Membaca kitab kuning, sowan dan cium tangan pada sosok saleh dan santun adalah membaca seluruh hidup. Memperbaiki “bacaan” adalah memperbaiki seluruh korpus kehidupan. Mengapa?

Anda tidak pernah membaca buku, justru buku-bukulah yang mengeja setiap jengkal hidup Anda. Anda tidak pernah menulis puisi dan karya-karya lainnya. Puisi dan karya-karya ilmiah itulah yang justru menulis dirinya sendiri melalui diri Anda.

Jadi, membaca buku-buku sejarah atau pemikiran para tokoh adalah membaca hidup Anda sendiri. Para faylasuf tidak sedang bercerita mengenai dunia mereka, mereka justru bercerita tentang dunia Anda, sebab Anda adalah filsuf bagi hidup Anda sendiri, senyampang Anda memberi makna. Selamat! O ya kopi saya mana?

_____

*Penulis adalah pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah dan pendiri STF Al-Farabi Kepanjen Malang, penulis buku best seller PERADABAN SARUNG (Veni, Vidi, Santri), KONDOM GERGAJI dan NABI MUHAMMAD BUKAN ORANG ARAB

Komentar