oleh

Membingkai Dilema Perempuan dalam Novel I Am Sarahza

Gramedia.com

Sebenarnya aku tidak pernah menyangka akan menyelesaikan novel dengan latar belakang kehidupan berkeluarga dengan sedikit nuansa spiritual di dalamnya. Seseorang berhasil memaksaku untuk mengkhatamkan novel setebal 370-an halaman, padahal aku sudah mengatakan jika kurang menyukai jalan ceritanya ketika separuh buku saja belum berhasil aku capai. Novel ini didasarkan pada cerita nyata perjuangan seorang Hanum Salsabiela Rais, anak kedua dari Amien Rais. Sebelumnya aku sudah pernah menyaksikan film yang ternyata diadaptasi juga dari novelnya, yaitu Hanum dan Rangga, serta 99 Cahaya di Langit Eropa. Aku baru tahu jika penulisnya adalah orang yang sama.

I Am Sarahza ini menceritakan bagaimana pasang surut kehidupan Hanum dari masa-masa menyelesaikan pendidikan hingga memiliki anak. Perjuangannya bersama suami untuk mendapatkan seorang putri kecil bernama Sarahza menjadi salah satu hal yang ku kagumi dari keduanya terlebih kepada Hanum. Ia adalah sosok yang cerdas, penuh keikhlasan, dan dapat dikatakan adaptif, segala situasi yang sangat berat pada akhirnya berhasil ia hadapi.

Aku mendapati bahwa Hanum Salsabiela adalah orang yang luar biasa, meskipun (mohon maaf) pada beberapa bagian dari bab buku tersebut, aku merasa kesal sekali. Aku tidak akan membahas perjuangannya untuk mendapatkan seorang anak, sebab semua orang sudah mengetahui bahwa perjuangan kedua pasang manusia tersebut bukanlah main-main. Sepertinya disini aku akan lebih banyak bercerita tentang bagian-bagian mana saja yang membuatku merasa kesal. Tentunya, tanpa sedikitpun bermaksud untuk menghakimi.

Menjalani Pendidikan yang Tak Benar-benar Diinginkan

Pada awal buku, kita akan disuguhkan bagaimana perjuangan Hanum harus menamatkan statusnya sebagai mahasiswi kedokteran gigi yang sebenarnya tidak ia minati. Jika bukan karena orang tua serta rasa syukurnya karena diberikan rezeki bersekolah di kedokteran tinggi, ia mungkin saja akan berada pada jalur yang lebih ia minati, bekerja di TV, menjadi presenter dan reporter. Pernah ia mengatakan ingin keluar dari bidang ini, namun ibunya pada waktu itu selalu memberikan impian-impian semu yang masih abstrak bagaimana kejelasannya.

“…sepuluh tahun dari sekarang, kamu tidak akan menyesal…”

Banyak dari kita pasti pernah mengalami kondisi seperti itu, merasa salah jurusan, mempertaruhkan impian demi orang tua, hingga hidup bukan sebagai diri sendiri. Bagiku itu hal yang paling umum dan sering sekali terjadi apalagi pada mahasiswa baru. Meskipun aku ragu apakah aku pernah merasa salah jurusan atau tidak, namun aku pernah mendengar temanku yang dengan gamblang berkata bahwa seharusnya ia tidak berada dijurusan ini. Banyak yang kesal dan tak jarang merasa marah, namun tanggapan yang sering mereka dapatkan adalah kata-kata yang katanya positif, seperti “syukuri saja, rejekimu disini”. Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk “membiaskan” perasaan seseorang; menyuruhnya ikhlas dan percaya dengan garis waktu yang diberikan oleh Tuhan.

Di titik ini ketika Hanum harus melanjutkan pendidikannya sampai ia lulus, aku tidak yakin selama itu pula Hanum hadir dan menjadi dirinya sendiri, sepenuhnya.

Apinya Padam ketika Baru Saja Berhasil Menyala

Berkuliah di kedokteran gigi justru berhasil mempertemukannya dengan pasangannya, Rangga. Rangga mengerti apa sebenarnya mimpi Hanum selama ini, ia selalu hadir dan menjadi seorang support system yang baik. Sifatnya yang demikian tersebut tetap ia pertahankan meskipun ada saja cobaan yang harus menimpa mereka ketika berumah tangga. Rangga pula yang berhasil mewujudkan mimpi Hanum untuk bekerja di salah satu televisi swasta di Indonesia, yaitu TransTv. Ini adalah kejutan yang tak diduga sama sekali oleh Hanum, ia tidak tahu jika akhirnya Rangga diam-diam mendaftarkannya pada sebuah program yang mau mendidik siapapun dan dengan bacground apapun untuk bekerja di dunia pertelevisian.

Hanum adalah perempuan yang hebat, bahkan ia bisa berkembang di dunia yang selama ini ia elu-elukan. Latar belakang lulusan dokter gigi tidak menjadikan Hanum tersisihkan, ia memang sudah dianugerahi kemampuan yang luar biasa.

Layaknya sebuah novel biasanya, dalam novel ini pembaca juga disuguhi fase-fase yang kemudian memicu terjadinya konflik. Sebelum sebuah permasalahan yang lebih besar terjadi, Rangga memberikan kabar yang bisa membuat banyak perempuan berstatus istri mengalami dilema yang luar biasa. Pada sebuah pertemuan yang tidak biasa, Hanum bisa mencium gelagat aneh dari suaminya. Rangga ingin supaya mereka melakukan program untuk mempunyai keturunan. Bukan niat hati untuk menolak, namun wajar bagi Hanum saat itu ketika ingin menunda untuk tahun depan. Ada mimpi yang tetap harus Hanum capai. Sayangnya ternyata Rangga lolos beasiswa untuk melanjutkan S3 nya di Vienna. Mereka berdua berada disituasi yang serius, pasti banyak yang berfikir bahwa sepatutnya Hanum ikut dan menemani Rangga selayaknya istri harus menemani suami. Tapi mereka akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan jarak jauh.

Dalam satu sisi, Rangga menunjukkan kepada pembaca bagaimana menjadi seseorang yang bijaksana dengan tidak mengedepankan egonya sebagai seorang suami. Rangga mampu menerima keputusan yang telah mereka sepakati dan menghargai keinginan Hanum untuk tetap bekerja. Meskipun kenyataan itu membuatnya dirundung kegalauan. Sayangnya, disisi lain dalam novel dinarasikan ketika Rangga harus tinggal sendirian di Vienna dengan kondisi dapur berantakan, kasur kumal, kamar mandi bau apek yang disebabkan oleh tidak adanya Hanum disana. Bagiku ini tidak adil ketika laki-laki yang berstatus sebagai suami dinarasikan sebagai seorang yang kurang bisa mandiri sehingga butuh istri untuk membantu beres-beres rumah. Atau lagi-lagi mengidentikkan istri sebagai penguasa dapur dan penanggung jawab atas kebersihan rumah.

Ditambah lagi ketika ibu Hanum harus mengintervensi keputusan yang telah mereka berdua sepakati. Ibu Hanum memintanya untuk meninggalkan karier yang selama ini sudah terhalang karena berkuliah dibidang yang tak diminati dan menyusul Rangga. Saya merasa sedih ketika membaca percakapan mereka berdua.

“Ibuk juga sadar kamu belum selesai kuliah dokter gigi, atau kamu masih punya cita-cita jadi presenter ““tetek-bengek”” itu…”

Kurang lebih seperti itu dialog yang diucapkan ibu Hanum ketika sekuat tenaga meyakinkan Hanum untuk menjadi istri yang baik; yaitu istri yang menjadi ekor dari suaminya. Yang harus melepaskan cita-cita pribadinya, mengesampingkan keinginannya, dan mengutamakan impian dan harapan suami – keluarga.

Akhirnya, sekali lagi, jadilah Hanum sebagai perempuan yang tegar meskipun ia harus menjalani kehidupan yang awalnya sama sekali bukan pilihannya.

Sebuah Refleksi

Sama sekali aku tidak berniat mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh semua yang ada di dalam novel ini adalah tindakan yang keliru. Aku hanya mencoba untuk mengeluarkan apa yang ada dipikiranku sebagai seorang pembaca dengan keyakinan yang sedikit berbeda dengan apa yang mereka yakini. Jujur aku sedikit sakit hati dan merasa kesal ketika ada pihak-pihak yang berhasil menggoyahkan Hanum sebagai seorang yang hidup untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Sekalipun akhirnya Hanum adalah seorang istri bagi Rangga dan anak bagi orang tuanya, Hanum adalah pribadinya sendiri, dialah yang berhak atas segala keputusan yang nantinya diambil, yang telah didiskusikan terlebih dahulu. Namun nyatanya, Hanum sudah diguyahkan dengan dalih keikhlasan.

Di dalam kehidupan berumah-tangga, bagiku bukan hanya laki-laki saja yang berhak melanjutkan mimpinya, perempuan sebagai istripun berhak untuk bahagia dengan meraih mimpinya. Hanum adalah refleksi dari kehidupan seorang perempuan secara kebanyakan, dimana perempuan dituntut untuk memilih antara karir dan pekerjaan. Hal ini sempat menjadi pembahasan Najwa Sihab mengenai mengapa perempuan harus memilih? Mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik dan juga perempuan karier yang sukses tanpa harus berat sebelah. Keduanya bisa saling berjalan seimbang apabila sang suami mau diajak untuk kerjasama.

Rangga sebenarnya sudah mempunyai dasar sebagai suami yang pengertian dan bisa diajak untuk kerjasama. Bahwa keputusan istri adalah suara yang sangat layak untuk didengarkan. Seharusnya semua orang kini mulai sadar bahwa yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah kolaborasi, dimana memandang pekerjaan rumah adalah milik bersama, tidak hanya ditanggung oleh istri semata. Serta kemandirian istri secara ekonomi adalah sesuatu yang sudah sewajarnya terjadi sehingga tidak perlu suami merasa khawatir atau takut maskulinitasnya terlukai ketika istrinya bekerja dan dianggap tidak bisa membiayai keperluan istrinya. Kemandirian secara ekonomi adalah upaya perempuan menjadi manusia yang tidak bergantung dengan orang lain.

Namun tetap saja bahwa segala keputusan yang telah dipilih oleh Hanum dengan cara mengesampingkan dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang patut untuk disalahkan. Menghargai segala keputusan yang diambil oleh Hanum bukanlah sesuatu yang keliru. Meskipun berbeda pandangan, setiap orang bisa mengambil jalan kebahagiannya masing-masing. Lagipula Hanum adalah sosok yang berani untuk ikhlas dan beruntung suaminya bukanlah tipe-tipe lelaki patriarkis yang hanya memandang Hanum sebagai objek. Membangun relasi dengan kolaborasi mengantarkan mereka kepada karya-karya yang luar biasa, walaupun tetap saja ada beberapa poin yang aku kurang sepakat seperti yang sudah ku singgung sebelumnya.

Jalan keikhlasan yang diambil oleh Hanum sebagai istri yang diwacanakan oleh ibu dan masyarakat membuahkan pandangan baru yang tetap tidak bisa aku pahami.

                        Penulis merupakan Mahasiswa Antropologi di Universitas Brawijaya yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Studi Mahasiswa Pengembang Penalaran (FORDI MAPELAR). Di sela kegiatan, penulis masih menyempatkan diri untuk menulis di blog pribadi, dan tertarik pada sastra, budaya, serta masih belajar mengenai isu gender.

Komentar

News Feed