oleh

Membaca Tanpa Berharap Apa-Apa

Suatu upaya membaca tanpa berharap apa-apa.

Beberapa tahun lalu seorang kawan pernah berkata begini: untuk apa saya baca buku kalau di masa depan saya tidak tahu apakah saya menjadi guru atau tidak. Seorang kawan yang saya hormati karena pendidikannya yang tinggi—dan tentu saja daya kritisnya yang sangat mengagumkan—bisa berkata begitu. Kenyataan yang benar-benar di luar ekspektasi.

Baginya, seolah-olah membaca hanya bagi mereka yang ingin menjadi guru, pendidik atau semacamnya—profesi yang secara fisik bersinggungan dengan kegiatan belajar. Ini seakan mengatakan bahwa membaca tidak cukup wajib bagi mereka yang di masa depan tidak akan terjun ke dunia bernama pendidikan. Apakah sesempit itu?

Saya kira tidak. Seseorang memiliki banyak alasan untuk tidak membaca. Tetapi membaca atau tidak sangat tidak berhubungan dengan apakah di masa depan kita akan menjadi guru, tukang bangunan, pengangguran tingkat elit yang kerjaannya nongkrong di warung kopi sambil menceramahi mahasiswa tingkat pertama, atau karyawan sebuah restoran makanan cepat saji.

Sebenarnya, membaca ya membaca saja. Tak perlu memikirkan apakah esok buku yang dibaca akan memberikan kontribusi yang besar pada bertambahnya pengetahuan atau bahkan pada pendapatan secara finansial. Terlalu banyak berharap terutama kepada manusia pada hakikatnya akan mengantarkan kita pada kekecewaan. Ada baiknya kita mengosongkan nafsu akan timbal balik yang datang dari buku yang dibaca, banyak orang yang sudah dibantu, atau seorang gadis yang diam-diam disuka.

Membaca buku adalah bukti cinta kita akan pengetahuan, dan tentu saja kepada diri sendiri. Cinta yang dibicarakan akan mengurangi kesakralan, sama seperti pemberian yang diungkit-ungkit tidak akan menambah apa-apa selain keinginan untuk dipuja-puji. Pada akhirnya hanya tinggal puing-puing. Mempertanyakan apa yang diperoleh setelah membaca dua-tiga lembar halaman buku adalah wujud dari kecemasan-kecemasan yang berlebih akan sesuatu di luar diri kita.

Beberapa orang khawatir setelah membaca tidak sampai setengah halaman mereka tidak dapat mengingat apa-apa. Orang-orang yang demikian berpikir bahwa seusai membaca harusnya mereka dapat mengingat dengan baik semua hal dari buku itu, dari A sampai Z.  Dan sudah pasti, mereka mengeluh hingga berbusa bahwa mereka tidak mengingat sama sekali apa yang baru saja dilahap. Keluhan-keluhan itu sangat jelas mengabarkan perasaan putus asa. Sesuatu yang menurut saya tidak perlu, karena perjalanan membaca mereka belum sampai seujung kuku.

Saya tidak sedang memberikan kuliah tentang bagaimana seseorang seharusnya membaca meskipun disadari betul masa depan belum menampakkan bayangan akan seperti apa dirinya kelak. Namun yang pasti, begitu banyak orang mengeluh dengan alasan tidak memiliki waktu untuk membaca. Beberapa yang lain mengatakan argumentasi penuh angka 5 tentang bagaimana mereka sebenarnya ingin membaca tapi selalu kalah oleh gadget di tangan, kantuk yang tiba-tiba menggelantungi kelopak mata, atau telepon dari pacar yang sangat sayang untuk dilewatkan—alasan yang terakhir tak banyak yang bisa mengungkapkannya secara jujur. Beberapa lainnya lagi gemar membawa buku ke mana saja, mengabadikannya melalui kemera, mengunggahnya di Intagram dengan sedikit kata-kata yang dikutip dari halaman tertentu. Setelahnya, buku itu masuk kembali ke dalam tas atau terselip di antara buku-buku lain di atas rak.

Hal ini tak bisa ditampik, karena pada dasarnya apa pun yang ada di sekeliling kita saat ini adalah apa yang kemudian disebut sebagai sebuah ontologi citraan. Tak ada kedalaman pada abad citraan, karena yang ada hanya kehampaan nilai. Tentu saja ada lebih banyak orang yang masih bersungguh-sungguh menyusuri setiap huruf dalam buku ketimbang hanya menjadikannya sebagai objek atau tameng membentuk citra diri yang, kutu buku, barangkali.

Saya mulai membaca buku sejak duduk di bangku SD. Tapi, saya baru menyadari bahwa saya sedang menggandrungi kegiatan ini saat duduk di bangku SMP. Saya berlomba dengan kawan sekamar di asrama untuk membaca buku sejarah kebudayaan Islam atau Aqidah Akhlak agar kami diganjar peringkat terbaik di akhir semester. Tahun demi tahun berlalu, dan saya masih terus membaca, meskipun saat itu saya tidak tahu apakah buku-buku itu adalah buku-buku yang saya butuhkan atau bukan. Di tahun-tahun itu saya hanya membaca tanpa punya pikiran apakah buku itu berdampak positif terhadap masa depan saya atau apakah mereka dapat memberikan kontribusi nyata terhadap persentase kekerenan saya. Walau demikian saat itu saya sudah paham, kutu buku adalah predikat penuh gengsi bagi seseorang yang masih gencar-gencarnya mencari perhatian lawan jenis.

Di dunia ini banyak pengalaman-pengalaman unik dalam membaca. Seseorang boleh jadi mampu membaca sebuah novel dengan tebal 400 halaman hanya dalam waktu satu malam. Dimulai habis Isya dan kelar beberapa menit menjelang Shubuh. Kemungkinan juga, membaca—terutama kisah-kisah tertentu—membuat seseorang menangis tanpa merasa tahu apa yang perlu ditangisi. Pengalaman-pengalaman yang sangat mungkin untuk terjadi, kecuali, ya kecuali, bagi mereka yang membaca sampul depan dan belakangnya saja, dua sampai tiga halaman bab pertama, lalu melakukan presentasi di kedai-kedai kopi seolah-olah sudah khatam buku yang ditentengnya. Yang terakhir juga kejadian yang sangat mungkin.   

Tiga semester setelah Soeharto lengser dari kursi presiden yang didudukinya selama 32 tahun—waktu yang cukup lama bagi seorang presiden dan karena itu pemerintahannya disebut sebagai rezim represif dengan beberapa alasan lain yang masuk akal, diktator, fasis—saya bertemu dan mengenal seorang kawan bernama Suri, yang kemudian kerap mengajak saya pergi ke toko buku. Meskipun tidak membawa satu buku pun ke kontrakan, paling tidak kami tahu buku-buku terbitan terbaru.

Melalui Suri—kawan baru yang mendadak menjadi akrab karena memiliki frekuensi hobi yang nyaris sama dan saya yakin namanya masih cukup asing, jadi jangan coba-coba untuk menanyakannya kepada sembarang orang yang ditemui—saya baru tahu kalau Indonesia punya penulis-penulis sekaliber Ahmad Tohari, Budi Darma, dan nama-nama beken lain yang semasa menggandrungi novel-novel populer saya belum pernah mendengar nama mereka. Meloncat ke luar negeri saya juga mulai mengenal nama-nama semacam Charles Dickens dan Noam Chomski. Baru setelah itu saya mencari-cari sendiri penulis-penulis mana saja yang ingin saya baca karyanya.

Sebenarnya, sebelum bertemu Suri saya sudah mengenal sedikit dari mereka, terutama penulis-penulis yang kerap nongol di koran saban minggu. Ini terjadi berkat pencerahan dari seorang kawan lain yang lebih dulu mengenalkan saya pada cerpen-cerpen koran daripada novel-novel sastra yang nangkring di rak buku Gramedia atau Togamas. Tentang kawan saya yang satu ini kalian bisa menanyakannya ke Mbah Google atau kepada mereka yang mencintai sastra terutama puisi. Subaidi Pratama—nama kawan saya ini—akan muncul gagah dengan beragam puisi-puisi yang sudah ditulisnya. Berkat cacian parangnya pula—dan beberapa kawan lain di Komunitas Malam Reboan—cerpen-cerpen saya dapat mengisi daftar pemenang lomba dan menampakkan batang hidung di koran-koran. 

Meskipun demikian, nyatanya, pengetahuan saya tentang bidang yang saya geluti masih jauh dari dalam. Ada banyak orang yang sangat cinta akan baca buku, tapi tak pernah menampakkannya, karena sekali lagi, membicarakannya di ruang-ruang terbuka hanya akan mengurangi sakralitas, keangkeran, dan keajaiban. Mereka membuktikan kecintaan akan membaca buku dengan menuliskan saripati pemahaman dalam bentuk karya baru. 

Kembali ke tahun-tahun bersama Suri, saya cukup rajin pergi ke toko buku, meskipun cuma bisa melihat-lihat penampakan buku-buku terbitan terbaru. Saya berpegang pada suatu prinsip yang entah datang dari mana: siapa pun yang menguasai informasi maka ia dengan sangat mudah dapat menguasai gelanggang diskusi di warung-warung kopi.

Bermodal keranjingan pergi ke toko buku, saya bisa menceramahi sedikit-sedikit mereka yang duduk di depan saya, yang dengan sangat berani mengobrolkan isu-isu nasional terbaru yang sangat jauh dari jangkauan, mimpi imajiner untuk menjadi seorang pembaharu di tengah moral manusia yang semakin bobrok dari waktu ke waktu, atau sesekali tentang kebutaan akan diri sendiri.  

Saya tak punya kunci bagaimana menjadi pembaca yang baik—atau kalian harus belajar kepada mereka yang sudah punya kekasih bagaimana cara menjadi pendengar yang baik. Pada ujungnya, membaca tak perlu bernafsu. Tak perlu berharap apa-apa. Cukup lakukan dan nikmati.

Bondowoso, 2020.

Latif Fianto lahir di Sumenep. Menulis Novel “Batas Sepasang Kekasih” (Basabasi, 2018) dan Kumcer “Rumah Tanpa Tangga” (Spasi Book, 2019). Novel terbarunya “Mata yang Menyimpan Rahasia” sedang tayang di platform @Kwikku.

Tentang Penulis: Latif Fianto

Gambar Gravatar
Tinggal di Bondowoso dan Malang. Mengajar di Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Mengelola Komunitas Malam Reboan di Malang. Menulis Novel “Batas Sepasang Kekasih” (Basabasi, 2018) dan Kumcer “Rumah Tanpa Tangga” (Spasi Book, 2019).

Komentar

News Feed